Oleh : Dwi Miftakhul Hidayah, S.ST (Aktivis Muslimah)

Pandemi Covid-19 belum juga angkat kaki dari bumi pertiwi hingga detik ini. Peta sebarannya bahkan kian merah membara dimana-mana. Tercatat per 21 April 2020 angka positif Covid-19 mencapai 6.760 kasus yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia. Sementara di seluruh dunia telah mencapai 2.481.287 kasus (www.worldometers.info, 21/04/20).

Dalam kondisi duka dunia hari ini, ada saja pihak-pihak yang mecoba memancing di air keruh. Seperti yang diberitakan Republika dalam lamannya (11/04/20), kelompok-kelompok sayap kanan telah mengambil keuntungan dari ketakutan orang-orang terhadap pandemi Covid-19, melalui teori konspirasi dan disinformasi dengan menjelek-jelekkan kaum Muslim, dan menyebarkan propaganda Islamofobia. Ya, Islamofobia seolah dengan sengaja diikutkan dalam pusaran wabah ini. Hembusan Islamofobia bukan hanya terjadi di Barat, di Asia pun isu ini menjadi santapan para pembenci Islam, terutama di India.

Bahkan Covid-19 dikaitkan dengan ajaran Islam yang mulia yakni jihad. Tagar #coronajihad digunakan hampir 300 ribu kali antara 29 Maret dan 3 April, sebagian besar di India dan AS. Organisasi ini melacak ratusan tagar anti-Muslim, banyak yang menggambarkan Muslim sebagai pembom bunuh diri yang diikat dengan “bom virus” dan termasuk istilah-istilah seperti “#IslamicVirus, #BioJihad, dan #MuslimVirus” (www.republika.co.id, 11/04/20).

Kebencian yang sudah mendarah daging membuat mereka buta akan fakta hingga menjadikan hoax sebagai dalih. Seperti kasus video yang terjadi di Inggris yang disebarkan oleh Tommy Robinson, pendiri kelompok radikal Liga Pertahanan Inggris (EDL), dengan klaim adanya “masjid rahasia” di Birmingham. Namun faktanya video dan foto itu sudah lama, jauh sebelum wabah virus corona dan dikeluarkannya larangan keluar rumah di Inggris (www.today.line.me, 12/04/20).

Tuduhan salah alamat juga terjadi di India. Pihak berwenang India mengaitkan hampir 1.000 kasus Covid-19 dengan kelompok Muslim yang mengadakan konferensi tahunannya. Para politisi dengan cepat menyalahkan populasi Muslim untuk penyebaran virus. Namun penilaian tersebut salah, mayoritas populasi Muslim India mengutuk acara tersebut dan menghormati seruan karantina (www.republika.co.id, 11/04/20).

Sederet kejadian tersebut semakin memperlihatkan bagaimana Islamofobia telah menjelma menjadi penyakit kronis yang melanda dunia, bahkan sejak 2001 lalu saat terjadi pengeboman gedung WTC (World Trade Center) yang diklaim Barat sebagai tindak terorisme yang didalangi oleh jaringan kelompok Islam. Sejak itu, Barat mengkampanyekan gerakan War on Terror yang menjadi cikal bakal Islamofobia di dunia. Gerakan ini bermaksud menjadikan Islam sebagai common enemy (musuh bersama). Dunia seakan diajak bersatu untuk berperang melawan Islam, baik pemeluk maupun ajaran-ajarannya.

Sebagai pengemban ideologi kapitalisme, Barat tentu tak ingin hegemoninya diusik. Ketakutan Barat semakin tak terbendung tatkala dewan riset mereka sendiri yakni NIC (National Intelligence Council) telah memprediksi akan tegaknya sebuah peradaban baru di dunia pada tahun 2020 ini. Peradaban tersebut tak lain adalah peradaban Islam. Barat bahkan rela menggelontorkan dana yang tak sedikit demi mempertahankan posisinya sebagai pemimpin peradaban, bahkan dengan segala cara, salah satunya adalah dengan mempropagandakan Islamofobia. Barat hendak menciptakan ketakutan dunia pada hal-hal yang berbau Islam dengan harapan dapat mencegah kebangkitan Islam.

