Oleh: Ustadzah Yanti Tanjung

Anak yang biasanya rutin bangun pagi setiap hari dan bersemangat menyambut pagi melaksanakan shalat subuh lalu bersiap-siap berangkat ke sekolah bisa-bisa berantakan saat sekolah programnya pindah ke rumah di musim wabah corona ini.

Anak yang sudah menguasai habit pola harian di pondok saat pulang ke rumah belum tentu ritme pondok bisa dibawa ke rumah. Di pondok terbiasa bangun tahajjud dan setelahnya muraja’ah atau menambah hafalan bisa bubar saat berada di rumah.Karena nya ayah bunda senantiasa siaga jangan dibuat kendor agar anak-anak tetap melaksanakan aktifitas sebagaimana mestinya.

Pola harian ananda adalah aktifitas yang dilakukan secara berulang-ulang namun teratur untuk membentuk kepribadian Islam anak, pola berpikirnya islami dan pola prilakunya juga islami. Kehidupan ini berpiola dengan segala keteraturannya wujud dari Allah Maha Pencipta (al-Khaliq) dan Maha Pengatur(Al-Mudabbir).

Allah ciptakan subuh hari lalu pagi,kemudian siang,berikutnya sore hari kemudian memasuki malam. Setelah malam itu akan terbit lagi fajar menyambut subuh,lalu pagi,siang,sore danmalam. Begitu seterusnya. Inilah yang disebut pola rutinitas yang tetap dengan segala keteraturannya.

Maka di setiap perputaran matahari,siang dan malam Allah mengajarkan kepada kita aktifitas-aktifitas apa saja yang harus dilakukan di waktu-waktu yang ditentukan tersebut.
Jam berapa seharusya ananda bangun pagi dan apa saja kegiatan yang harus dilakukan di waktu terbaik tersebut ? Inilah yang harus dipahami ayah bunda dan ananda.

Allah memerintahkan setiap anak muslim bangun subuh minimal sebelum azan berkumandang agar bisa shalat tahajjud terlebih dahulu. Kebiasaan ulama mandi sebelum tahajjud setelahnya murajaah hingga azan subuh. Setelah shalat subuh tidak tidur lagi,bisa lakukan berdzikir pagi atau tilawah Alquran lalu shalat syuruq. Barulah birrul walidaynbantu-bantu umi menatarumah dan merapihkan yang bisa dirapihkan,berikut sarapan pagi.

Kisaran jam 7 ananda sudah disibukkan dengan kegiatan sekolah,saat ini tentunya via on line. Ayah bunda secara bergantian mendampingi atau menyiapkan ananda mandiri melakaukannya dikasih sarananya secara terbatas,hingga waktunya qailulah.

Pas azan zuhur anak-anak shalat zuhur dan biasakan setelahnya murajaah lalu makan siang,jika masih ada agenda kegiatan sekolah maka tuntaskan, setelah itu ananda bisa melakukan kegiatan bebas. Pada waktu setelah belajar on line sampai menjelang sore biasanya tanpa kegiatan maka rentang waktu ini siapkan kegiatan2 kreatif agar-anak2 senang dan bahagia dan tidak bete.

Sorenya mandi ,yang terbiasa makan sore bisa makan di waktu ini yang tidak bersiap shalat maghrib lalau makan malam. Lakukan isya tepat waktu jangan ditunda untuk menghindari kelalaian dan godaan rasa ngantuk karena kelelahan.

Setelah isya buat program kultum bisa dari ayah, bunda atau dari anak-anak yang sudah besar.Kultum bisa juga setelah waktu maghrib jika makannya di sore hari, lakukan sampai waktu isya. Kultum ini ruang berdiskusi dan saling berkomunikasi serta koreksi diri apa saja yang kurang dan apa saja yang harus ditingkatkan. Penting untuk merapihkan pemahaman dan memberikan motivasi-motivasi ruhiyyah untuk keluarga.

Setelah isya, lakukan rehat-rehat bermanfaat dan persiapan-persiapan buat besok,jangan tidur melebihi jam 21.00 WIB karena ananda harus bangun tahajjud atau minimal sesaat sebelum azan subuh.

Agar Allah mudahkan bangun ananda biasakan bersihkan kasurnya,sikat gigi, berwudhuk. Tidur miring ke kanan sambil berdzikir setelah membaca 3 surat terakhir dari Alquran dan ayat kursi. Bisa juga dibacakan cerita terlebih dahulu atau mendengarkan murattal.

Semua pola hidup seorang muslim sudah ada tauladan rasulullah saw.,maka ananda terikat dengan pemikiran Islam dan syariah Islam. Namun untuk mendapatkan pembiasaan harian pola hidup seorang muslim ini membutuhkan riyadhah atau latihan secara disiplin agar lama-lama ringan melakasanakannya.

Menguasai pola harian ananda di rumah ini butuh kekuatan pola pikir ayah bunda dan pola jiwa yang senantiasa tunduk pada syariah Allah swt lalu diaruskan kepada ananda. Juga harus memiliki kesadaran ruhiyyah yang tinggi. Karena jika ayah bundanya kendor maka ananda juga ikut kendor dalam realisasi.

Wallahu a’lam bishshowab