selamat pagi

Penulis: Nia Kurnia Rahmat.

 

“Pooos… Pooos… Pooos!”  Terdengar suara dari luar. Aku bergegas memakai jilbab dan kerudung yang tergantung di kursi makan.  Kumatikan kompor. Aku segera menghampiri Tukang Pos dan menerima paketnya.

Kubaca alamat pengirim. Nur Zuraidah, Kecamatan Lut Tawar, Takengon-Aceh Tengah. Bukan alang kepalang bahagianya hatiku. Nur Zuraidah menghubungiku tak lama setelah kami terhubung kembali melalui facebook.

Segera  setelah kubereskan memasak di dapur, aku membuka paket itu. Ada sepucuk surat, 2 bungkus kopi gayo dan 1 helai kain khas Gayo Aceh. Eit.., ada 2 lembar pas foto ukuran 2 R. Aku mengernyitkan dahi mencoba melihat satu persatu siapa saja yang ada di foto itu. Ini kan fotoku bersama para anggota kajian keislaman kami ketika di Takengon 15 tahun silam.

Lekat kutatap foto itu. Ingatanku kembali pada pada saat itu, ketika aku dan beberapa orang akhwat para aktivis muslimah dari Bandung diberangkatkan menuju Banda Aceh 2 minggu setelah gempa bumi 9,0 magnitudo disertai terjangan gelombang Tsunami terjadi di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara 26 Desember 2004.

Sungguh sangat mengerikan musibah itu. Gempa bumi terdahsyat di abad 21. Nanggroe Aceh Darussalam adalah daerah terparah dengan korban jiwa mencapai 170.000 orang tewas.

Awalnya aku ditempatkan di Banda Aceh. 2 minggu pasca gempa belum semua jenazah bisa dikebumikan karena korban begitu banyak. Relawan dan wartawan berdatangan dari dalam dan luar negeri. Mereka bekerja bahu membahu untuk menolong korban. Sedangkan aku dan sesama relawan perempuan lainnya bertugas merawat korban  yang terluka dan sakit selain melakukan kajian-kajian Islam untuk merecovery mental para korban dari kalangan perempuan.

Sekitar satu bulan aku disana. Lalu aku dan teman-teman akhwat dipindahkan ke Lhokseumawe dengan tugas yang sama. sebulan pula aku ditempatkan di sana, kemudian aku ditugaskan untuk membina para muslimah dengan berbagai kajian Islam di Takengon, Aceh Tengah.

Entah karena kondisi sudah lebih kondusif pasca gempa dan wilayah Takengon nyaris tidak terdampak gempa, respon mereka dalam menerima dakwah kami lebih baik dan lebih bersemangat dibandingkan dua kota sebelumnya. Cukup banyak korban gempa yang selamat memilih Takengon sebagai tempat menyelamatkan diri. Takengon lebih tinggi letaknya sehingga lebih mudah untuk menyelamatkan diri. Selain itu banyak sekali diantara mereka merasa tidak ada gunanya kembali ke Banda Aceh.Mereka sudah tidak mempunyai apa-apa lagi disana.

Ingatanku terus mengembara. pada satu ketika, dimana saat itu di sebuah surau tak jauh dari danau Lut Tawar, tempat biasa kami mengadakan kajian aku melihat sesosok perempuan terus berjalan masuk ke danau. Aku terus mengamatinya karena aku curiga dengan apa yang dia lakukan. Apa yang dia lakukan pada waktu sesenja ini.Sendiri pula. lama-lama kulihat dia masih terus berjalan ke dalam danau padahal kulihat hanya tinggal kepalanya yang tersisa. Sesaat kemudian aku tersadar. Dia sedang mencoba menenggelamkan dirinya. Dia sedang mencoba bunuh diri! “Astaghfirullah!” Aku setengah terpekik. “Kawan-kawan, itu ada seseorang mau bunuh diri. Ayo kita tolong!”

“Dimana??” Mereka bertanya tak kalah kagetnya dengan diriku.

