Oleh: Ayu Adiba

Allah SWT menciptakan manusia, dilengkapi dengan dorongan atau naluri. Naluri tersebut ada beberapa jenis yang melekat pada diri setiap manusia baik laki-laki maupun perempuan. Diantaranya, ada naluri untuk berkasih sayang atau naluri untuk melestarikan keturunan, kemudian ada naluri untuk mempertahankan diri, dan terakhir yang paling tinggi adalah naluri untuk mengkultuskan atau mengagungkan sesuatu yang lebih tinggi, dalam hal ini adalah naluri beragama.

Pada naluri melestarikan keturunan ini, manusia memiliki kecenderungan pada seksualitas, rasa keibuan, rasa kebapkkan, rasa kasih sayang, rasa cinta pada lawan jenis, pada anak-anak, pada orang tua, cinta pada orang lain dan lain-lain. Semua itu, Allah ciptakan ada pada diri setiap manusia. Sehingga wajar, jika perasaan-perasaan ini ada dan selalu muncul.

Namun perasaan-perasaan inipun dalam Islam memiliki mekanisme untuk disalurkan atau untuk dipenuhi sesuai standar-Nya. Inilah kemudian yang harus dipahami sebagai seorang muslim baik laki-laki maupun perempuan. Sehingga tidak bertindak bebas semaunya.

Adapun kecenderungan seksualitas ini, Allah telah memberikan jalan pemenuhannya, yakni dengan melaui sebuah ikatan pernikahan. Namun sebelum sampai kepada pernikahan, ada tahap-tahap pra nikah yang akan dilalui oleh kedua pasangan tersebut dan itupun Islam telah menentukan bagaimana mekanismenya, yakni ada yang disebut dengan Istilah tahap taaruf dan ada yang disebut dengan istilah tahap khitbah. Barulah sampai kepada tahap pernikahan.

Dari ikatan pernikahan inilah, keduanya halal untuk melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan layaknya sebagai sebuah pasangan suami dan istri. Istri akan melakukan kewajiban dia sebagai seorang istri, begitu pun sebaliknya dengan yang dilakukan oleh suami.

Pada tulisan ini, saya ingin lebih memfokuskan bagaimana menjadi seorang istri dengan kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikan atau dilakukan sebagai seorang istri solehah.

Menjadi seorang istri yang solehah, itu bisa dipersiapkan saat sebelum menikah atau sebelum menemukan jodoh, dan juga bisa di improve ketika sudah menikah. Yah, dua-duanya bisa dilakukan selama kesempatan itu masih ada. Namun, belajar untuk mempersiapkan diri menjadi solehah lebih dini lebih baik. Karena menjadi solehah jauh sebelum menikah, sudah menjadi kewajiban sebagai seorang muslim.

Ciri-ciri karakter Seorang istri yang dikatan solehah itu bisa ditemukan atau dilhat di awal ketika dalam proses menuju pada pernikahan atau istilah kerrennya pada fase pra nikah. Yakni bagaimana cara dia menyalurkan atau mengekspresikan rasa kecintaan, kesukaan ataupun ketertarikannya pada lawan jenisnya, atau pada pasangannya yakni calon suaminya, yang nantinya akan menjadi suaminya.

Dia tidak akan bebas mengumbar rasa, tidak menjadi muslimah yang gampangan, dan pastinya tidak akan berpacaran. Karena seorang muslimah yang nantinya akan menjadi seorang istri yang solehah itu, tentu dia akan menjaga diri dari hal-hal yang Allah haramkan, memiliki rasa malu yang tinggi, yang selalu menjaga kemuliaan dirinya sebagai seorang wanita muslimah.

Selain itu, seorang istri solehah juga bisa dilihat dari bagaimana aktivitas yang biasa dia lakukan dalam kehidupan kesehariannya saat sebelum menikah.

Tentu aktivitas yang biasa dilakukan dalam kesehariannya, pastinya dengan selalu menyibukan diri pada perkara-perkara ketaatan. Karena pada hal itu, seorang muslimah tentu sangat sadar bahwa, jika dia tidak disibukan dengan perkara ketaatan, maka Allah akan menyibukan nya pada perkara kemaksiatan, yang membuat dirinya jauh dari julukan sebagai istri solehah nantinya.

Maka perkara ketaatan disini, tentu tidak hanya dilakukan pada amalan-amalan ibadah mahdoh saja misal sholat, puasa, zakat dll, namun mencakup ibadah secara keseluruhannya. Contohnya dalam hal ini adalah mengkaji Islam secara rutin, terlibat aktif dalam aktivitas sosial, melakukan amar ma’ruf nahi mungkar yakni dakwah ditengah-tengah kehidupan yang begitu rusak, serta berkarya untuk umat.

