Penulis : Lilik Yani

Informasi yang disampaikan Juru Bicara penanganan virus Corona setiap hari, bagaikan berita yang menyengat oleh telinga rakyat. Semakin hari semakin meningkat saja jumlah pasien positip terinfeksi virus Corona. Bahkan untuk hari ini, Senin 6 April 2020 jumlah pertambahan korban positip mencapai lebih 200 orang. Sebuah lonjakan besar yang membutuhkan penanganan cepat dan tepat. Dari sisi para pemimpin negeri ini, apakah berita lonjakan pertambahan jumlah korban positip terinfeksi virus Corona itu, masihkah terasa biasa saja? Bagaikan berita-berita lain yang tak menggetarkan jiwa? Padahal ini kejadian menimpa saudara-saudara kita, rakyat negeri yang harus dilindungi oleh para pemimpin dan pengatur jalannya pemerintahan.

Sungguh sebuah informasi yang harus segera mendatangkan penanganan para ahli yang kompeten atas komando dari pemimpin negeri yang peduli umat. Jika tidak, jangan terkejut jika informasi selanjutnya semakin menambah jumlah korban positip virus Corona.

Seperti yang dilansir KOMPAS.TV – Juru Bicara penanganan virus Corona atau Covid-19 Achmad Yurianto menjelaskan ada penambahan kasus positif sebanyak 218 kasus pada 6 April 2020. Sehingga total kasus pasien yang positif Corona sebanyak 2.491 orang. Hal ini disampaikan Yurianto dalam konferensi pers di BNPB (6/4/2020). Sementara itu jumlah kasus sembuh dari virus Corona sebanyak 192 kasus dan ada sebanyak 209 kasus meninggal dunia.

Melihat fakta demikian mengerikan, sepertinya informasi itu bagaikan berita biasa saja. Tak menunjukkan adanya kesungguhan untuk mencari solusi yang tepat. Kematian yang juga terus bertambah setiap harinya. Puluhan jiwa melayang karena wabah pandemik, menunjukkan tidak pedulinya negara meriayah umat. Satu jiwa melayang karena kecerobohan atau kurang maksimal mengupayakan kesembuhan, rasanya dunia seisinya tidak sebanding. Betapa takutnya nanti ketika menghadap Allah dan ditanya. Sudah siapkah dengan jawaban yang memuaskan? Yang pasti di sana nanti, mulut sudah tak bisa diajak kompromi. Karena mulut akan dibungkam, sementara tangan, kaki dan organ tubuh lainnya yang akan menceritakan apa adanya tentang apa yang dilakukan. Itu baru satu jiwa, bagaimana jika puluhan jiwa setiap hari meninggal karena wabah pandemik Corona juga menuntut pertanggungjawaban? Sudah siapkah menghadapi tuntutan? Bagaimana jika pertambahan puluhan orang meninggal karena infeksi Corona itu terjadi setiap hari? Sudah berapa jiwa yang menuntut pertanggungjawaban?

Karena merasa hak untuk hidup sewajarnya tidak mereka dapatkan. Saat ada wabah pandemik Corona, negara tak menanggung kebutuhan hidupnya sehingga para pencari nafkah itu memberanikan diri keluar rumah terpapar ganasnya badai Corona. Mereka yang seharusnya stay at home bersama keluarga di rumah. Karena tak ada bahan makanan, tak mungkinlah mereka membiarkan satu persatu keluarganya mati kelaparan. Saat mereka keluar rumah, seharusnya ada APD (Alat Pelindung Diri) yang aman. Tapi mereka tak punya masker layak untuk melindungi diri. Jadilah mereka memakai masker yang sama untuk berhari-hari karena tak mampu membeli baru. Bagaimana bisa membeli masker yang harganya berlipat-lipat, sementara kebutuhan makan anak istri saja harus sekuat tenaga diupayakan.

Kondisi orang-orang sedang stay at home, hingga jarang sekali ada penumpang. Anak-anak sekolah libur, para karyawan juga banyak libur. Jadilah jalanan sepi, jarang penumpang yang naik angkot maupun gojek online. Dalam hati terkadang terlintas sebuah protes dan keluhan. Protes dan menuntut negara menjamin kebutuhan hidup keluarganya, minimal sampai kondisi membaik tak ada wabah. Tapi protes mereka tak didengarkan. Hingga berakhir dengan sebuah kepasrahan, berharap Allah datangkan pertolongan. Atau keputusan terbaik buat diri dan keluarganya.

