Oleh : Irayanti
(Pemerhati Sosial Politik)

Wabah corona benar-benar telah membuat publik panik. Sejumlah stigma telah diterima perawat dan tenaga kesehatan di berbagai daerah, termasuk di Jawa Tengah. Ada yang terusir dari kosnya, dijauhi oleh masyarakat bahkan keluarganya di kucilkan. Lebih ironisnya, kepanikan tersebut berujung pula pada penolakan pemakaman tenaga kesehatan yang terinfeksi. Sungguh peristiwa yang mengoyak rasa kemanusiaan.

Saling menzalimi

Ketika segenap masyarakat diminta #stay at home, hal sebaliknya justru dijalankan oleh dokter, perawat, analisis kesehatan laboratorium, farmasi, cleaning service, petugas administrasi, petugas satuan pengamanan, teknisi prasarana dan sarana serta semua profesi terkait yang bekerja di fasilitas-fasilitas kesehatan. Sejak awal sejatinya mereka telah bertaruh nyawa dalam melaksanakan tugasnya berada di garda terdepan melawan pandemik covid-19 ini.

“Mereka telah digaji, jangan mengeluh. Memang begitulah resikonya menjadi dokter harus bertaruh nyawa, sudah bersumpah pula”

Sungguh, pernyataan yang sangat tidak manusiawi selaku manusia. Bukankah kita bersama menginginkan pandemik ini segera berakhir dengan bekerja sama? Para tenaga medis bukan saja bertaruh nyawa namun harus bertaruh rasa. Rindu keluarga tapi tak bisa bertemu, lalu tak cukup dengan itu diperlakukan pula dengan begitu teganya. Astaghfirullah. Bayangkanlah jika berada pada posisi mereka.

Dalam sehari, sebagian besar mereka harus bertugas 12-15 jam dengan durasi 24 jam nonstop walaupun sebagian dari mereka masih kekurangan APD. Anehnya, justru terlihat pemerintah Indonesia abai kepada para tenaga medis dan yang bekerja di fasilitas kesehatan. Mereka hanya bisa mengandalkan bantuan dari masyarakat dan organisasi, bahkan mereka harus membeli APD sendiri bahkan harus membeli jas hujan sendiri di supermarket atau pasar karena ketersediaan APD yang terbatas. Sontak beberapa hari lalu para anggota DPR berfoto menggunakan APD memanen sinisme publik hingga beredar video salah satu tenaga medis menangis melihat foto tersebut. Dzalim sekali

Bukan saja pemerintah Indonesia yang bisa berbuat zalim, sebagian masyarakat pun melakukan hal yang sama dengan melakukan pengusiran kepada tenaga medis, mengucilkan keluarga tenaga medis hingga penolakan pemakaman tenaga medis yang positif adalah bagian penyempurna kezaliman di tengah wabah.

Minim edukasi, Bobroknya Kapitalisme

Berbicara tentang wujud kepedulian dan penghargaan negara terhadap tenaga kesehatan sejatinya adalah dengan mengurangi bertambahnya pasien sejak awal. Yaitu dengan mendengarkan pendapat para pakar untuk melakukan karantina wilayah beserta konsekuensinya menyediakan kebutuhan masyarakat. Sayang pemerintah mengabaikan saran tersebut dan membuat pandemik semakin menyebar. Penghargaan dengan membuatkan makam pahlawan bagi tenaga kesehatan dan menyematkan gelar pahlawan seperti yang dinyatakan oleh Ganjar Purnomo pun bukanlah penghargaan terbaik. Bagaimana mempertahankan harapan hidup tanaga kesehatan, mewujudkan keamanan mereka dengan menyediakan sarana prasaran mumpuni dan ketenangan psikologis itulah yang sejatinya. Mengedukasi masyarakat untuk bekerja sama dalam memerangi pandemik agar tidak melakukan tindakan-tindakan seperti pengusiran, penolakan pemakaman bagi tenaga medis mesti dilakukan juga.