Dari semua ciri-ciri karakter yang dimiliki sebelum itu, akan menghantarkan seorang muslimah tersebut mencapai pada titik klimaks, yakni ketika menjadi seorang istri solehah yang riil dalam rumah tangga bersama pasangannya, ketika sudah menikah. Disinilah penentu, bagaimana sikap yang telah dipupuk jauh sebelum pernikahannya pada amalan rill ketika menjadi seorang istri.

Pada titk pernikahan inilah, seorang muslimah yang dijuluki dengan istri solehah, akan menginprove diri atau meningkatkan kesolehan diri, agar dia layak disebut sebagai istri yang solehah. Peran sebagai istri tersebut pun akan dimulai saat setelah akad pernikahan usai. Maka sejak saat itulah, seorang istri akan bersinergi dengan suami menciptakan rumah tangga yang berkah dengan mulai membangun kepercayaan diri, bahwa dia tidak sendiri, namun sudah hadir sosok baru dalam kehidupannya, yakni suami dan juga anak-anaknya. Kedua sosok inilah yang membutuhkan peran yang sangat besar dari istri, dalam menjalankan biduk rumah tangganya.

Selain itu, istri solehah adalah seorang istri yang menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi segala larangan Allah, didalamnnya termasuk menjalankan perintah Allah, adalah menunaikan segala bentuk kewajiban sebagai seorang istri kepada suaminya. Taat kepada suami selama suami menaati Allah, selama suami memerintahkan kepada ketaatan. Ini sudah menjadi sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan oleh seorang istri yang solehah. Karena jika tidak, maka tidak layak dikatakan sebagai seorang istri yang solehah.

Menjadi istri solehah juga, sudah tentu akan menjadi ibu yang terbaik untuk anak-anaknya, karena yang solehah, tentu akan tau tugas pokok dan fungsi dirinya sebagai ummun wa rabbatul bait, menjadi seorang ibu pengatur rumah, pelayan suami dan juga pengurus anak atau generasinya. Karena hal tersebut sudah satu paket yang menjadi bagian daripada menjalankan perintah Allah SWT.

Menjadi seorang istri solehah, dia akan senantiasa bersabar atas apapun yang didapatkan oleh suaminya, baik dalam urusan nafkah, maupun urusan akhlak. Kerendahan hati seorang istri solehah pun harus selalu senantiasa menyertainya sehingga akan terbentuk menjadi keluarga yang diharapkan oleh siapapun itu, yakni keluarga sakinah mawadah warahmah.

Pasti kita akan bertanya-tanya kenapa kita harus menjadi seorang istri yang solehah? Kenapa tidak hanya menjadi istri saja? Untuk menjawab pertanyaan ini, ternyata Allah SWT telah memberikan sebuah jawaban yang luar biasa kerren, kenapa harus solehah. Ternyata ada keutamaan yang begitu besar yang dijanjikan oleh Allah bagi seorang istri yang solehah. Apa itu? Dia adalah puncak dari segala puncak tujuan hidup ini, puncak dari segala puncak kebahagiaan yakni Syurga-NYA.

Terkait dengan hal ini, Rasulullah Muhammad SAW bersabda: “ jika seorang wanita yang selalu menjaga sholat lima waktu, berpuasa sebulan selama di bulan Ramadhan, serta betul-betul menjaga kemaluannya dari perbuatan zina dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang mulia ini, masuklah ke dalam syurga melalui pintu mana saja yang engkau mau” (HR. Ahmad).

Sangat indah dan luar biasa balasannya. Dari satu Hadist di atas sudah bisa memberikan jawaban yang begitu gamblang, bahwa tidak cukup jadi istri saja namun harus dengan kesolehahan diri. Maka dari hal yang dijelaskan di atas, siapa sih yang ingin menjadi istri yang solehah? Jawabannya tentu semua wanita terlebih khusus wanita muslimah.

Dan yang lebih khususnya disini, adalah saya yang menulis tulisan ini, saya masih single, saya sangat dan ingin menjadi seorang istri solehah, yakni dengan berupaya menjalankan poin-poin yang sudah di sampaikan pada paragraf-paragraf sebelumnnya. Sehingga tidak ada projek yang lebih urgent saat ini daripada projek mempersiapkan diri solehah dan Insya Allah yang nantinya juga akan layak menjadi seorang istri solehah untuk imamku nantinya. Inshaallah. Wallahu’alam