Oleh : Sari Purnama C , SE
(Alumni IESP FE UNDIP)

Kemiskinan merupakan realita yang sangat mudah kita temui dimanapun baik di desa maupun di kota. Dibalik kemegahan dan gemerlapnya gedung gedung tinggi pencakar langit dan spot-spot kota yang disulap cantik semisal Jakarta, tak sulit kita jumpai rumah rumah kumuh di bantaran sungai, di pinggir rel kereta, anak-anak jalanan yang berkeliaran di jalan jalan raya.

Di desa Wanasaba kabupaten Lombok Timur bisa kita jumpai potret kemiskinan . Tahun 2015 di desa tersebut terdapat lebih 350 anak yang ditinggal ibu, bapak bahkan keduanya untuk bekerja sebagai buruh migran TKI di luar negeri. Jumlah yang hampir sama juga ditemukan di desa tetangganya Lenek lauk ( bbc.com)

Kepala Bappenas Bambang Brojoseno mengklaim jumlah masyarakat miskin di Indonesia terus mengalami penurunan sejak 2015. Sampai tahun 2018 persentasenya 3,57 persen kalau disetarakan adalah 9,4 juta jiwa. Jadi masih ada 9,4 juta jiwa penduduk Indonesia yang masih kategori miskin kronis atau sangat miskin ( tirto.id )

Faktor Penyebab Kemiskinan

Banyak faktor yang menyebabkan seseorang menjadi miskin. Secara garis besar ada 3 faktor penyebabnya :

Pertama, Kemiskinan Alamiah yaitu kemiskinan yang disebabkan oleh kondisi alami seseorang misal cacat mental, cacat fisik, usia lanjut dan lain lain.

Kedua, Kemiskinan Kultural yaitu kemiskinan yang diakibatkan oleh rendahnya SDM akibat kultur masyarakat, misalnya malas, tidak produktif dan lain lain.

Ketiga, Kemiskinan Struktural yaitu kemiskinan yang disebabkan oleh kesalahan sistem dan kebijakan yang digunakan negara untuk mengatur urusan rakyat.

Dari ketiga sebab utama tersebut yang paling besar pengaruhnya adalah kemiskinan struktural sebab dampak yang ditimbulkan bisa sangat luas dalam masyarakat dan ini sangat membahayakan.

Salah satu kebijakan pemerintah untuk menggenjot penurunan angka kemiskinan di berbagai sektor adalah pemberdayaan perempuan kepala keluarga seperti langkah yang diambil pemerintah Jawa Tengah.

Diakui perempuan yang terpaksa menjadi kepala keluarga mempengaruhi kemiskinan mencapai angka 40 persen dan salah satu upayanya adalah pengarusutamaan gender untuk menghapus diskriminasi perempuan dan menekan jumlah pernikahan dini yang menurut pemerintah sebagai biang kemiskinan ( jatengprov.go.id )

Menurut Sri Mulyani ( Menkeu), kesenjangan gender acap kali menimbulkan hilangnya pendapatan suatu negara (potential loss). Sehingga pemerintah tengah berusaha untuk menciptakan kesetaraan gender sejak awal bahkan PAUD ( www.liputan6.com )

Racun Kesetaraan Gender

Isu kesetaraan gender yang digaungkan oleh Barat dan disambut baik oleh pemerintah Indonesia saat ini telah memasuki tubuh kaum perempuan terutama muslimah. Dengan dalih pemberdayaan ekonomi perempuan, pengentasan kemiskinan, perempuan harus punya penghasilan sendiri dan lain lain.

Sebenarnya mereka telah tertipu dengan pemikiran kaum barat. Justru ini akan menghasilkan permasalahan baru. Kelihatannya ingin mengangkat nasib perempuan tetapi justru membuat nestapa.