Pemerintah sendiri terlihat plin plan dalam mengambil kebijakan sehingga masyarakat kebingungan bahkan kebijakan pemerintah sendiri cenderung membawa masalah baru. Misalnya pembebasan napi dengan dalih mencegah terkena covid-19. Pemerintah tak mau lockdown takut ekonomi slowdown tetapi dalam situasi genting seperti saat ini para pemangku kekuasaan malah ingin mengesahkan UU Minerba yang menguntungkan para kapitalis. Alih-alih mengucurkan dana yang besar dari gaji mereka, malah menjadikan utang berkepanjangan sebagai jawaban pendanaan melawan covid-19. Pemerintah yang mengutang, rakyat yang buntung.

Inilah realitas hidup dalam sistem kapitalisme dan di bawah penguasa yang abai terhadap rakyatnya. Dari wabah ini semakin menampilkan kebobrokan sistem yang bersembunyi dibalik topeng pancasila. Para pemangku kekuasaan hanya mementingkan diri dan para kapitalis yang syarat akan kepentingan. Sistem kapitalisme dan penguasanya lebih mementingkan material ekonomi daripada nyawa rakyatnya, terlebih jika memisahkan agama dalam pengurusan kehidupan bernegara (sekulerisme). Semoga Allah membuka hati kita semua, bahwa inilah akibat menjadikan manusia sebagai pembuat aturan. Ketahuilah manusia terbatas dan lemah hingga tidak akan mampu memutuskan yang terbaik jika tidak menjadikan aturan Pencipta sebagai pedoman dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara.

Solusi Islam

Memimpin rakyat yang banyak itu sulit, terlebih tidak menerapkan aturan-Nya. Dan kezaliman akan tetap terjadi jika tidak memerintah dengan merujuk pada wahyu Allah sebagaimana Firman-Nya:
“Siapa saja yang tidak memerintah/berhukum dengan wahyu yang telah Allah turunkan, merekalah pelaku kezaliman.” (QS. Al-Maidah[5] :5)

Karena itu di dalam negara Islam, pemerintah akan selalu terikat dengan tuntunan syariah termasuk dalam mengatasi wabah sehingga masyarakatpun tidak ikut-ikutan berbuat kezaliman kepada sesama. Pemerintah dalam negara yang menerapkan Islam akan bekerja keras dan serius untuk membatasi wabah penyakit di tempat kemunculannya sejak awal dengan langkah-langkah berikut.

Pertama, melakukan karantina wilayah terdampak. Metode karantina pada wilayah yang telah terjadi wabah didalamnya adalah tidak mengizinkan masyarakat di wilayah wabah untuk keluar dari wilayah wabah begitupula masyarakat yang berada di luar wilayah wabah tidak dibolehkan untuk masuk ke wilayah wabah. Jadi, wilayah yang tidak terdampak wabah tetap akan menjalani aktivitasnya seperti biasa tanpa takut akan wabah sehingga kehidupan social dan ekonomi tetap berjalan.

Kedua, negara wajib menjamin pelayanan kesehatan berupa pengobatan secara gratis untuk seluruh rakyat di wilayah wabah tersebut. Negara juga harus mendirikan rumah sakit, laboratorium pengobatan, dan fasilitas lainnya yang mendukung pelayanan kesehatan masyarakat agar wabah segera berakhir misal APD, juga memberi dana bagi para ahli untuk melakukan penelitian untuk menemukan obat yang akan dibagikan kepada masyarakat secara gratis pula.

Ketiga, negara menjamin kebutuhan dasar rakyat khususnya kebutuhan pangan sehingga rakyat tidak perlu takut “mau makan apa’ jika stay at home.

Inilah langkah-langkah nyata dan sahih yang akan dilakukan oleh negara yang menerapkan syariah Islam secara kaffah. Semoga pandemik corona ini segera berakhir, aamiin.

Wallahu a’lam bi ash showwab