Penulis: Nia Kurniawati Rahmat

Haifa menjatuhkan badan ke atas kasur. Ia menangis sesenggukan. Wajahnya dibenamkan ke bantal. Takut Abah dan Ambu mendengarkan tangisnya.”Abah… Kenapa Abah aku harus menikah dengan Kang Ojak? Aku ingin menolak permintaanmu tapi aku takut sakit Abah bertambah parah. Aku tahu Kang Ojak baik orangnya. Sholeh, seperti yang seringkali Abah bilang padaku. Tapi bukan Kang Ojak yang ada dalam fikiranku.Kang Ojak terlalu lugu dan sederhana. selain itu aku belum mau menikah sekarang. Haifa baru 18 tahun, baru SMA bulan lalu. Haifa ingin kuliah. Haifa ingin jadi dokter…” Berontak Haifa di dalam hati.

Abah sudah lama menderita sakit paru-paru kronis. Itu akibat dulu Abah kerja di pabrik semen selama lebih dari 15 tahun. Ambu dan anak-anak tinggal di kampung. Sebetulnya Haifa enam bersaudara. Kini mereka   empat bersaudara. Kakak tertua meninggal pada usia balita. terserang muntaber. Telat mendapatkan pertolongan medis. Saat itu belum ada Puskesmas di desa mereka. Kakak ke empat meninggal juga karena terkena DBD. Desa mereka termasuk desa yang mengalami KLB (Kejadian Luar Biasa) DBD kala itu.

Kini anak-anak Abah yang tinggal bersama Abah hanya 2 orang. Haifa dan Salma. Kamg Mukhlis dan Teh Rahma sudah berumah tangga dan tinggal berbeda kota.

Abah terpaksa bekerja  di luar Jawa demi menghidupi Ambu dan ke empat anak mereka. Dulu Kang Mukhlis sekolah di SMK. Teh Rahma msh SMP. Sementara Haifa dan Salma masih sekolah di SD. Abah bertekad agar ke empat anaknya bisa bersekolah semua. Syukur Alhamdulillah jika bisa mencapai jenjang pendidikan tinggi. Abah tidak mau anak-anaknya menjadi buruh tani seperti dirinya. Itu mengapa beliau pada akhirnya mengambil tawaran pekerjaan d sebuah pabrik semen di luar Pulau Jawa.

Pernah suatu kali Haifa di buat menangis ketika melihat Abah dan Ambu Nampak begitu lelah bekerja sebagai buruh tani dengan upah yang tidak seberapa. Itupun kerapkali tak cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka. Tapi Abah orang hebat. Tidak pernah sekalipun Abah tergiur untuk mengambil pinjaman dari bank-bank keliling yang kerap beroperasi di desa mereka secara door to door.

Awalnya Ambu pernah tergoda untuk iku-ikutan seperti warga desa lainnya, meminjam uang dari bank keliling itu. Saat itu mereka butuh uang untuk biaya sekolah Kang Mukhlis. Namun Abah melarang Ambu dengan sangat tegas. Abah lebih memilih menemui fihak sekolah untuk memberi keringanan cicilan biaya sekolah. Dan Ambu termasuk seorang istri yang taat. Larangan tegas dari Abah cukup membuat Ambu tidak berfikir lagi untuk mengambil pinjaman riba.

Kondisi keluarga yang memprihatinkan seperti inilah yang membuat Haifa bertekad untuk mencapai cita-cita tinggi. Dia ingin menjadi seorang dokter. Selain untuk mengangkat kondisi keluarganya, dia juga memiliki keinginan agar tidak ada lagi korban yang berjatuhan karena keterlambatan penanganan dari tim medis. Dia ingin menjadi dokter yang mengabdi di daerah pedesaan. Cukuplah kedua kakaknya yang harus kehilangan nyawa karena terbatasnya penyediaan tim medis di daerah terpencli.

Kembali pikiran Haifa melayang pada permintaan Abah agar ia mau dinikahi Kang Ojak selepas SMA. Dari satu sisi, alasan Abah tidak bisa dinafikan. Menurut Abah Kang Ojak itu Sholeh. Dan sholeh itu lebih dari sekedar baik. “Orang sholeh adalah orang yang taat menjalankan perintah agamanya. Ojak itu seorang santri yang tidak taklid buta. Dia itu aktivis pejuang Islam Kaaffah. Dia seorang yang bangga dengan keislamannya. Tidak banyak pemuda di kampung kita macam dia..” Begitu seloroh Abah saat itu lagi-lagi menguatkan alasannya.

