Oleh : Ummu Ali

Wabah Covid-19 yag berasal dari Wuhan di China sekarang telah melanda tanah air kita Indonesia. Dengan maraknya penyebaran wabah Covid-19 ini dinilai lamban dalam penanganannya. Karena ketika sudah melihat penyebaran yang sudah mendunia, Indonesia cenderung merasa terhina jika ada dugaan warga Indonesia yang terjakit virus ini. Ketika ingin dilakukan riset oleh tim peneliti dari Harvard Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menolak mentah-mentah anggapan itu.

“Kalau ada orang lain mau melakukan survei, riset dan dugaan, ya silakan saja. Tapi janganlah mendiskreditkan suatu negara. Itu namanya menghina,” kata Terawan, Selasa (11/2/2020).
            Kemudian awal mula di tgl 2 Maret 2020 telah ditemukan 2 orang telah dinyatakan positif COVID -19. Angka kematian terus bertambah dan prsentase kematian Indonesia bahkan lebih tinggi ketimbang rata-rata angka kematian global. Dengan persiapan dan himbauan yang kurang maksimal dari pemerintah maka dokter, tenaga medis dan rumah sakit terlihat belum siap dalam menangani wabah ini.

Ketua Umum PB IDI Daeng M Faqih mengatakan kepada reporter Tirto, Senin (23/3/2020), bahwa “kami tidak terlalu jauh ke situ.” Ia lantas mengatakan saat ini “semua pihak harus saling memahami dan gotong royong. Ini kondisi darurat, genting.”
            Pengalaman dari negeri yang terkena wabah seharusnya menjadi antisipasi mengatur setiap keluar masuknya dalam negeri dan luar negeri. Tetapi setelah 4 jam mengumumkan ada 2 orang positif Corona di Indonesia sebut Apriyani bersama keluarga kecilnya pulang dari Hong Kong – Kuala Lumpur ke kampung halamannya di Palembang membuatnya kaget. Tidak melihat sama sekali petugas bandara memeriksa memeriksa suhu tubuh secara manual dengan thermo gun. Lalu, pengisian data tidak diperiksa seperti nomor telepon penumpang. Padahal Ema dengan keluarganya baru saja dari Hong Kong dan Malaysia, dua negara yang terpaparCOVID-19. Baca selengkapnya di artikel “Teledor Penanganan Wabah COVID-19 di Indonesia”, https://tirto.id/eDPG

Abainya Pemerintah dalam penanganan cepat Wabah Covid-19 ini membuat presentase terus meningkat. Juru bicara penanganan Corona COVID-19 di Indonesia Achmad Yurianto, mengungkapkan hingga Jumat, 10 April terjadi penambahan kasus positif sebanyak 219 jiwa.

Penambahan kasus positif tersebut membuat total individu yang positif terinfeksi di Indonesia kini mencapai angka 3.512.

Sementara, jumlah orang yang dinyatakan pulih atau sembuh dari corona COVID-19 bertambah 30 sehingga menjadi 282 kasus. Sedang untuk kasus kematian terkait corona COVID-19, tercatat ada penambahan 26 kasus, sehingga menjadi 306.

“Hari ini jumlah yang sembuh sebanyak 30 orang, sehingga total sebanyak 282 orang,” ujar Yurianto dalam konferensi pers di Gedung BNPB Jakarta Timur, Jumat (10/4/2020).

            Sangat memperihatinkan kondisi Indonesia saat sekarang. Bukan hanya dampak kesehatan saja yang terancam. Tetapi ujung tombak mata pencarian setiap hari warga Indonesia sangat menurun drastis khususnya para pedagang kecil yang hanya bergantung pada penghasilan per-hari. Penanganan Covid ini bisa diredam penyebarannya dengan social distancing serta tetap berada di dalam rumah yang selalu digencarkan pemerintah. Tetapi jika hanya diberikan penindakan social distancing dan stay at home tanpa diberikan penjaminan ekonomi yang seimbang untuk hidup selama stay at home. Maka yang terjadi adalah masyarakat akan tetap beraktivitas seperti biasa untuk mencari nafkah, berkerumun dengan orang banyak dan ini rentan terkena covid-19.

