Oleh: Desi Wulan Sari (Revowriter Bogor)

Marhaban ya Ramadhan.
Beberapa hari lagi bulan Ramadhan datang. Seluruh umat muslim dunia menyambut bulan penuh rahmat. Kondisi ini mungkin tidak akan sama dengan Ramadhan yang lalu. Walau sukacita tetap hidup tetapi kali ini harus dijalani dengan cara yang berbeda.

Terbayangkah hidangan kolak di meja saat menunggu maghrib datang? Tentunya umat muslim, khususnya di Indonesia akan selalu mencoba menghadirkan menu kolak untuk takjil saat berbuka. Aneka kolak menjadi pilihan menu untuk diolah. kolak pisang, kolak ubi, kolak singkong, kolak tapai, dan lain sebagainya. Hidangan khas ini seakan-akan menjadi tradisi pembuka di bulan Ramadhan yang tak pernah ketinggalan. Tua, muda, kaya, miskin semua bisa ikut menikmatinya.

Tetapi khusus Ramadhan tahun ini, akankah hadir di setiap meja hidangan kolak favorit kita? Membayangkan masa sulit saat ini, di tengah-tengah pandemi wabah Corona, badai PHK yang melanda, isolasi mandiri bagi seluruh warga, bahkan aturan PSBB yang semakin mempersempit gerak warga untuk hidup mencari nafkah. Ketika berbagai kalangan mampu menikmati hidangan khas kolak Ramadhan, sepertinya kali ini bagi rakyat yang terimbas ekonominya oleh wabah Corona hanya akan gigit jari saja. Jangankan kolak sedangkan makanan pokok harian saja mereka sudah ketar- ketir berpikir, akankah esok hari, diri dan keluarganya bisa makan ataukah tidak? Astagfirullahaladziim.

Biarlah kali ini Ramadhan hadir dengan kesederhanaan, keprihatinan tetapi keimanan, ketakwaan dan pahala tetap besar karena hanya mengharap ridho Allah swt. Jika berharap pada sistem korup dan penuh keburukan seperti kapitalis saat ini, kesulitan dan masalah rakyat seperti ini tidak akan pernah terselesaikan. Buktinya cara berpikir mereka semakin tidak masuk akal bahkan cenderung mengambil teori pada versinya masing-masing. Bukannya melihat syariat yang secara tegas dan nyata telah mengatur berbagai permasalahan manusia.

Seperti yang disampaikan seorang penulis buku A Man Called Ahok, mengusulkan pada MUI untuk membolehkan tidak puasa saat Ramadhan selama Corona dan diganti dengan bayar fidyah bagi orang miskin, dikatakan ini adalah cara yang paling ideal dalam membantu di masa Pandemi (kalteng pos.co, 16/4/2020).

Sesungguhnya jika manusia berbicara tidak menggunakan ilmu maka kehancuran yang akan didapatkan. Allah swt berfirman:

Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَاْلإِثْمَ وَالْبَغْىَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا بِاللهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ
Katakanlah: “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa saja yang tidak kamu ketahui (berbicara tentang Allah tanpa ilmu)” (Al-A’raf:33)

Sejatinya seorang muslim adalah yang selalu memperhatikan satu sama lain. Mereka akan selalu menolong kesulitan apalagi kelaparan tetangganya sendiri. Bukan dengan meninggalkan perintah Allah dengan tidak berpuasa demi menolong sesama. Justru moment puasa Ramadhan menjadi tempat seorang muslim mendulang pahala sebanyak-banyaknya. Jika seseorang memiliki kelebihan harta pasti akan berlomba-lomba untuk disedekahkan. Tidak dengan jalan fidyah yang dipaksakan.

Tulisan itu seakan-akan ingin mengalihkan tangung jawab penjaminan kebutuhan dasar warga yang merupakan tanggung jawab pemerintah menjadi tanggung jawab rakyat.

Harus dibedakan antara infak sedekah yang bernilai sunnah dengan pemenuhan kesejahteraan rakyat yang sifatnya wajib bagi penguasa

Saat Islam hadir untuk umat, Daulah Islam dengan khilafah nya telah memberi teladan di masa khalifah Umar bin Abdul Aziz, beliau khalifah ke-8 dinasti ummayah, memimpin negara dengan adil dan bijaksana. Seorang yang berpegang teguh pada syariat Allah swt. Beliau berhasil membuat rakyat yang dipimpinnya dalam kondisi cukup dan makmur. Tak ada satupun yang mau menerima zakat dari negara karena merasa tidak bethak menerimanya (merasa cukup bagi diri dan keluarganya). MasyaAllah suatu teladan yang tinggi hingga akhir zaman.

Biarlah hidangan kolak di Ramadhan sekarang hilang di menu meja kita hari ini. Kita dapat mengganti menu kolak kita dengan beras atau bahan pokok apapun untuk saudara-saudara kita yang membutuhkannya. Kita hadapi bersama masa sulit ini. Kita hadapi bersama dalam mengatasi Corona dengan tetap bertawakal, beramal solih kepada sesama. Jika kolak itu manis, maka berbagi pun juga manis ditambah dengan pahala dari sang Maha Pemurah, Maha Penyayang dan Maha Pemberi Rizki. Wallahu a’lam bishawab.[]