“Ya Allah Abah…makin pinter dan lebih berani bersikap sejak Abah ikut kajian-kajian yang kata orang kajian radikal itu.”:Gumam Haifa dalam hati. Sementara Haifa sendiri tidak begitu memperhatikan apa aktivitas Abah akhir-akhir ini. Yang pasti Abah lebih sering membuka-buka buku dan menyebarkan tabloid Islami. Haifa malas untuk membaca buku-buku Abah. Isinya hampir semua berbau politik. Puyeng! Dia lebih baik menyelesaikan tugas-tugas dari sekolahnya dibandingkan membaca buku-buku Abah.

Haifa tidak bisa membantah kala Abah menguatkan alasan memilih Kang Ojak sebagai menantu karena Abah khawatir usianya tidak akan lama lagi. Sementara Kang Mukhlis dan Teh Rahma sudah berumah tangga dan memiliki urusan mereka sendiri. Mereka berdua adalah kakak-kakak yang baik, mereka tidak akan menolak jika dimintai tolong. Tapi Abah tidak mau membebani urusan mereka.

Selain itu, Abah sudah sangat mengenal Kang Ojak dan keluarganya. Mereka memang keluarga sederhana  tapi cukup dihormati di tengah masyarakat. Kang Ojak, meski lugu dan hanya tamat SMP, tapi dia tipe pemuda aktif dan aware pada masyarakat.

Namun bagi Haifa, Kang Ojak tetaplah Kang Ojak. Meski dia mengakui penilaian Abah pada Kang Ojak itu tidak salah, tidak pernah ada perasaan istimewa dihatinya.

Haifa seringkali mendapati Kang Ojak dengan punggung yang terbungkuk-bungkuk memanggul sekarung besar rumput untuk domba-domba peliharaannya. Atau mendapatinya sedang memacul di sawah dan pekerjaan para petani pada umumnya. Namun Haifa harus mengakui, untuk seseorang yang hanya tamatan SMP, Kang Ojak termasuk pemuda yang aktif. Hampir setiap ada kegiatan-kegiatan yang bersifat positif maka ia ada didalamnya.

Rupanya, jauh dalam relung hatinya, tersemat nama Rivaldi. Teman sekelasnya yang jago matematika dan debating. Sama seperti dirinya. Mereka juga mempunyai minat yang sama, seni rupa. Maka jadilah mereka  memilih pilihan yang sama untuk kegiatan ekstra kulikulernya yaitu seni rupa.

Pernah satu kesempatan, Rival, begitu ia biasa dipanggil, memberikan secarik kertas biru pada Haifa. begini isinya: “Haifa.. You are the best one! I think you are smart girl. We both are good enough in Math and Biology. We have the same hobby. Painting. I like smart girl just like you. How if you be my special?”

Haifa merasakan jantungnya hampir copot saat itu. Ia tidak pernah menyangka jika Rivaldi yang banyak ‘dikejar’ oleh teman-temannya justru menyatakan bahwa dia ingin menjadikan Haifa seseorang yang istimewa dihatinya. “OMG!” Begitu hatinya terpekik. Namun dua bulan berlalu sejak Rivaldi memberi secarik kertas biru itu kepadanya, Haifa belum membalasnya. Mungkin tidak akan pernah dibalasnya.Haifa takut Abah marah dan melarangnya melanjutkan kuliah jika ia tidak mentaati perintah Abah. Abah pasti akan mengatakan, “Apa yang bisa dipertanggungjawabkan seorang pemuda 18 tahun di zaman edan seperti ini?” Haifa tahu, Abah tidak akan memberikannya izin untuk pacaran. Tapi untuk menikah pun tidak mungkn dilakukannya, Jadi yang terbaik walau jelas sangat berat adalah “DELETE” Rivaldi dam hidupnya.  “He is just a friend. No More!”

