woman-holding-boy-2894151 (2)
gambar koleksi Pexels

Penulis: Anny Izzatul Mujahidah

Terhitung sejak tanggal 16 Maret 2020 anak-anak di Indonesia memulai belajar di rumah ditengah pandemi Covid-19. Para guru dan murid diminta untuk tetap melakukan proses pembelajaran secara daring/online. Pemberlakuan belajar di rumah ini terasa mendadak bagi para guru, anak-anak dan orang tua murid. Sehingga mengalami berbagai kendala fasilitas untuk menyediakan pembelajaran secara online, maupun tekanan bagi anak-anak yang diberi tugas menumpuk dan orang tua yang tak menguasai materi pembelajaran sehingga kesulitan membimbing anak dalam mengerjakan tugas.
Dikutip dari republika.com seorang wali murid, Mesya mengaku stress mendampingi anak-anak belajar dirumah, dan terkadang anaknya menggunakan smartphone untuk bermain game sedangkan merasa santai dengan tugas dari sekolah. Juga kesulitan karena menggunakan bahasa Inggris sehingga harus menerjemahkan dulu melalui google translate. Wali murid lain mengeluhkan, anak-anaknya tidak memiliki smartphone masing sehingga harus menggunakan milik orang tua, jika dipakai terus menerus membuat hang. Maupun kesulitan lain seperti menertibkan anak, jika sudah masuk jam belajar dan gurunya di sekolah sudah mengingatkan untuk siap belajar. (18/03/20)
Walaupun Kemendikbud telah menyediakan berbagai platform belajar seperti Rumah Belajar, Sumber Belajar, Kelas Digital, Laboratorium Maya, dan Bank Soal. Maupun platform di luar itu seperti Zenius, Ruang Guru, Google Classroom dsb. Banyak guru belum ahli menggunakan aplikasi-aplikasi tersebut sehingga terbatas pada membagikan soal melalui grub Watsapp, maupun orang tua yang tak memiliki kemampuan untuk menggunakan aplikasi tersebut karena berbagai keterbatasan.
Disamping tugas menumpuk yang membuat stress anak-anak dan keterbatasan para guru dan orang tua, faktor yang patut diperhatikan lainnya adalah efektifitas dari pembelajaran.
Kondisi dirumah yang terasa seperti liburan memang terkadang melenakan anak-anak dari belajar dan berfikir, ditambah lagi bila tak ada tindakan orang tua mendisiplikan anak-anak, kapan jam belajar dan kapan jam bermain. Disamping itu juga kemampuan orang tua, membimbing anak dalam pembelajaran juga memiliki dampak efektifitas tersebut. Hari ini banyak orang tua yang merasa sangat kesulitan jika ditanya anak untuk membantu menjelaskan soal-soal. Bisa dibilang orang tua sangat tak siap dihadapkan kondisi seperti ini, terutama para Ibu.
Kebanyakan orang tua memindahkan beban mendidik tersebut cukup kepada guru, anak bertanya, guru menjawab. Anak bertanya pada orang tua, disuruh bertanya balik pada guru. Apakah ini kondisi yang ideal ?!
Tentu saja tidak. Belajar tak hanya sebatas mengerjakan soal, belajar tak hanya sebatas menghafal rumus. Belajar tak hanya tugas anak, tapi juga tugas orang tua. Dapat dikatakan bahwa media elektronik atau aplikasi belajar itu hanyalah sebuah fasilitas yang digunakan untuk memudahkan anak dalam belajar, tapi bukan perkara utama. Pokok utamanya adalah kemampuan orang tua dalam mendidik anak terutama Ibu yang menjadi elemen utama dalam pendidikan anak-anak. Secara historis, Ibu adalah pembangun masyarakat, menjaga generasi muda yang melahirkan para pejuang.
Diriwayatkan oleh al Hakim dalam kitab Mustadrak, Ali bin Abi Thalib r.a menafsirkan firman Allah Q.S At Tahrim ayat 6 yang artinya “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”, memiliki makna “Ajarilah diri kalian dan keluarga kalian dalam kebaikan.” Penjelasan ini jelas tak membatasi soal belajar. Seorang ayah sebagai pemimpin harus belajar untuk mendidik keluarganya sehingga mereka selamat dari api neraka, begitu juga Ibu. Sehingga orang tua dapat menjadi rujukan bagi anak-anaknya. Secara psikologis, idealnya anak-anak merasakan didikan dari ayah dan ibunya secara lengkap. Ayah menurunkan ilmu keberanian, tanggung jawab, dan kebijaksanaan. Ibu menurunkan ilmu kasih sayang, kelembutan dan pokok pendidikan itu sendiri.
Melihat kondisi dimana kaum Ibu lebih banyak diluar rumah karena harus turut menjemput rezeki ataupun karena terhasut ide-ide bahwa wanita lebih tinggi derajatnya jika bekerja oleh para feminis, tentu menjadikan fungsi ideal rumah tangga menjadi kacau balau. Perekonomian menjadi pasak utama yang terus dibangun, sedang pasak-pasak lainnya dibiarkan roboh sedikit demi sedikit. Termasuk pasak pendidikan. Pendidikan hari ini dicukupkan untuk menghasilkan para tenaga kerja. Tak sedikit lulusan sarjana menganggur karena sedikitnya lapangan kerja. Tak sedikit pula yang putus sekolah demi bekerja seadanya karena merasa sekolah hanya membuang waktu, toh lulus sekolah tak menjamin langsung kerja. Tujuan yang sengaja ditanamkan dari sekolah dan belajar adalah bekerja dan menghasilkan rupiah, semakin tinggi gelar semakin banyak rupiah yang didapat. Segalanya ditolak ukurkan pada rupiah dan menghilangkan arti penting dari pendidikan dan pembelajaran itu sendiri.
Masyarakat telah melihat ini sebagai fakta yang sulit dihindari, sudah menjadi rahasia umum bila rupiah yang menguasai secara sistemik pada berbagai elemen negara, termasuk pendidikan dan berdampak pada keluarga atau mengorbankan anak-anak. Anak-anak dipaksa mengikuti arah pendidikan berbasis rupiah jaman sekarang, disiapkan menjadi pegawai dan buruh yang dihargai lebih murah dari pada tenaga kerja asing. Ironis.
Memang tantangan yang begitu berat bagi seratus persen ibu yang memegang prinsip seratus persen guru bagi anak-anaknya. Mendidik anak-anak di jaman yang informasi begitu masif dan kadang tak terfilter dengan baik dan lingkungan yang kadang tak kondusif membutuhkan usaha lebih berat, lebih disiplin dan lebih cerdas.
Selama masa physical distanting atau “dirumah aja” kali ini justru dapat dimanfaatkan para ibu untuk menghabiskan waktu lebih banyak bersama keluarga dan anak-anak. Membayar banyak waktu bagi anak yang telah hilang di waktu-waktu sebelumnya, mencoba mendengarkan anak-anak, menghargai waktu berharga yang dapat dihabiskan bersama keluarga. Dan juga memupuk kembali jati diri seorang ibu yang juga seorang pendidik utama bagi anak-anaknya dengan menanamkan nilai-nilai utama untuk membentuk generasi berkepribadian Islami. Tak ada ikatan yang lebih murni dibandingkan ikatan ibu dan anak. Bagi anak, ibu adalah pahlawan utama dalam hidupnya. Jadi, mari ajak anak-anak untuk bersama-sama memiliki tujuan surgawi dalam hidup.