Oleh: Ade Irma

Seperti yang sudah kita ketahui, wacana pembebasan 30.432 narapidana dan anak sudah direalisasikan. Pembebasan napi menuai pro dan kontra. Pasalnya ditengah wabah corona ini masyarakat dibuat kian was-was akan hadirnya napi ini.

Dilansir dari laman CNN Indonesia – Kementerian Hukum dan HAM telah mengeluarkan dan membebaskan 30.432 narapidana dan anak melalui program asimilasi dan integrasi berkenaan dengan virus corona. Program asimilasi tersebut tidak berlaku bagi pelaku kejahatan tindak pidana luar biasa seperti teroris dan korupsi sebagaimana Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012 tentang Syarat dan Tatacara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan yang mengatur pengetatan remisi.(cnn Indonesia, 05/04/2020).

Adanya pembebasan napi Kementerian Hukum & HAM (Kemenkumham) RI mengklaim telah menghemat anggaran negara untuk kebutuhan warga binaan pemasyarakatan hingga 260 miliar. Penghematan itu terjadi setelah 30 ribu narapidana mendapatkan asimilasi di rumah serta mendapat hak integrasi berupa Pembebasan Bersyarat, Cuti Menjelang Bebas dan Cuti Bersyarat. (tirto.id, 01/04/2020).

Jika kita lihat pembebasan napi ini bagi keluarga napi bisa menjadi anugerah karena orang tersayangnya kembali. Namun bagi masyarakat sekitar kehadiran mereka ditengah wabah seperti ini membuat kian was-was. Pasalnya kondisi wabah covid 19 membuat lesu perekonomian rakyat dan negara. Bukan hanya Indonesia tapi juga diseluruh negara. Sulitnya mencari penghidupan ditengah wabah ini kian memburuk dan menambah keresahan bagi masyarakat. Tak hanya ancaman virus tetapi juga kelaparan dan kejahatan yang sewaktu-waktu siap menerkam.

Sudah menjadi rahasia umum, jika narapidana yang dipenjarakan dalam sistem hukum sekuler kapitalis, ketika keluar dari Lapas (Lembaga Pemasyarakatan), kemampuannya dalam berbuat kriminal kian luas. Sudah terbiasa melakukan kejahatan, ditambah dengan hukuman yang diberikan tidak memberikan efek jera sama sekali bagi para napi. Dan tak jarang dari mereka merasa senang di lapas karena mendapatkan tempat tinggal dan makan gratis.

Seharusnya pembebasan para napi ini dipikirkan matang oleh pemerintah dampaknya.Rasanya ‘konyol’ sekali alasan pembebasan para napi. Hanya karena klaim bisa menghemat sejumlah uang tapi justru mempertaruhkan nyawa rakyatnya sendiri. Rakyatnya dibiarkan hidup dengan kelaparan dan keresahan dengan tidak memberikan kebutuhan pokok seutuhnya bagi rakyatnya ditengah wabah yang kian membesar. Mirisnya lagi pelaku tindak kriminal kini dibebaskan. Sudahlah para napi ini tidak dibina dan diberikan sanksi yang membuat efek jera. Justru mereka kini kian lihai melakukan tindak kriminal karena makin sulitnya ekonomi dan penghidupan di masa pandemi ini.

Kini sudah ada beberapa napi yang kembali berulah, padahal baru dirilis kebebasannya. Diketahui fenomena napi yang baru dibebaskan, tetapi kembali melakukan aksi kejahatan ada pada beberapa lokasi.

Seperti di Bali, pria bernama Ikhlas alias Iqbal (29) yang dirilis pada 2 April. Ia kembali ditangkap pada 7 April karena menerima paket ganja seberat 2 kilogram. Kemudian di Sulawesi Selatan (Sulsel). Seorang pria bernama Rudi Hartono harus kembali mendekam di penjara karena telah membuka kembali di rumah warga. Selanjutnya di Blitar, seorang pria berinisial MS ditangkap dan babak belur diamuk setelah kepergok diambil motor warga. MS dirilis pada 3 April dan diambil tiga hari kemudian (m.kumparan.com, 09/04/2020).

Beginilah ketika solusi diambil dari akal manusia. Bukannya memberikan penyelesaian justru menambah permasalahan baru. Oleh karenanya solusi tambal sulam ala kapitalis ini tak patut dipertahankan.
Negara seharusnya tak perlu menganggarkan uang berlebihan untuk para napi. Jika sistem peradilan dalam Islam diterapkan. Para pelaku kejahatan akan langsung diadili sesuai dengan jenis kejahatannya.

Dalam sistem hukum Islam menindak pelaku kriminal. Hukum yang digunakan begitu jelas dan mudah. Syariat Islam sangat jelas dalam mengatasi setiap pelanggaran hukum, di antaranya hukum pidana, seperti mencuri, membunuh dan sebagainya. Ketika hukum syariat ditegakkan, negara tidak akan menanggung banyak kerugian, karena harus memenjarakan individu yang lainnya bisa diputuskan segera tanpa harus dipenjara. Semisal mencuri atau membunuh.

Hukum dalam syariat Islam begitu sederhana prinsipnya. Tidak ada prinsip untung rugi dalam menetapkan hukuman. Yang ada adalah bahwa setiap muslim akan dimintai pertanggungjawabannya masing-masing di hadapan Allah kelak. Maka, setiap hakim akan bersungguh-sungguh berijtihad sesuai tuntunan syariat bukan berdasarkan untung rugi materi. Oleh sebab itu, ketika hukum Islam diberlakukan, penjara tidak akan mengalami over capasity, karena penghuni lapas yang terlalu banyak. Karena setiap kasus kriminalitas diselesaikan dengan baik. Sebagai contoh, pencuri yang telah terbukti mencuri melebihi seperempat dinar dan ada empat orang saksi yang melihat langsung kejadian pencuriannya, akan dipotong tangannya. Maka, selesai kasusnya tanpa dipenjarakan. Bila tidak ada bukti dan pengakuan langsung dari orang yang dituduh, maka orang tersebut dibebaskan. Hukum Islam tidak memandang untung rugi, semua dilakukan karena ketundukan kepada syariat Allah Swt. yang pertanggungjawabannya sangat berat di akhirat.

Bila pun ada yang harus menjalani masa hukuman, maka negara akan membina para narapidana dengan keimanan dan ketakwaan kepada Allah, diberikan skill keterampilan hidup, dan dipenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan, sehingga ketika keluar dari penjara, tidak ada rasa was-was yang menghantui masyarakat karena keberadaan mereka di tengah-tengah masyarakat.

Sangat berbeda jauh dengan hukum kapitalis saat ini. Narapina bahkan masih bisa melakukan tindak kriminal.didalam lapas apalagi mereka napi karuptor diberikan fasilitas memadai bak hotel bintang lima. Alhasil negara rugi, napi tak jera melakukan tindak kriminal.

Maka sudah layaklah kita kembali ke sisitem yang memanusiakan manusia. Yang bersumber dari sang pencipta. Tiada cacat sedikitpun sebab dibuat untuk melestarikan kehidupan dibumi. Dan membawa rahmat bagi penduduk bumi bahkan bagi seluruh alam. Sistem itu hanya bersumber pada sistem Islam.

Wallahu a’lam