Oleh: Kiki – Ummu Ghaziya

“Bodoh!” terdengar bentakan suara dari sudut rumah seorang gadis. Melihat seisi rumah yang setiap hari hanya di hiasi dengan kesepian. Ramainya bukan di isi oleh candaan anak kecil atau tawa ringan orang tua. Tetapi suara ramai hanya di isi oleh marahnya sang anak kepada ayahnya. Sang anak sudah bukan gadis lugu yang pantas berteriak-teriak untuk di dengarkan bahasanya oleh orang tua. Lebih pantas rasanya untuk mengeluarkan bahasa yang lembut terhadap orangtua. Mengingat usianya yang sudah mulai menginjak 40 tahun. Dari usia yang sudah tak lagi muda, tak lagi remaja, atau bahkan tak lagi anak-anak. Usia yang sudah menginjak kematangan, tak hanya itu sang anak pun rupanya wanita yang berpendidikan, dan mempunyai karir yang mumpuni. Huuh, mungkin karena beban pikirannya terlalu banyak, atau memang tabiat kerasnya yang tak pantas mengeluarkan kata-kata seperti itu kepada orang tua.

Rupanya sang anak sedang marah, lantaran sang ayah memohon agar ia segera menikah dengan laki-laki pilihan orangtua. Menginjak usia yang semakin tua, melihat kewarasan pendidikan dan karirnya yang mumpuni. Sang ayah sebagai wali mulai resah karena sang anak belum juga menikah di usianya yang semakin tua. Karena menyadari hakikatnya seorang ayah wajib mencarikan dan menikahi anaknya, maka sang ayah pun bergegas mencarikan pendamping hidup untuk sang anak. Sang ayah pun rindu tawa dan canda anak-anaknya dahulu, berharap tawa canda itu di gantikan oleh cucu-cucunya kelak.

“Hmh!” Hela nafas seorang ayah. Ternyata menurut sang anak, ayahnya salah dalam mencari pendamping hidup untuk dirinya. Karena menurut sang anak, pilihan orang tuanya tidak masuk dalam kategori laki-laki idamannya. Lantas, mengapa tidak mencari sendiri agar cocok dengan kriteria yang sang anak inginkan. Dengan usianya yang sudah mau menginjak 40 tahun, mengapa belum ada yang cocok untuk dirinya. Padahal ayahnya mana mungkin mencarikan laki-laki yang sembarangan untuk bakal calon suami anaknya. Mana mungkin sang ayah menjerumuskan anaknya kepada laki-laki yang tidak baik.

Ayahnya mencoba tetap sabar dan berbicara baik-baik terhadap sang anak. Agar dapat berbicara dari hati ke hati, namun sang anak menolak dan malah bergumam kasar terhadap sang ayah. “Laki-laki seperti apa yang kamu inginkan nak?” tanya lirih sang ayah. “Yang sudah mandiri, sudah sukses, yang bisa mewujudkan segala impianku”, jawab sang anak. Rasanya itu semua adalah urusan dunia yang menjadi kriteria sang anak dalam mencari pendamping hidup.

Padahal, tujuan menikah bukan hanya urusan dunia. Karena dunia bisa di gapai bersama-sama saat sudah menikah nanti. Masalah kemapanan, banyak terjadi justru saat laki-laki telah memiliki biduk rumah tangga. Yang perlu diketahui adalah tujuan menikah dalam Islam. Karena menikah salah satu yang ada pada syariat Islam. Islam lah yang menyuruh kita untuk menikah. “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendiri (perempuan yang tidak mempunyai suami atau laki-laki yang tidak memiliki istri) di antara kalian dan orang-orang saleh di antara para hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka dalam keadaan miskin, Allahlah yang akan menjadikan kaya dengan karunia-Nya” (QS an-Nur [24]: 32). Begitupun Rasullullah saw bersabda, “Nikah itu adalah sunahku. Barang siapa yang menolak sunahku, ia bukanlah termasuk golonganku” (HR Ibnu Majah, dari Aisyah RA).

Dan tujuan pernikahan dalam Islam yaitu. Melaksanakan sunah Rasul, memenuhi tuntutan naluri manusia dalam berkasih sayang, menyempurnakan agama, memperoleh ketenangan, memperoleh keturunan, dan sebagai investasi akhirat. Dunia tak menjadi tujuan utama pernikahan dalam Islam. Takut menikah dengan yang belum sukses, seakan-akan matematika kita tentang rezeki dan takdir lebih pintar daripada Allah SWT. Padahal Allah SWT telah menjamin dengan karunia Nya terhadap hamba Nya yang menikah. Takut menikah dengan laki-laki yang tidak mandiri, justru bersama istrinya kelak ia bisa mandiri membangun biduk rumah tangga, bisa lebih bertanggung jawab karena Allah SWT telah memberi amanah baru dalam hidup suaminya yaitu istri dan anak-anak. Takut setelah menikah impian tentang dunianya terkubur, lantas menikah itu memang bukan hanya di dunia saja. Jika memang tak Allah SWT berikan impiannya di dunia, kita harus pastikan dengan ketaatan kita kepada Allah SWT. Bahwa impian-impian kenikmatan akan Allah SWT gantikan di surga Nya kelak.

Menikah itu bukan membersamai hanya di dunia, tetapi membersamai kelak di Surga Nya Allah SWT. Dengan bersama-sama kita taat kepada Allah SWT, saling mendukung dalam amal solih. Nikmat mana lagi yang lebih indah, selain nikmat saat bersama kelak di Surga Nya Allah SWT. Duhai jiwa lepaskanlah genggaman duniamu. Perbaikilah tujuanmu dalam menikah. Hapuslah resah ayahmu, dan kuburlah dalam-dalam dosa berwujud marah terhadap ayahmu. “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (Al-Israa’ : 23)

Sebelum engkau menikah, maka ridho Allah SWT masih ada dalam genggaman ayahmu. Duhai perempuan hiasilah dirimu dengan pakaian takwa, hiasilah dirimu dengan lemah lembut, hiasilah dirimu dengan terus memperbaiki diri sebagaimana diri para sahabiyah. Dan ubahlah impian duniamu, dengan mengubahnya hanya untuk mengharap rahmat Allah SWT.