Oleh : Rela Dika Fitriah

Pandemi Covid-19 merupakan masalah yang belum terselesaikan sampai saat ini. Yang diawali dengan 2 orang asal Depok yang dinyatakan positif pada 2 maret 2020. Hingga saat ini tercatat 4.241 kasus positif, sembuh 359, dan meninggal sebanyak 373 (kompastv, 12/02/20).

Adanya pandemi covid-19 sudah menjadi momok menakutkan bagi masyarakat terumata yang berada di Indonesia dan bagi masyarakat kelas sosial menengah kebawah. Ditengah terpuruknya ekonomi masyarakat, ditambah dengan adanya pandemi covid-19 semakin memperburuk suasana perekonomian masyarakat yang mengharuskan untuk melakukan karantina dirumah, sehingga perekonomian melemah, bahkan bisa berdampak pada kelaparan massal. Karantina dilakukan atas himbauan pemerintah guna memutus rantai penularan virus. Namun, himbauan karantina dari pemerintah tidak diimbangi dengan pemberian jaminan kebutuhan hidup pada masyarakat secara keseluruhan dan merata.

Alhasil, banyak masyarakat yang mengeluhkan dan tidak mengikuti himbauan dengan alasan takut kelaparan, bahkan ada yang berani memberi kritik pada pemerintah melalui media sosial.

Pada Selasa (31/3), orang nomor 1 di Indonesia yaitu Joko Widodo akhirnya mengumumkan 6 program jaring pengaman sosial sebagai langkah untuk menekan dampak covid-19 di masyarakat, yaitu :
1. Program Keluarga Harapan (PKH), Kuota PKH ditambah 9,2 juta menjadi 10 juta keluarga penerima manfaat. Nilai manfaat atau bantuan yang diterima juga naik 25 persen. Ibu hamil mendapat Rp 3 juta per tahun. Selain itu, anak usia dini mendapat Rp 3 juta per tahun dan penyandang disabilitas mendapat Rp 2,4 juta per tahun.
2. Kartu Sembako, Penerima program Kartu Sembako ditambah dari 15,2 juta menjadi 20 juta keluarga penerima. Nilai manfaatnya pun naik dari Rp 150 ribu menjadi Rp 200 ribu per bulan. Tunjangan ini diberikan selama sembilan bulan.
3. Kartu Pra-Kerja, Fungsi Kartu Pra-Kerja diperluas dari platform pasar lapangan kerja menjadi program bantalan sosial dengan memberikan dana tunai Rp 5 juta untuk tiga bulan. Anggaran program ini juga ditingkatkan dari Rp 10 triliun menjadi Rp 20 triliun
4. Tarif Listrik, Ada 31 juta pelanggan yang keringanan tarif listrik. Sebanyak 24 juta pelanggan listrik 450 volt ampere (VA) dibebaskan dari tagihan listrik selama tiga bulan. Adapun 7 juta pelanggan listrik 900 VA mendapat diskon tarif 50 persen selama tiga bulan.
5. Dana Kebutuhan Pokok, Dana cadangan stabilisasi harga pangan ditambah Rp 25 triliun. Anggaran ini akan memperkuat dana cadangan beras pemerintah yang dipatok Rp 20 triliun tahun ini.
6. Keringanan Pembayaran Kredit, Keringanan cicilan berlaku bagi para pekerja informal, seperti ojek online, sopir taksi, nelayan, dan para pelaku usaha kecil-menengah berpenghasilan harian dengan kredit di bawah Rp 10 miliar, mulai April 2020.

Yang perlu digarisbawahi dari kebijakan jaring pengaman sosial yang diberikan oleh pemerintah tidaklah efektif dan jumlahnya tidak cukup memadai serta tidak mudah untuk memperoleh. Jaring pengaman sosial justru akan semakin membuat masyarakat bingung dan pusing dengan berbagai persyaratan yang dikeluarkan pemerintah untuk memperoleh. Masyarakat akan memilih untuk mencari sendiri pemenuhan kebutuhan pokoknya dan menganggap bahwa pemerintah setengah hati dalam upayanya menekan dampak covid-19.