Tapi lagi-lagi Haifa teringat satu momen indah bersama Rivaldi. Kala itu ada kegiatan ekstra kulikuler seni rupa. Mereka harus melukis dengan mengambil objek gunung Tangkuban Parahu. Tugas para siswa saat itu adalah mengambil objek gambar yang berbada-beda. Maka berpencarlah mereka untuk mendapatkan objek lukis. Tengah asyik melukis, tiba-tiba dia mendengar aluanan lagu lawas ‘Unchanged Melody’ milik penyanyi gaek Julio Iglesias.

Haifa pun mencoba mencari sumber suara. ternyata tidak jauh dari tempat dia melukis, Rival tengah melukis juga diiringi alunan tembang lawas itu dari HP nya.

Lagu itu memang jadul banget. Tapi Haifa sangat suka mendengarkannya. Apa Rival juga suka??

“Oooh.. my love… My darling. I’ve hungered of your touch alone lonely time. And time..goes by so slowly, and time can do so much, Are you still mine…? I need your love..”

Entah mengapa, Haifa merasakan suasana saat itu begitu romantis. Seperti potongan adegan dalam sinetron cinta!

Hingga lagu itu berhenti berputar, masing-masing dari mereka terdiam. Tapi hati mereka merasakan denting-denting indah di relung hati.

“Aaargh! Aku harus bisa menguburkan perasaan ini dalam-dalam. Aku gak mungkin berpacaran. Haram hukumnya. Abah dan Ambu juga tidak akan memberi izin.” Batin Haifa.

^^^^^^^

Enam bulan sudah Haifa dipersunting oleh Kang Ojak. Sungguh hari-hari yang sangat melelahkan untuk dilalui Haifa. Kini sudah menjadi suratan takdir yang tercatat di Lauh Mahfudz bahwa dirinya, Haifa Mumtaz berjodoh dengan Abdur Rozak. Lelaki yang usianya terpaut 5 tahun lebih tua dari dirinya.

Haifa benar-benar tak kuasa menolak permintaan Abah. Kondisi kesehatan Abah sangat mengkhawatirkan. Dua minggu setelah Abah menikahkan Haifa, Abah berpulang ke Rahmatullah. Di satu sisi Haifa merasa lega bisa memenuhi permintaan terakhir Abah meski hal itu benar-benar menyiksa dirinya.

Enam bulan ini cukup membuat Haifa menderita. Bunga-bunga cinta belum juga tumbuh dihatinya. Hidupnya terasa hampa. Bukan, bukan karena dia pernah naksir pada Rivaldi. Alhamdulillah Haifa sudah bisa melepaskan rivaldi dari hatinya. Bisa jadi karena surat yang Rivaldi berikan kepada Haifa tidak pernah mendapat balasan, tak lama berselang, Rivaldi sudah berpacaran dengan yang lain.

Akan halnya dengan Kang Ojak, ia seringkali nampak serba salah jika berinteraksi dengan Haifa.Haifa selalu menjaga jarak. Ambu pun merasa sedih dengan sikap Haifa yang selalu hambar pada suaminya. Ambu sering menasehati Haifa agar bersikap ma’ruf pada suaminya. Jarang sekali Haifa melayani kebutuhan batin suaminya. Jika sudah begitu biasanya Kang Ojak sering melakukan shaum sunnah agar bisa menjaga gejolak Nau’ nya.

Kang Ojak pernah bertanya pada Haifa, jika memang Haifa tak kunjung mencintai dirinya dan merasa tersiksa, Haifa bisa meminta cerai. Kang Ojak tidak mau mendzalimi istrinya walau hatinya memang sudah memendam rasa sejak lama pada Haifa. Sehingga ketika Abah menawarkan Haifa padanya untuk dijadikan istri, Kang Ojak merasa dia tidak boleh mengabaikan kesempatan ini. Abah bercerita bahwa memang Haifa belum ada ketertarikan pada dirinya, tapi memang Abah sendiri yang memberi semangat agar Kang Ojak tetap bisa menerima Haifa. Abah malah bercerita juga bahwa pernikahannya dengan Ambu pun karena mereka sama-sama dijodohkan. Toh waktu yang pada akhirnya meluluhkan hati Ambu. Mendengar cerita seperti itu saja sudah membuat hati Kang Ojak berbunga-bunga.

