Oleh: Sri Wahyuni, S.Pd (Banyuwangi)

Sudah berbulan-bulan pandemi virus covid-19 menghantui masyarakat dunia. Hingga sabtu 18 april 2020 tercatat telah ada 2,24 juta orang yang terinfeksi virus. Akibat dari kondisi ini, aktivitas lumpuh di berbagai negara. China, sebagai negara asal virus tersebut bahkan hingga kini masih berjuang mengakhiri penyebaran pandemi. Meski beberapa waktu lalu tak lagi melaporkan adanya kasus kematian selama beberapa waktu, namun pada jumat 17 april 2020, China kembali melaporkan adanya kasus kematian baru akibat covid-19 yang mencapai 1.290 kematian. Sementara itu, di Amerika serikat justru menjadi negara dengan jumlah pasien terinfeksi paling besar di dunia. Dari data yang diungkap oleh John hopkins university menyebut di negeri paman sam, jumlah pasien positif mencapai  699.706 orang dan setidaknya 34.575 meninggal dunia. Akibat kondisi tersebut, presiden Amerika Donald Trump dianggap lelet oleh rakyatnya dalam menangani pandemi. Di indonesia sendiri perjuangan melawan covid-19 juga belum berakhir, korban terus berjatuhan setiap hari. Bahkan tak sedikit dari paramedis yang gugur akibat serangan virus tersebut.

Jika berkaca pada negara seperti Amerika dan China dengan perekonomiannya yang maju dan kecanggihan teknologi yang mereka miliki namun hal tersebut tak lantas membuat rendahnya angka penularan serta kematian di negara tersebut. Nah apa sesungguhnya penyebab sulitnya pandemi tersebut untuk segera diakhiri dan bagaimana solusi Islam atas hal ini?

Dalam penanganan penyebaran virus, hal ini harusnya dilakukan pencegahan penularan sejak awal yakni dengan menutup sementara waktu akses masuk-keluar ke wilayah tsb sampai wabah berhenti, agar wabah tak meluas ke wilayah lain. Namun sangat disayangkan adanya ketidakjujuran informasi terkait covid-19 membuat penyebaran wabah kian meluas. Pada tanggal 31 desember China hanya melaporkan kepada organisasi kesehatan dunia (WHO) tentang virus tersebut, tetapi menyebut tidak ada bukti virus dapat menulat dari antar manusia. Bertolak belakang dari pernyataan tersebut, seorang dokter asal Wuhan yang melaporkan penemuan pasien terinfeksi virus covid-19 dalam sebuah wawancara di media China justru mengungkap banyak data dan foto yang saat itu masih ditutup-tutupi Pemerintah Tiongkok, dalam wawancara tersebut dirinya juga meminta masyarakat dan pemerintah untuk berhati-hati. Namun setelah wawancara itu, sang dokter dipaksa menandatangi dokumen yang menyatakan bahwa informasi yang dilontarkannya adalah palsu (01/04/20). Disini terlihat jelas bahwa adanya ketidakterbukaan infomasi.

kesalahan fatal berikutnya adalah ketidakmandirian negara dalam mengelola kesehatan rakyatnya. Negara justru mewakilkan pengelolaannya kepada pihak lain seperti perusahaan asuransi dan perusahaan farmasi yang jelas tak akan memedulikan apapun kecuali meraih keuntungan atas kerja sama tersebut. Sebut saja BPJS yang tak sepenuhnya mengcover biaya pengobatan penyakit pesertanya, terlebih pada penyakit-penyakit berat termasuk covid-19. Akibat dari kondisi ini, keselamatan nyawa rakyat sangat tergantung dengan nominal yang mereka miliki. Dengan demikian sebesar apapun dana yang dimiliki negara tentu tak akan mensolusi jika pengelolaannya tidak tepat. Lebih jauh lagi, negara justru memuluskan kerja sama ini dengan menerbitkan peraturan yang melindungi perusahaan tersebut demi menjaga sahamnya.

Demikianlah buruknya pelayanan negara kepada rakyat dalam sistem kapitalisme. Bertolak belakang dengan kondisi tersebut, Islam justru melarang negara menyerahkan tugasnya pada pihak lain. Negara dalam Islam melakukan pengelolaan kesehatan secara langsung dan tidak mengizinkan pihak lain ikut campur dalam urusan kenegaraan, maka pengobatan dalam negara pun digratiskan. Hal ini dicontohkan langsung oleh Rasulullah Saw dengan memberikan dokter khusus untuk melayani setiap masyarakat muslim. Rasulullah Saw juga mengirimkan dokter pada Ubay bin Kaab ketika ia sakit untuk membedah penyakitnya. Hal yang sama pula dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab r.a yang memanggilkan dokter untuk merawat ayah Zaid bin Aslam.

Selain itu, negara juga tak akan memberikan peluang bagi individu untuk dapat menggantikan peran negara sebagaimana yang kini dilakukan oleh sistem kapitalisme. Dengan demikian, negara dapat berperan penuh dalam melayani rakyat dengan kapasitas yang mumpuni. Maka dari itu, menyudahi hegemoni kapitalisme dan menggantinya dengan sistem terbaik yaitu Islam adalah solusi tepat dalam menyelamatkan nyawa rakyat.