Begitulah jaring pengaman sosial ala kapitalis yang hanya setengah-setengah, jelas berbeda dengan Islam dalam menangani wabah. Dalam Islam, dana negara diperuntukkan untuk kepentingan masyarakat, bahkan ketika negara dalam posisi lemah perekonomian nya, kepentingan masyarakat tetap menjadi nomor 1 sebagaimana yang pernah di contohkan oleh Khalifah Umar Ra. Khalifah Umar menghadirkan solusi yang cepat dan tepat dalam menghadapi wabah dan krisis ekonomi. Solusi yang tuntas dan menyeluruh. Apalagi hanya sekadar basi-basi penuh pencitraan.

Sebagaimana yang diceritakan di dalam buku The Great Leader of Umar bin Khattab karya Dr. Muhammad ash-Shalabi, Khalifah Umar langsung bertindak cepat ketika melihat kondisi keuangan Baitul Mal tidak mencukupi penanggulangan krisis. Khalifah Umar segera mengirim surat kepada para gubernurnya di berbagai daerah kaya untuk meminta bantuan. Petugas Khalifah Umar langsung mendatangi Amru bin al-Ash, gubernur di Mesir, “Dari hamba Allah, Umar bin al-Khaththab, Amirul Mukminin, untuk Amru bin al-Ash. Semoga kesejahteraan terlimpah padamu. Selanjutnya, tegakah kau melihatku dan orang-orang di sekitarku, sementara engkau dan orang-orang di sekitarmu hidup penuh kenikmatan? Tolonglah kami, tolonglah kami.”

Amru bin Ash membalas, “Untuk hamba Allah, Amirul Mukminin, dari Amru bin al-Ash. Semoga kesejahteraan terlimpah kepadamu. Saya memuji Allah yang tidak ada Tuhan selain-Nya. Selanjutnya, bantuan akan segera tiba. Untuk itu, bersabarlah. Saya akan mengirim kafilah untukmu. Yang depan berada di dekatmu, sementara yang belakang berada di dekatku. Saya berharap bisa membawa bantuan melalui laut.”

Bisa dibayangkan betapa banyaknya bantuan yang dikirimkan oleh Amru bin Ash kepada Khalifah Umar bin Khattab menunjukkan semangat ukhuwah islamiyah dan sebagai bentuk bantuan dari pemerintah daerah kepada pemerintah pusat dalam upaya penanggulangan krisis.

Khalifah Umar juga mengirimkan bantuan yang datang dari daerah kepada semua orang, tanpa terkecuali. Khalifah Umar juga bertobat dan mengadu kepada Allah SWT atas seluruh dosa dan kesalahan yang diperbuat selama ini. Bisa jadi, karena banyaknya dosa dan kesalahan inilah yang mengundang murka Allah SWT sehingga bencana itu datang. Ini menunjukkan bagaimana Islam mengariskan bahwa seorang kepala negara wajib senantiasa menyandarkan seluruh penyelesaian bencana pada keimanan dan tuntunan syariah Islam. Semua disikapi berdasarkan sudut pandang keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Islam adalah agama yang sempurna. Islam pengatur segala aspek kehidupan, dimulai dari bangun tidur hingga bangun negara, dari masuk kamar mandi bahkan sampai masuk surga. Maka segala permasalahan yang ada saat ini solusinya hanyalah kembali pada islam. Kita butuh Islam sebagai solusi dari berbagai permasalahan. Kita butuh khilafah untuk pelaksanaan Islam kaffah. Sudah seharusnya kita menerapkan hukum Allah agar kelak selamat di dunia maupun di akhirat.

Allahu ‘alam bishawwab.