            Solusi yang diutarakan Menteri keunagan Sri Mulyani sangat menggambarkan bahwasannya pemerintah tidak akan menjamin sepenuhnya dari Anggaran Pemerintah. Karena Sri Mulyani akan membuka rekening untuk menampung sumbangan dari para pengusaha untuk membantu pemerintah dalam pengumpulan dana untuk rakyatnya.

“Pemerintah akan membuka account khusus di BNPB bagi masyarakat, dunia usaha yang ingin menyumbangkan. Ini akan diumumkan oleh Ditjen Perbendaharaan sebagai account masyarakat yang ingin membantu dan langsung dikelola BNPB,” ujar Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, seperti ditulis Rabu (25/3).

Bendahara negara ini menambahkan dari segi anggaran, pemerintah sebetulnya siap untuk mendukung proses percepatan penanganan pandemik virus corona di dalam negeri. Namun opsi ini dibuka, untuk membantu meringankan beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pemerintah.

            Seharusnya hajat, hidup dan kesejahteraan negara harus sepenuhnya ditanggung oleh Pemerintah. Bukan malah dibebankan kembali ke rakyat. Meskipun mampu tetapi solusi ini menandakan sikap separuh hati pemerintah dalam penanangan Covid-19. Dana yang ada tidak dimaksimalkan untuk setiap warganya seperti mereda pengeluaran yang signifikan untuk Covid-19.

            Indonesia adalah negara yang kaya akan SDA tetapi mengapa tidak bisa menopang berdiri sendiri untuk krisis ekonomi saat sekarang? Karena yang berperan dalam pengolahan SDA adalah asing dan aseng. Pemerintah tidak kuasa untuk mengambil alih. Memenuhi kebutuhan pangan saat wabah ini untuk memberlakukan lockdown tidak sanggup. Yang dilakukan adalah hanya membatasi aktivitas saja. Padahal sudah jelas pengalaman di Australia dengan sigap langsung lockdown semua daerah sama sekali tidak ada aktivitas sedikitpun. Angka kematian langsung menunjukkan turun yang signifikan.

Solusi yang ditawarkan Islam

            Islam adalah agama yang ideologis. Dimana agama yang melahirkan aturan-aturan untuk mengatur kehidupan sehari-hari. Mualai dari muamalah, fiqih, ibadah, ekonomi sampai cara mengurusi ummat dalam suatu negara. Pernyataan di atas menggambarkan bagaimana pemerintah menangani COVID-19. Dalam islam sudah dijelaskn sangat rinci ketika di suatu negeri terjadi wabah yang berbahaya sampai merenggut nyawa maka yang dilakukan pertama adalah tidak boleh ada yang keluar masuk sesuka hati. Sebagaimana telah dijelaskan dalam Shahih Bukhari dan Muslim diriwayatkan, dari Amir bin Saad bin Abi Waqqash, dari ayahnya bahwa ia pernah mendengar sang ayah bertanya kepada Usamah bin Zaid, “Apa hadits yang pernah engkau dengar dari Rasulullah berkaitan dengan wabah thaun?”

Usamah menjawab, “Rasulullah pernah bersabda: Wabah thaun adalah kotoran yang dikirimkan oleh Allah terhadap sebagian kalangan bani Israil dan juga orang-orang sebelum kalian. Kalau kalian mendengar ada wabah thaun di suatu negeri, janganlah kalian memasuki negeri tersebut. Namun, bila wabah thaun itu menyebar di negeri kalian, janganlah kalian keluar dari negeri kalian menghindar dari penyakit itu.” (HR Bukhari-Muslim).

Kedua, dalam meria’yah ummat untuk tetap berada di wilayah yang tidak tercemar islam dan penjaminan kesejahteraan rakyat telah dicontohkan dalam kisah kepemimpinan Umar bin khatab pada masa di mana terjadi wabah yang mematikan.