Ternyata Haifa masih punya keinginan untuk mempertahankan rumah tangga barunya ini. Entah mengapa, meski cinta tak jua hadir, ada perasaan tenang dan percaya di hatinya. Namun Haifa menolak ketika Kang Ojak menawarinya daftar kuliah di sebuah perguruan tinggi agar Haifa tetap bisa meneruskan apa yang menjadi cita-citanya. Dia tidak cukup percaya pada dirinya, apa dia akan tetap bisa bertahan dengan Kang Ojak ketika dia bergaul dengan teman-temannya nanti. Walau bagaimanapun, dia memahami bahwa pernikahan adalah mitsaqan ghalidzah. Sebuah perjanjian besar di sisi Allah.

^^^^^^^

 Waktu menunjukkan pukul 21.17 WIB. ketika Haifa menerima suara panggilan telpon dari Ambu. Saat itu dia sedang janji copy darat dengan teman-teman seangkatannya. Haifa larut pada kerinduan. Dia hanya bilang pada suaminya mau bertemu teman-teman SMA. lalu pergi begitu saja dengan memakai sepeda motor pemberian suaminya. Sementara itu Ojak hanya dapat melepasnya dengan menahan tanya, “Ketemu dimana? Pulang jam berapa? Apa perlu diantar? Hari ini mendung sejak pagi. Nanti kamu kehujanan.

“Haifa… Kenapa susah sekali kamu angakat telpon?” Terdengan intonasi naik dari Ambu. Jarang sekali Ambu berbicara dengan intonasi naik. Haifa cukup dibuat kaget. “Ada apa Ambu..?”

“Kamu sedang apa? Jam segini masih di luar? Ojak masuk Rumah Sakit!” Kini Ambu benar-benar marah. Haifa terkesiap mendengar kabar itu. “Kang Ojak masuk Rumah Sakit mana Ambu? Ruang berapa? Kenapa bisa begitu?” Haifa mencecar panik.

Haifa menolak tawaran ibu agar ia menunggu dijemput bapak mertuanya yang sudah ada di Rumah Sakit. Ia ingin segera melihat kondisi suaminya. Sebelum berpamitan pada teman-temannya, ia masih sempat membaca pesan WA yang dikirim suaminya, “Sayang, kamu dimana? Kapan pulang? Sekarang sudah lewat Maghrib. Di sini hujan lebat. Aku bingung kemana harus menjemputmu. Aku tunggu di perempatan jalan raya dekat toko buku ya…”

 “Dia masih saja memperhatikanku. Padahal tadi siang aku uring-uringan hanya karena dia tak ikut mencarikan sepatu favoritku. Padahal aku sendiri yang lupa menaruhnya.. Sementara dia sedang sibuk memberi pakan domba-dombanya. Hari ini hari Kamis. Seharusnya aku ada di rumah menyediakan makanan untuk berbuka. Aku malah asyik dengan teman-temanku.” Haifa membatin. Tak terasa ada bulir-bulir hangat keluar dari matanya. Baru kali ini setelah usia pernikahan mereka menginjak bulan ke Sembilan ada rasa berdosa mengejar Haifa.

Haifa setengah berlari menuju ruang IGD. Nampak Ayah mertua menjemputnya. Kali ini Haifa mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan lebih takdzim. Lebih dari biasanya. Ada perasaan sedih dan bersalah yang begitu dalam menggelayutinya.

Sesampainya di ruang IGD, didapati suaminya dlm kondisi terlelap tidur karena pengaruh obat tidur yang diberikan oleh dokter. Nampak kaki kiri dan tangan kirinya diperban. Dagunya pun memakai kain kassa yang kini berwarna oranye karena pemberian iodine.

Ibu mertuanya duduk di kursi samping kiri tempat tidur. Tersemburat wajah sedih. Haifa merangkul dan menangis dalam dekapan ibu mertuanya.

“Keun bae Geulis, sing sabar… Geus kieu kuduna ti Nu Maha Kawasa..” (“Biarlah, Cantik, bersabarlah. Harus begini adanya dari Yang Maha Kuasa.”)