Dengan berbondong bondongmya kaum perempuan memasuki dunia kerja karena ingin punya penghasilan sendiri atau membantu suami mencari nafkah justru akan menimbulkan masalah baru yaitu hilangnya fungsi dan peran keibuan, anak terlantar atau menimbulkan masalah, rentannya pelecehan seksual ditempat kerja. Apalagi status sebagai karyawan/buruh kontrak dengan upah yang minimum dan aturan perusahaan yang hanya membuat karyawan/ buruh perempuan merana sebaliknya menguntungkan pengusaha atau korporat.

Pandangan Islam Terhadap Perempuan Bekerja

Islam membolehkan seorang perempuan bekerja tetapi tidak untuk menggerakkan roda perekonomian kapitalis yang memperkaya korporat tetapi lebih pada pengamalan ilmu yang dimiliki atau untuk menopang ekonomi keluarga tetapi tetap memegang aturan aturan syar’i yang telah ditetapkan Islam bila wanita bekerja diluar rumah yaitu menutup aurat, tidak ikhtilat tidak mengabaikan urusan rumah, tidak menelantarkan suami dan anak anak, mendapatkan ijin dari suami, menghindari fitnah

Sebaik baik perempuan adalah dirumah karena perempuan mempunyai peran penting dalam keluarga, yaitu perempuan sebagai seorang Istri sebagai pendamping suami, perempuan sebagai ibu yang menjadi madrasah pertama dan mencetak anak anak menjadi orang baik atau buruk.

Kemudian peran perempuan dalam masyarakat dan negara, bila seorang perempuan ahli dalam bidang tertentu ia bisa turut andil dalam urusan tersebut dan tentunya yang telah disyariatkan dan setelah kewajiban sebagai ibu rumah tangga terpenuhi.

Sebagaimana pendapat para ulama salafus sholih bahwa Al ummun madrasah al ula ( ibu adalah sekolah pertama bagi anak anaknya/pencetak generasi.

Disebutkan juga dalam kitab Muqodimah Dustur bab Ijtima’iy yang ditulis oleh Taqiyyudin An Nabhani bahwa al ashlu fil mar-ah huwa ummun wa rabbatu al bayt ( hukum seorang wanita adalah sebagai ibu dan pengatur rumah Tangga)

Solusi Islam Mengatasi Kemiskinan

Sistem ekonomi Islam adalah solusi untuk mengatasi kemiskinan. Salah satunya adalah pemenuhan kebutuhan pokok individu. Didalam Islam negara menjamin pemenuhan kebutuhan pokok pangan, sandang, dengan mekanisme yang telah disyaratkan Islam dengan strategi :

  • Memerintahkan setiap kepala rumah tangga keluarga umtuk bekerja
  • Negara wajib menciptakan lapangan pekerjaan bagi rakyatnya Sehingga bisa bekerja dengan baik dan layak.
  • Kewajiban negara (Baitul Maal) untuk memenuhi jika kepala keluarganya tidak mampu bekerja

Kesetaraan gender yang didengungkan kaum barat tidak lain adalah untuk menghancurkan pondasi keislaman seorang muslimah sehingga ia meninggalkan kewajibannya sebagai seorang muslimah, istri dan ibu.

Lebih luas lagi kesetaraan gender menghancurkan kaum muslimin dan manusia seluruhnya karena Allah menciptakan laki laki dan perempuan dengan fitrah dan fungsi masing masing yang saling melengkapi, saling membutuhkan dan saling membantu.

Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al Hujurat ayat 13 yang artinya

: ” Hai manusia sesungguhnya kami menciptakan kamu dari eorang laki laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia disisi Allah ialah orang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Dalam QS. An Nahl ayat 97 Allah juga berfirman: ” Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki- laki maupun perempuan dalam keadaan beriman maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”

Dengan kekayaan alam melimpah ruah yang Allah berikan untuk negeri ini apabila pengelolaannya dan kebijakan ekonominya dikembalikan kepada Sistem Ekonomi Islam niscaya akan membawa kesejahteraan, keadilan dan kemakmuran seluruh rakyat Indonesia. Insyaaallah

Wallahu a’lam bishawab