“Itu di danau Lut Tawar. Ikuti aku!”, seruku.

Aku berlari secepat yang aku bisa. Orang-orang mengikutiku dari belakang. mereka mengajak orang di sekitarnya utk bersama-sama mengikutiku.

Dengan pakaian jilbab dan berkerudung aku langsung menceburkan diri berusaha menyelamatkan dia. Ada juga beberapa orang laki-laki menceburkan diri untuk menyelamatkan dia.

Seorang laki-laki berenang ke dalam danau dapat mendahuluiku dan berhasil meraih tubuh perempuan itu yang sudah pada posisi masuk ke danau bagian yg cukup dalam. Aku membantu meraih tubuhnya. Kami di tolong orang-orang yang berada di pinggir danau bersama-sama mengangkat tubuhnya. Salah satu teman akhwatku dengan sigap melalukan CPR. Setelah beberapa saat dia pun terbatuk dan memuntahkan air. Alhamdulillah…dia bisa diselamatkan. Tak lama berselang mobil ambulance datang  membawanya ke Rumah Sakit terdekat untuk menjalani perawatan lebih lanjut.

Esok harinya aku dan teman-teman menjenguknya di Rumah sakit. Akhirnya aku mengetahui alasan mengapa dia melakukan tindakan itu.

Dia bernama Nur Zuraidah. Usianya 22 tahun. Pasca musibah gempa bumi ini dia menyandang status janda. Tepatnya, janda muda.

Dia menikah di usia 18 tahun. Dikaruniai 2 orang anak laki-laki. Dia dan suaminya kerapkali bolak-balik dari Takengon ke Banda Aceh untuk bertemu dengan ke dua orang tua dan beberapa sanak saudara yang ada disana.

Setelah menikah Nur dibawa ke Takengon untuk kemudian tinggal di sana bersama suaminya yang bermata pencaharian sebagai petani kopi. Takengon memang terkenal mendunia dengan kopi Arabica-nya.

Saat itu dia baru 2 hari berada di Banda Aceh. Hari itu, tanggal 26 Desember 2004, dia berbelanja diantar suaminya berboncengan motor untuk sebuah keperluan. Ke dua anaknya dititipkan pada Mamaknya karena dipikir tidak akan lama.

Pada saat dia kembali dari berbelanja, terdengar orang-orang riuh berteriak-teriak sambil berlari-lari. Nur, suaminya dan orang-orang yang berada didekatnya terkejut dan saling bertanya ”Ada apa?”.

Masih terngiang teriakan seorang anak pada suaminya, “Cepat lari, Bang! Air laut sudah naik”.

Dia dan suaminya tercekat panik. Serta-merta teringat kepada kedua anak dan orangtuanya.Dia merasakan lututnya bergetar dan mulut menganga melihat kepanikan yang luar biasa di depan mata. Tanpa fikir panjang suaminya memacu motornya ke rumah orangtua Nur yang berjarak sekitar 600 meter.

Bukan perkara mudah kembali ke rumah orangtuanya di tengah ribuan orang yang justru berhamburan berlawanan arah. Banyak orang yang memaki karena tersenggol. Banyak juga orang yang menyuruhnya kembali atau nanti mati. Tapi dia tak peduli. Yang ada di pikirannya adalah bagaimana menyelamatkan ke dua anak dan orang tuanya.

Kira-kira di tengah perjalanan menuju rumah, Nur dan suaminya terperanjat. Rumah ibunya sudah terlihat padahal jarak kira-kira 300 meter lagi. Tiang listrik dan pohon kelapa yang ada di depannya berjalan sendiri sebelum akhirnya jatuh satu persatu. Nur dan suaminya tak henti melafalkan takbir dan istighfar.