“Tadi sempat sadar dulu sebentar. Dia bilang, khawatir pada Haifa, mau dicari dulu sebelum waktu maghrib tiba karena turun hujan lebat. Katanya Haifa sedang mencari pecel lele kesukaan dia untuk berbuka.  Takutnya Haifa terhalang banjir. Jadi Ojak maksudnya mau ngejemput. Ketika lewat di perempatan toko buku terjadi tabrakan beruntun. Mobil sedan dihantam truk pengangkut pasir yang remnya blong. Mobil sedan yang terkena hantaman itu menghantam motor ojak. Lumayan keras. Innalillahii.. Ojak mengalami patah tulang kata dokter” Jelas bapak mertuanya. “Haifa dari tadi ditelpon sama bapak tapi gak bisa terus. Mungkin sinyal sedang jelek ya?” Haifa tidak menjawab. Dia malu dan merasa berdosa. Digenggamnya tangan kiri Ojak. lalu diusap-usap. Beribu maaf membuncah dihatinya. Ia tatap lekat wajah suaminya. Wajah yang selama ini dilihatnya dengan hambar. Padahal, apa salah Kang Ojak pada dirinya?

“Dia masih sempat menutupi kekuranganku pada orangtuanya. Padahal faktanya, aku katakan, ada ketemuan dengan teman-teman SMA. Menunya ada pecel lele dan sate kambing. Lalu dia bilang, “Akang suka pecel lele. Bawakan ya untuk akang”. Lalu kujawab,”Gak janji ya”. Aku tahu kang Ojak biasa berpuasa setiap hari Senin-Kamis, tapi aku malah meninggalkannya. Jika saja aku ada di rumah, mungkin kecelakaan ini gak perlu terjadi..

^^^^^^^

Ini hari ke lima belas kang Ojak dirawat di rumah sakit. Jangan Tanya bagaimana lelahnya merawat pasien yang sedang opname. Tapi Haifa begitu semangat melayani segala keperluan suaminya. Ambu dan ibu mertuanya membantu secara bergiliran.

Ada gurat bahagia di wajah Ambu dengan perubahan sikap Haifa pada suaminya. Awalnya Haifa sangat malu jika menyuapi suamimya ada orang lain di depannya. Kang Ojak sangat memahami hal ini. Jika mereka sedang berdua, Haifa akan dengan sigap menyuapinya. Melayani apa saja yang dia butuhkan. Sampai-sampai Salma pun dapat membaca perubahan sikap yang terjadi pada kakaknya.

“Ambu, perhatikan deh teh Haifa. Lebih cantik ya sekarang mah. Lebih sering tersenyum. Kayak orang yang sedang jatuh cinta…” Begitu ia membuka pembicaraan ketika mereka tengah bertemu pada jam besuk di Rumah sakit. “Eeeh…ngomong apa sih kamu salma?” Haifa Nampak tersipu.

“Memang kakakmu itu lagi kasmaran. Tuuh lihat pipinya memerah. matanya berbinar. Kerjaannya senyuum terus. Padahal suaminya sedang dirawat. Hati-hati lho. Tidak boleh berbahagia diatas penderitaan orang lain.”

“Ibuuu…” Salma mendelik malu. Lalu ia tertunduk tersipu.

“Ih teh Haifa mah telat. Baru sayang ke Kang Ojak setelah kang Ojaknya babak belur… Hihihi…” Lagi-lagi adiknya menggoda.

Tak lama berselang, setelah membantu apa yang mereka bisa bantu, Salma dan Ambu pun pulang.

Kini tinggal mereka berdua. Salma lagi-lagi menatap wajah suaminya. Kang Ojak nampak lebih kasep (cakep, bahasa sunda) dari biasanya. Bagaimana tidak kasep? Setiap hari dia bekerja di sawah atau menyabit rumput untuk pakan domba-dombanya yang tidak sedikit, sekarang sudah hampir dua minggu dia berada di dalam ruangan.

Kesulitan berbicara akibat benturan pada dagunya sudah normal kembali. Dokter menyatakan kang Ojak pulih lebih cepat dari perkiraan dokter. Hal ini karena perhatian yang diberikan pihak keluarga dan teman-teman yang begitu besar. selain itu karena Kang Ojak sendiri memiliki motivasi yang kuat untuk sembuh.

“Sayang…” Panggilan Kang Ojak membangunkan Haifa dari lamunannya. “Sini duduk disini dekat Akang!”

“Disini lebih dekat lagi..”

“Nanti kaki kang Ojak sakit kena kakiku.”

“Ah moal nanaon atuh (Ah gak apa-apa). Kan yang sakitnya di sebelah kiri. Haifa sayang, kamu baringan di sebelah kanan akang. Gak apa-apa. lakukan saja pelan-pelan.”