Pada masa kelabu itu, Khalifah Ummar ra. Juga mengalami krisis ekonomi. Beliau langsung bertindak cepat ketika melihat kondisi keuangan Baitul Mal sudah tidak lagi bisa mencukupi penanggulangan krisis terkhusus pangan untuk rakyatnya. Khalifah Umar segera mengirim surat kepada para gubernurnya di berbagai daerah kaya untuk meminta bantuan. Petugas Khalifah Umar langsung mendatangi Amru bin al-Ash, gubernur di Mesir, “Dari hamba Allah, Umar bin al-Khaththab, Amirul Mukminin, untuk Amru bin al-Ash. Semoga kesejahteraan terlimpah padamu. Selanjutnya, tegakah kau melihatku dan orang-orang di sekitarku, sementara engkau dan orang-orang di sekitarmu hidup penuh kenikmatan? Tolonglah kami, tolonglah kami.”

Bisa kita bayangkan seberapa banyak bantuan yang dibawa Amru bin al-Ash, gubernur di Mesir. Beliau mengirim seribu unta yang membawa tepung melalui jalan darat dan mengirim dua puluh perahu yang membawa tepung dan minyak melalui jalur laut serta mengirim  lima ribu pakaian kepada Khalifah Umar. Abu Ubaidah bin Jarrah membawa bantuan empat ribu kendaraan yang berisi makanan. Belum termasuk bantuan pakaian dan obat-obatan. Muawiyah bin Abu Sufyan mengirim tiga ribu unta membawa makanan dan bantuan dari Irak datang membawa tepung.

Kemudian dalam penyaluran bantuan dalam kisah khalifah Umar bin Khatab dijelaskan bahwa wabah yang terjadi saat itu mencapai enam puluh ribu orang. Dengan keterbatasan tekonologi dan sarana prasarana yang memadai Ummar sebagai khalifah sangat mencontohkan bagaimana hidup lebih sederhana bahkan lebih kekurangan dari masyarakatnya. Beliau seorang pemimpin negara rela kelaparan kerap kali perutnya berbunyi karena yang hanya bisa dimakan adalah gandum dengan minyak. Beliau mengedepankan kesejahteraan untuk rakyatnya.

            Khalifah Ummar ra. mengerahkan segala struktur dan tenaga untuk penyaluran bantuan sesegera mungkin bagi orang yang terkena wabah. Beliau menugaskan orang-orang untuk  memasak bubur dimulai subuh. Al-Faruq ditugaskan beliau untuk membagi tugas kepada para perangkat negara di bawah beliau hingga level pekerja, bahu-membahu dan sigap menyelesaikan persoalan yang ada. Beliau tidak melepas tanggungjawab hanya memerintahkan tugas saja, tetapi perangkat negara yang ditugaskan beliau untuk terjun langsung ke lokasi untuk memantau perkembangan wabah itu sore harinya dikumpulkan untuk memberikan informasi apakah bantuan yang diberikan untuk rakyatnya sudah tersampaikan, data-data orang yang terjangkit wabah bertambah atau berkurang, sampai membuat bubur secara benar dicontohkan dari seoarng pemimpin negara Khalifah Ummar ra.

            Khalifah Umar ra. memastikan tidak ada orang yang kelaparan dan tidak ada rakyatnya yang terlewati bantuan. Dengan semua bantuan yang ada beliau mampu menopang hajat kehidupan pangan untuk rakyatnya sampai berbulan-bulan. Masya Allah, sangat berbeda sekali dengan kondisi kaum muslim di Indonesia saat sekarang.

            Jika dibandingkan dengan jumlah warga negara Indonesia yang terjangkit wabah dengan pengalaman khalifah Umar ra. maka Indonesia sangat mampu menangani dengan cepat khususnya untuk pangan rakyatnya. Dari segi SDA pun cukup memadai dibanding kondisi saat Madinah krisis ekonomi.

            Sudah saatnya kita merindukan aturan islam yang sangat mensejahterakan rakyatnya. Dengan perasaan, aturan, dan satu kepemimpinan yang sama dalam naungan daulah islam sudah terbukti pada masa dahulu dapat menopang hajat hidup orang banyak. Rakyat tidak lagi disibukkan dengan mencari pangan di tengah wabah yang melanda. Karena semua sudah menjadi kewajiban khalifah untuk memobilisasi bantuan dari wilayah-wilayah di bawah kekuasaan khilafah. Hanya dalam naungan islam yang kaffah fitrah kaum muslim itu kembali. Karena sejatinya kaum muslim akan sejahtera jika diatur juga dengan aturan islam.

Allahu ‘alam bishawab.