Saat itu Nur belum melihat air. Nur hanya mendengar suara seperti deru suara pesawat terbang beriringan dengan suara seperti  tembakan. Suaminya menghentikan motor dan Nur menjerit tanpa sadar dan memeluk suaminya. Hanya berselang 5 menit dia melihat orang-orang hanyut. Nur berada di tempat yang agak tinggi. Mobil-mobil bak kotak korek api yang terbalik-balik diatas air. Dinding rumah jebol dihantam benda besar yang hanyut terbawa arus air.

Saat air mendekat dengan cepat menghampiri dirinya, suaminya sigap memegang tangannya dan berusaha menggapai sebuah batang  pohon yang cukup besar yang hanyut mendekatinya.

“Peluk batang itu Nur. Peluk kuat-kuat!” Suaminya berseru. DIa segera memeluk batang itu kuat-kuat. lalu tubuhnya menjauh dari tubuh suaminya yang nampak timbul tenggelam. Dia terseret arus yang sedemikian besar. Entah berapa banyak dia menelan air karena posisi badannya pun timbul tenggelam. Tidak lama kemudian dia rasakan sebuah benda menghantam kepalanya dibagian belakang dan setelah itu semuanya menjadi gelap.

Nur baru tersadar ketika dia berada di rumah sakit. di tengah-tengah ratusan pasien lainnya. Kepala dan betis kaki kiri dibebat kain kassa putih. Suster mengatakan padanya jika dia pingsan selama dua hari. Kepalanya terhantam benda keras dan ada luka menganga pada betis kirinya. Mungkin karena terkena sabetan benda tajam ketika terbawa arus air. Entah bagaimana dia bisa selamat.

Seminggu lamanya tidak ada sanak saudara yang menghampirinya, sampai akhirnya Ayah Cek dan Mak Cek dapat menemukannya di rumah sakit ini.Tak lama berselang, dia juga ditemukan oleh keluarga suaminya dari Takengon.

Kenyataan pahit yang harus diterimanya adalah ketika mengetahui bahwa kedua anaknya ditemukan tak bernyawa di dua tempat yang berbeda. Jenazah anak bungsunya ditemukan berdekatan dengan jenazah ibunya. Jenazah ayahnya dan anak sulungnya ditemukan cukup jauh dari rumah orangtuanya. Adapun jenazah suaminya sampai kini  tidak pernah ditemukan. Kedua adik laki-lakinya yang saat itu sedang berada di rumah tetangganya pun ditemukan jenazahnya di tempat yang cukup jauh dari tempat tinggalnya.

Sejak saat itu dunia terasa hancur baginya. Dirinya benar-benar sebatangkara. Sama sekali kehilangan gairah untuk hidup.

Dia pindah ke Takengon pun atas dorongan kedua mertuanya untuk kembali menempati rumah suaminya. Suaminya anak semata wayang kini sudah tiada. Kedua mertuanya ingin Nur bisa menemani mereka dan menjadi pengganti anaknya yang sudah tiada. Apalagi di Banda Aceh dia benar-benar sebatangkara.

Waktu dua bulan pasca gempa belum mampu membuatnya tersenyum. Luka fisik yang dia derita sudah berangsur baik karena Ayah dan ibu mertuanya sangat telaten merawatnya. Namun semakin hari diarasakan semakin kuat rasa putus asa menghinggapi hatinya. Juga  kerinduan pada suami dan kedua anaknya begitu dalam. Hingga pada satu sore dia benar-benar nekat mencoba mengakhiri hidupnya dengan menenggelamkan diri di danau Lut Tawar.

Sejak saat itu, hampir setiap hari aku bersama teman-teman relawan secara bergantian menengok untuk menghiburnya. Mengingatkannya bahwa segala apa yang dialami dalam hidup ini adalah bagian dari qodlo yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Bahkan dedaunan yang gugur ke bumi sudah ada dalam ketetapan-Nya. Bahwa Allah akan memberi balasan yang setimpal atas berbagai ujian hidup yang bisa dijalani oleh setiap umat-Nya dengan baik. Semuanya telah diukur oleh Allah sesuai dengan kadar kemampuan setiap hamba.