Usaha Barat itu nampaknya akan segera menuai kegagalannya. Sebab adanya Islamofobia justru menunjukkan kepada dunia bahwa peradaban yang dipimpin ideologi kapitalisme ini tak akan pernah berhasil menciptakan perdamaian dan anti diskriminasi –nilai universal yang didamba seluruh umat manusia. Dunia terus menerus mencatat kasus-kasus Islamofobia yang dilakukan oleh kelompok terorganisir dan para politisi dalam kampanyenya. Seperti halnya dalam kondisi wabah hari ini, umat Muslim justru menjadi korban tindakan diskriminasi dan kebencian non Muslim dengan adanya tuduhan menjadi sumber sebaran wabah dan sengaja menyebar virus untuk membunuh non Muslim.

Amat teramat sangat jauh berbeda dengan Islam. Islam adalah sebuah ideologi (mabda’) yang apabila diterapkan pada suatu negeri akan mengantarkan pada kemaslahatan bagi seluruh penduduk negeri tersebut, baik itu Muslim maupun non Muslim. Hal ini terekam jelas dalam perjalanan peradaban dunia. Memang benar peradaban dunia telah silih berganti. Namun, peradaban yang mulia tentu akan membekas dalam ingatan. Bahkan tak sedikit tokoh Barat yang mencurahkan kekagumannya pada peradaban Islam.

Carleton S. (Carly) Fiorina, CEO Hewlett-Packard, menyampaikan dalam ceramahnya pada 26 September 2001 yang berjudul Technology, Business and Our Way of Life : What Next, “Peradaban Islam merupakan peradaban yang paling besar di dunia. Peradaban Islam sanggup menciptakan sebuah negara adidaya kontinental yang terbentang dari satu samudra ke samudra lain, dari iklim utara hingga tropik dan gurun dengan ratusan juta orang tinggal di dalamnya, dengan perbedaan kepercayaan dan asal suku… Tentaranya merupakan gabungan dari berbagai bangsa yang melindungi perdamaian dan kemakmuran yang belum dikenal sebelumnya.”

T.W Arnold, seorang orientalis dan sejarawan Kristen, bahkan memuji toleransi beragama yang terjalin antar umat beragama di dalam bukunya yang berjudul The Preaching of Islam : A History of The Muslim Faith, “Perlakuan terhadap warga Kristen oleh Pemerintah Khilafah Turki Utsmani –selama kurang lebih 2 abad setelah penaklukan Yunani– telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa.”

Keharomonisan hubungan beragama juga ditemukan di Andalusia (kini Spanyol) yang kala itu dipimpin oleh Kekhilafahan Umayyah. Maria Rosa Menocal, seorang Profesor Bahasa Spanyol dan Portugis di Yale University, dalam bukunya “Surga di Andalusia: Ketika Muslim, Yahudi dan Nasrani Hidup dalam Harmoni”, melukiskan bagaimana dibawah pemerintahan Dinasti Umayyah yang berkuasa di Andalusia (756-1492M), tiga agama: Islam, Yahudi dan Nasrani bisa hidup berdampingan dengan damai di bawah penerapan hukum Islam.”

Tak heran mengapa kegemilangan itu mampu bertahan hingga 13 abad lamanya. Sang suri tauladan terbaik Baginda Nabi SAW jauh sebelumnya yakni pada masa awal tegaknya pemerintahan Islam di Madinah telah mempraktikkan sendiri bagaimana Islam mengatur kehidupan berdampingan dengan non Muslim. Di Madinah kala itu tak hanya dihuni oleh pemeluk agama Islam, pun juga ada orang-orang Yahudi. Hal ini terdokumentasi dengan jelas dalam Piagam Madinah. Salah satu pasal Piagam Madinah menyebutkan, “Orang-orang Yahudi Bani ‘Auf merupakan satu bangsa dengan umat Islam. Orang Yahudi berhak memeluk agama mereka, dan kaum Muslim pun berhak memegang agama mereka.”

Wabah ini telah membuka wajah asli kapitalisme. Ideologi ini sama sekali tak layak dijadikan sebagai pemimpin peradaban sebab darinya yang lahir bukanlah perdamaian dunia, melainkan semakin suburnya sentimen-sentimen bernada agama baik skala internasional maupun nasional. Sudah selayaknya dunia ini segara beralih pada kepemimpinan Islam, yang dengannya akan tercipta sebuah peradaban yang mulia. Peradaban yang mampu mewujudkan angan-angan semu kapitalisme. Sebuah peradaban yang telah memberikan buktinya dalam menciptakan perdamaian dan anti diskriminasi di dunia ini. Orang-orang yang hidup di dalamnya pun leluasa untuk menjalankan ibadah dan ajaran agama masing-masing tanpa ada sikap paranoid antar umat beragama. Tidakkah kita merindukan suasana kehidupan seperti itu?

Wallahua’lam bishshawab