Saat kondisi lemah kurang makan, APD tak aman, wabah semakin ganas menerjang, imunitas tubuh minimal, maka qodlo Allah menimpanya. Para pencari nafkah menderita sakit, positif terinfeksi virus Corona. Rumah sakit penuh, APD buat dokter dan para medis juga kurang. Hingga penanganan tak maksimal. Terjadi penularan lanjutan. Ada dokter dan paramedis ikut tertular. Lantas kepada siapa protes dan keluhan disampaikan? Berita kenaikan jumlah pasien terinfeksi positip dan jumlah meninggal selalu dilaporkan. Update setiap hari tanpa jeda. Tapi mengapa tak menggerakkan para penguasa di pemerintahan untuk segera action menerapkan cara jitu mengatasi wabah pandemik yang terus melonjak jumlahnya?

Mengapa masih mengandalkan caranya sendiri yang hanya mengatasi masalah partial, masalah cabang atau ranting belaka? Itu yang diulang-ulang setiap saat. Jaga jarak, stay at home, work from home, hindari keramaian, minimalisir keluar rumah kecuali urusan penting, cuci tangan dengan sabun, dan beberapa himbauan lain. Semua itu bagus jika betul-betul diterapkan. Harus ada kerjasama semua pihak. Ada sanksi bagi pihak yang melanggar, setelah sebelumnya diberikan sosialisasi yang dipahami seluruh elemen masyarakat. Juga para pemimpin yang memberi teladan. Langkah-langkah seperti itu tidak cukup hanya himbauan semata. Namanya saja himbauan. Boleh dikerjakan, boleh tidak. Apalagi fasilitas tidak ada, jaminan kebutuhan hidup tidak tersedia. Maka jangan salahkan rakyat jika tidak taat himbauan pemerintah.

Lebih dari itu semua, kunci keberhasilan mengatasi wabah pandemik adalah taat aturan Allah. Jika wabah pandemik adalah ujian dari Allah, maka kunci jawaban atas persoalan wabah adalah mohon petunjuk Allah. Jika selama ini banyak melanggar aturan Allah maka lakukan pertaubatan secara menyeluruh. Taubat secara massal, menunjukkan kesungguhan bahwa negeri tersebut ingin diangkat dari ujian wabah.Tiada yang sulit menurut Allah. Mengapa manusia tidak memohon pertolongan Allah dan mengakui kelemahannya? Jika Allah memberikan solusi atasi wabah adalah lockdown atau karantina wilayah, mengapa pemerintah menolak? Karena alasan menghambat jalannya perekonomian? Apakah nyawa rakyat harus digadaikan dengan perekonomian?

Ratusan nyawa manusia melayang karena abainya pemerintah terhadap rakyat. Masih teruskah ditambah hingga pemerintah sadar dan mengambil kebijakan yang tepat sesuai perintah Allah. Jika lokcdown solusi wabah sudah dibuktikan saat zaman Rasulullah saw mengatasi wabah kusta. Juga saat Khalifah Umar bin Khatab mengatasi wabah tha’un. Semua berhasil atas ijin Allah. Juga beberapa negara lain yang sudah berhasil menerapkan lockdown, termasuk Wuhan (China) tempat dimana virus Corona berasal.

WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) dan beberapa organisasi lain, para ahli dan tokoh, juga menyarankan Indonesian lockdown. Tetapi pemerintah masih asyik dengan kebaijakan lama, hanya berganti-ganti nama tapi maksud sama. Sudah berkali-kali uji coba tapi hasilnya bukannya tetap atau berkurang, justru naik setiap hari. Lantas masih maukah jika dipimpin oleh pemerintah seperti ini? Masih sanggupkah rakyat menjadi korban setiap saat? Itu karena pemerintah menerapkan sistem kapitalis, dimana setiap kebijakan selalu dilihat untung ruginya. Mereka tak peduli apakah rakyatnya sendiri menderita dan menjadi korban, jika tak menguntungkan akan ditinggalkan. Kemudian fokus memperhatikan siapapun yang memberi untung, walau itu musuh yang berpenampilan bak dewa penolong.

Maka dari itu, tak ada pilihan lain untuk kembali ke jalan Allah. Dengan cara mewujudkan negeri yang dipimpin oleh pemimpin amanah peduli umat. Pemimpin yang menerapkan aturan Allah di seluruh aktivitas kehidupan. Pemimpin yang mengajak ke jalan keselamatan. Pemimpin yang melibatkan Allah dalam semua urusan termasuk dalam mengatasi wabah pandemi virus Corona yang sudah menyebar ke seluruh penjuru negeri. Ketika berbagai cara sudah dicoba dan ternyata gagal, mengapa tidak bersandar pada Allah yang memberikan ujian, dan menjawab masalah sesuai kunci jawaban dari Allah? Sudah saatnya kembali pada solusi dari Allah sebelum terjadi lebih banyak korban.

Wallahu a’lam bish shawwab

Surabaya, 7 April 2020