Alhamdulillah ‘ala kulli hal. Lebih kurang dua bulan sejak peristiwa percobaan bunuh diri itu, Nur bisa diajak berinteraksi. Entah itu mengobrol, bercanda atau mendengarkan kajian-kajian Islam. Kami mulai bisa melihat dia tersenyum. Ayah dan Ibu mertuanya berterimakasih pada kami semua. Mereka berdua selalu memberi motivasi pada Nur untuk rajin mengikuti kajian-kajian Islam.

Kehadiran teman-teman ngaji  pun ikut menciptakan suasana yang cukup menyenangkan bagi Nur. Mereka saling menguatkan satu sama lainnya. Nampak gairah hidup yang cukup besar dalam dirinya. Dia bahkan bertekad untuk bisa mengejar dosa dari percobaan bunuh diri dirinya dengan banyak melakukan amal sholeh dan bersyukur atas usia yang Allah beri pada dirinya. Dan amal sholeh yang utama adalah menjadi penyeru agama Allah pada sesamanya. Dia berharap bisa berinvestasi dalam hal pahala.

Lebih kurang empat bulan lamanya kami berada di Takengon yang sejuk dan indah. Banyak sekali ibrah yang kudapat dengan menjadi relawan di sana. Pada akhirnya kami harus pulang. Sungguh berat rasanya. Ukhuwah Islam telah menyatukan hati kami. Benar, ikatan persaudaraan atas dasar agama (Islam) lebih kuat daripada ikatan darah. Apalagi ikatan kepentingan sesaat. Kami meninggalkan Nur dan beberapa temannya dalam kondisi yang siap terjun ke tengah umat untuk mencerdaskan umat dengan Islam.

Aku baru tersadar dari lamunan panjangku. Ada sepucuk surat yang belum kubaca. Bulir air di kedua mataku tak mampu kutahan ketika kubaca deretan kalimat, “Teteh shalihah, tak terasa kita terpisah jarak yang cukup jauh dan waktu yang cukup lama. 15 tahun bukan waktu yang sebentar. 5 tahun setelah Teteh meninggalkan kami, kami diberi kekuatan oleh Allah untuk bisa menjadi perpanjangan lidah Teteh-teteh dari Bandung. Kami perkenalkan Islam sebagai sebuah diin yang syamil dan kamil. Bukan hanya sebatas agama ritual saja. Bisa jadi Allah beri bencana begitu dahsyat kepada kita karena kita telah melupakan bahwa Allah itu adalah Al Mudabbir (Maha Pengatur), sehingga kita lupa selama ini aturan Allah telah kita campakkan. kita malah mengagung-agungkan aturan buatan manusia yang terbukti lemah dan sarat dengan berbagai kepentingan.”

Alhamdulillah banyak diantara mereka yang tersadar dan melakukan cek ulang dalil dan penjelasan dari kami dengan apa yang mereka dapat dari Teungku Guru. Tapi tak sedikit juga yang berkomentar jika keadaan saat ini sulit untuk bisa menerapkan Islam secara sempurna. Jadi terima dan jalani saja kondisi yang ada. Jangan mempersulit diri. Tapi kami jadikan hal ini sebagai tantangan”

Aku menangis bahagia bukan saja karena aku tahu bahwa kini Nur Zuraidah telah menikah lagi dan memiliki dua anak, tapi aku teramat bahagia karena mereka pada akhirnya dapat menjadi corong dakwah di tengah umat.

Terdengar suara nyaring dari luar menyadarkanku bahwa aku tak sedang berada di Takengon. “Assalamualaykum ummiii….” Itu suara kedua anakku. Mereka baru saja pulang dari sekolah. Sulungku sudah kelas 4 SD. Anak keduaku kelas 1 SD. Dan anak ke tigaku diperkirakan kembar dua. Insya Allah merekapun akan menjadi corong Islam di tengah umat. Menjadi Penjaga Islam yang terpercaya. Semoga saja. Aamiiin…

******