Meski merasa agak was-was tapi Haifa menurut apa kata suaminya. Lalu reflex Haifa melingkarkan tangan kanannya ke perut Kang Ojak.

Kang Ojak meringis lirih, ”Aduuh!”

“Kenapa Kang, sakit?” Tanya Haifa kaget. Khawatir apa yg ia lakukan menyakiti suaminya.

“Bukan. Aduh… kenapa gak dari dulu ya seperti ini?”

“Akang ih nakal juga ya!” Wajah Haifa memerah menahan malu. Tapi kembali lagi ia melingkarkan tangan ke atas perut suaminya.

“Sayang, kalau nanti akang sudah sehat, kita ngaji sama-sama ya? Akang hadir pada kajian ikhwan. Kamu ikut kajian akhwat.”

“Kang, waktu akang terbaring hari pertama di rumah sakit ini, Haifa udah janji pada diri sendiri. Haifa akan berusaha menjadi istri sholihah untuk Kang Abdur Rojak. Haifa mau mulai ikut kajian-kajian Islam Kaaffah seperti yang dilakukan almarhum Abah dan Akang. Haifa tertarik pada istri-istri sahabat akang. Mereka itu mempesona. Perpaduan muslimah sholihah dan cerdas. Haifa takut pada Allah. Haifa juga ingin membuat Abah dan Akang bangga…” Haifa mengakhiri kalimatnya dengan tercekat. Dia berfikir, kenapa tidak dari dulu dia ikut kajian-kajian yang diikuti oleh Abah. Mungkin Abah akan bangga. Dia terlalu berfikir keras untuk menjadi seorang dokter. Padahal kini dia hanya menjadi seorang istri saja.

“Alhamdulillah… Alhamdulillah Ya Allah..Telah Engkau beri hamba seorang istri sholihah… Jadikan kami keluarga sakinah, mawaddah.. Allahumma Aamiin.” Mata Kang Ojak berkaca-kaca mendengar jawaban istrinya.

‘Sayaang…”

“Iya, ada apakah lagi kang Abdur Rozak?” Haifa kembali memanggil suaminya dengan nama lengkap.

“Sebenarnya akang punya tabungan. Akang ingin Haifa melanjutkan kuliah di kedokteran. in sya allah sepertinya cukup untuk modal awal kuliah. Selanjutnya biar kita fikirkan bersama-sama. Akang punya cadangan. Kita bisa menjual domba-domba akang untuk Idul Adha tahun depan. Semoga itu bisa menyambung biaya kuliahmu…Tidak usah menjual sawah. Kita menjual berasnya saja untuk cadangan tahun-tahun berikutnya.”

“Euleuuh…gening Akang teh beunghar… (ternyata Akang tuh orang kaya).” Katanya menggoda. “In sya Allah jika Haifa lolos masuk fakultas kedokteran, Haifa akan belajar sungguh-sungguh.” Lanjutnya kemudian.

“Kalau nanti ternyata hamil, gimana kuliahnya?” Tanya Kang Ojak.

“Alhamdulillah jika Haifa hamil. Akang tidak usah khawatir. Banyak mahasiswa yang tetap kuliah walau dia sedang hamil. Dan in sya Allah, Kang, Haifa jg akan tetap mengaji. Masa kuliah di bidang akademik bisa memaksakan diri, tapi kuliah mempelajari ilmu kehidupan yaitu Syariat Islam kok tidak dilakukan dengan usaha maksimal.”

Haifa sangat menikmati momen saat itu. Hidup begitu indah baginya. Namun terlintas beberapa saat tayangan video beberapa waktu lalu yang menggambarkan penderitaan Kaum Muslimin di berbagai belahan dunia pada saat ini. Lalu hatinya kembali bergumam, “Ya Allah, kuatkan hamba-Mu ini, hamba bertekad untuk menjadi pejuang Syariat Islam Kaaffah. Hamba ingin menjadi dokter yang memanfaatkan jasanya untuk masyarakat banyak. Kabulkanlah…”

Malam beranjak semakin larut. Mengantarkan umat manusia untuk menjadikan malam sebagai waktu istirahat. Titik-titik embun semakin pekat merambah malam. Fabiayyi aalaa I’rabbikumaa tukadzdzbaan…” Maka nikmat Tuhan-Mu yang manakah yang akan engkau dustakan…

 

**********