Oleh : Umi Rizkyi

Berbagai macam fakta yang terjadi dan menimpa pada diri kaum muslimin. Begitu banyak perlakuan buruk yang diterima dan harus ditanggungnya. Inilah sebagian fakta yang ada di negara-negara yang mengusung dan mempropagandakan demokrasi. Yang katanya demokrasilah yang pantas dan mampu untuk melindungi semua penganut agama. Inikah sistem yang dibilang ideal bagi kehidupan beragama di seluruh dunia, bukankah beragama adalah fitrah bagi setiap manusia?

Seperti yang terjadi di India beberapa waktu yang lalu, kaum muslim minoritas di sana memjadi korban keganasan ekstrimis Hindu militan. Begitu juga yang terjadi di suriah, palestina, miyanmar, uighur dan di berbagai negara lainnya di dunia. Bahkan di Palestina sampai saat ini nasibnya sangatlah menderita dan sengsara, Palestina nestapa tiada tara.

Misalnya juga yang terjadi di Uighur yang sedang dikarantina, seperti yang dilansir islampos.com, Sabtu (29/2/2020). Terjadi kekurangan makanan dan obat-obatan.

Padahal sesungguhnya, dunia sangat membutuhkan sistem bernegara yang mampu untuk melindungi kehidupan beragama seluruh warganya. Dan ini hanya terjadi dan terwujud dalam sistem Islam. Bahkan telah dipraktikkan pertama kali oleh Baginda Agung kita Nabi Muhammad Saw, kemudian dilanjutkan oleh para kholifah sesudahnya yaitu para sahabat. Kemudian para kholifah sesudahnya.

Kehidupan beragama dalam Islam dijamin. Baik yang muslim atau non muslim. Dalam konsep Islam orang non muslim yang tinggal di dalam Daulah Islam, maka mereka non muslim yang tunduk dan patuh pada Daulah Islam (kafir dzimmi) akan hidup berdampingan dengan orang muslim dan akan dapat perlindungan oleh negara.

Mereka mendapatkan perlakuan yang sama dengan kaum muslim. Hanya terdapat beberapa aturan yang harus ditaatinya, yaitu tidak boleh memfitnah agama mereka, harta dan kehormatan merekapun dijaga dan dilindungi oleh negara. Sedangkan pada non muslim hanya dipungut jizyah semacam pajak yang khusus ditarik kepada laki-laki baligh dan mampu saja. Bagi yang tidak mampu, tidak dipaksa untuk membayar jizyah.
Beberapa perlakuan daulah Islam terhadap para kafir dzimi, yaitu:

1) Pungutan jizyah, hal ini berdasarkan Sabda Nabi Muhammad Saw, Sesungguhnya barang siapa yang masih mengikuti agama yahudi dan nasrani, maka ia tdak boleh diganggu dan ia harus membayar jizyah. HR abu hubaid.
Jizyah tidak hanya ditujukan kepada kaum Nasrani dan Yahudi saja. Tetapi juga kaum kafir lainnya di negeri Islam. Hal ini membuktikan bahwa tidak ada diskriminatif dalam negara Islam. Sebab kaum muslim sendiri juga di wajibkan untuk membayar zakat, bagi hartanya yang cukup untuk dizakati. Ini ditujukan pada Semua laki-laki non muslim yang mampu saja, yang tidak mampu, maka tidak dipaksa. Bahkan jika mereka tergolong orang yang fakir, maka mereka berhak mendapatkan santunan dari Baitul Mal (khas negara).

2) Memungut jizyah tanpa zolim. Yaitu dengan cara yang sopan, santun dan tidak mendzolimi serta tanpa kekerasan.

3) Perlakuan umum yang baik. Islam sangat menganjurkan dan mengajarkan kepada kaum muslim untuk bersikap baik, sopan, lembut dan memperhatikan kebutuhan dan kepentingannya. Bahkan kaum muslim pun berkewajiban menjaga keselamatan jiwa dan kehormatannya. Rosullah Saw bersabda “saya berwasiat untuk kholifah sesudahku begini dan begitu.dan saya juga berwasiat kepadanya untuk melakukan dzimah (janji) Allah dan Rosull Nya agar perjanjian dengan mereka ditunaikan, sehingga mereka berada di belakang (mendukung) ketika berperang dan agar tidak membebani mereka di luar kemampuan mereka”. HR Al Bukhori.

4) Kebebasan menjalankan keyakinan dan ibadahnya, sesuai keyakinannya.

5) Berkaitan dengan binatang sembelihan orang kafir, maka diatur sesuai syariat Islam. Kaum muslim boleh memakan binatang sembelihan ahli kitab(Nasrani dan Yahudi) namun tidak boleh jika berasal dari kafir musrikin selain ahli kitab. Seperti firman Allah Ta’ala dalam Qs Al Maidah ayat 5.

6) Kebolehan bermuamalah dengan kaum muslim. Seperti jual beli, sewa, perserikatan dan sebagainya tanpa ada diskriminasi.

7) Larangan melakukan mata-mata. Daulah Islam menerapkan hukum bagi mata-mata menurut ketentuan syariah. Yaitu kaum muslim tidak boleh melakukan aktifitas mata-mata kepada sesama muslim ataupun kepada kafir dzimmi. Sesuai Sabda nabi Saw yang artinya ” Sesungguhnya seorang amir jika ia mencari-cari atau (memata-matai) di tengah-tengah masyarakat berarti ia telah merusak mereka” . HR Abu Daud dan Abu Umamah.

Begitu pula orang kafir dzimmi juga tidak boleh memata-matai sesama kafir dzimmi ataupun kepada kaum muslim. Hal ini boleh dilakukan kepada kafir harbi(kaum kafir yang benar-benar menolak Islam) baik yang ada ikatan perjanjian dengan Daulah, atau yang meminta perlindungan keamanan, atau yang tidak memiliki hubungan apapun dengan Daulah Islam. Baik yang tinggal di wilayah daulah islam ataupun tinggal di wilayahnya sendiri. Begitulah agung dan mulianya Islam yang telah dicontohkan oleh Baginda Rosullah Saw.