Oleh: Desi Wulan Sari
(Revowriter Bogor)

Badai PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) besar-besaran dilakukan beberapa perusahaan besar akhir-akhir ini. Fenomena ini terjadi dengan berbagai alasan, diantarnya dampak Covid-19, penyelamatan perusahaan, ataupun pangsa pasar yang menghilang. Sayangnya keputusan PHK tersebut dilakukan di tengah-tengah sulitmya kondisi ekonomi masyarakat saat wabah Corona datang menghampiri negeri ini.

Seperti ribuan karyawan pabrik sepatu PT Shang Yao Fung dipecat lantaran pandemi corona covid-19 yang tak kunjung usai.Pelaksanaan PHK masal ini akan dilakukan bertahap. Tahap pertama akan dilakukan di hari Rabu pada tanggal 13 Mei 2020 sebanyak kurang lebih 1800 karyawan,” kata salah seorang perwakilan manajemen. Sementara itu, menurut pihak manajemen, PHK masal itu dilakukan lantaran perusahaan akan memperluas ekspansi ke Jawa Tengah tepatnya kabupaten Brebes (Suara.com, 29/4/2020).

Tidak jauh berbeda, nasib pilu yang sama dirasakan oleh sedikitnya 87 karyawan Ramayana di City Plaza Depok juga dirumahkan (PHK). Seperti yang disampaikan Manager City Plaza Depok, M Nukmal Amdar mengatakan, perusahaan memutuskan tidak lagi beroperasi sejak 6 April 2020. Keputusan ini diambil lantaran omzet penjualan menurun hingga 80 persen. Akibatnya, perusahaan pun tak mampu lagi menanggung semua biaya operasional. (Liputan6.com, 9/4/2020).

Alhasil Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) secara sepihak tersebut membuat masyarakat menghadapi masalah lain di depan matanya. Wabah penyakit global, himpitan ekonomi akan menjadi masalah nyata bagi mereka. Bagaimana mereka akan memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Padahal urusan kebutuhan perut, makan dan minum tidak bisa ditunda, ataupun digantikan dengan yang lain.

Peringatan hari buruh kali ini sangat menorehkan “Rapot Merah” dalam dunia usaha. Hak-hak buruh tak lagi di dengar apalagi di terima ataupun di perjuangkan. Sebuah perusahaan hanya akan melihat untung rugi materinya saja. Jika sudah tidak menghasilkan keuntungan maka pengusaha tinggal say “goodbye” Alih-alih memikirkan solusi alternatif justru malah menelantarkan dan mengorbankan para pekerjanya.

Itulah kebobrokan sistem kapitalis yang sangat nyata ada di depan mata. Masihkah terus dipertahankan sistem kufur yang hanya mementingkan penguasa dan pengusahanya saja? Faktanya sistem ini terus membuat derita para buruh pekerjanya.
Masalah kesejahteraan ekonomi rakyat semestinya menjadi tanggung jawab negara, khususnya saat kondisi pandemi seperti ini. Alih -alih rakyat diberi bantuan seluas-luasnya justru malah diberikan rasa pilu serta kesulitan yang mendalam atas nasib yang diterimanya. Dimana rasa keadilan atas mereka? Di mana posisi negara saat rakyatnya menjerit meminta tolong atas nafkah keluarganya? Mereka tidak mengemis, mereka tidak meminta-minta. Mereka hanya ingin pemimpinnya merangkul dan mengurus dengan rasa kasih sayang pada rakyatnya. Itulah fungsi negara seutuhnya.

Sistem kapitalis hari ini telah membuat rakyat semakin terpuruk dari sisi ekonomi, psikologis, dan ketahanan pangannya. Jika hal ini terus berlanjut akan membuat karut marut negeri ini. Urgensitas yang dibutuhkan sekarang adalah pemimpin yang nampu menarik rakyatnya dari kubangan lumpur hitam yang dalam. Badai PHK yang dikatakan sebagai dampak pandemi dan kerugian omzet tidak akan lagi menjadi masalah jika pemimpinnya mampu menjadi Ra’in (Pemelihara) dan Junnah (Pelindung) bagi rakyatnya.

Badai PHK yang mengakibatkan himpitan ekonomi ini perlu diatasi dengan cara yang ma’ruf. Terlebih jika dikaitkan wabah Covid-19 yang sedang terjadi.
Para pekerja yang dirumahkan atau di PHk saat pandemik seharusnya tidak perlu merasa khawatir atas kebutuhan harian mereka, karena akan dipenuhi oleh negara. Sesungguhnya wabah virus Corona seperti ini sudah masuk dalam pengambil alihan secara otomatis pada ranah negara atas tindakan dan kebijakan keselamatan serta kesehatan rakyatnya, bukannya menciptakan kebijakan perusahaan dengan mem PHK mereka karena alasan wabah Covid-19.

Islam pernah mencontohkan ketika masa Daulah khilafah yang menghadapi situasi seperti ini, Seperti halnya Rasulullah yang menjabat sebagai pemimpin atau kepala negara melaksanakan kebijakan dengan melakukan karantina di satu wilayah yang terkena wabah tho’un.

“Apabila kalian mendengar wabah lepra di suatu negeri, maka janganlah kalian masuk ke dalamnya, namun jika ia menjangkiti suatu negeri, sementara kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dari negeri tersebut.” (HR. al-Bukhari).

Begitu pun para khalifah di masa berikutnya, tahun 1845-1852 pada masa Sultan Turki Ottoman, Abdul Majid I memberi bantuan sebesar 10.000 sterling (sebesar 22 miyar saat ini) Kepada rakyat di eropa “Irlandia” yang secang mengalami kelaparan hebat akibat gagal panen di eranya pada tanaman kentang skala besar yang menimbulkan kematian kala itu. Islam memberikan bantuan kepada rakyat Irlandia tanpa pamrih dan memikirkan untung rugi. Mereka hanya ingin membantu atas dasar kemanusian dan perintah Islam didalamnya untuk saling menolong satu sama lain. Bayangkan negara non Muslim saja ditolongnya dengan sepenuh hati, bagaimana dengan negeri muslim yang berada dalam naungan khilafah, sudah pasti akan diurus hingga tuntas tanpa memikirkan berapa materi yang harus dikeluarkan untuk mengatasi suatu musibah tersebut. MasyaAllah.

Maka jelas kondisi pemerintah yang ada hari ini, dengan sistem kapitalisnya bukanlah sistem pemerintahan yang ideal. Dan kondisi ekonomi terkait wabah Covid-19 yang dialami rakyat Indonesia saat ini justru akan semakin menciptakan kekacauan karena tidak ada kebijakan yang tepat dalam antisipasi dan penanganannya. Justru yang harus diperhatikan saat ini adalah kesejahteraan dan keselanatan para pekerja yang harus semakin diperhatikan.

Sejatinya kesejahteraan, kemakmuran satu masyarakat yang hebat akan terwujud saat Islam memberikan solusi bagi negara. Jika saat itu Islam telah membuktikan kepemimpinannya membawa kemakmuran umat, lalu mengapa tidak, jika hari ini kita pun menerapkan sistem Islam demi kemaslahatan dunia. Karena Daulah Islam dengan sistem pemerintahan khilafahnya akan melahirkan pemimpin-pemimpin amanah, cemerlang bagi umatnya.

Semoga rintihan dan kepiluan para buruh pekerja hari ini akan segera berakhir, bersama terangnya cahaya Islam yang akan muncul menyinari seluruh bumi. Wallahu a’lam bishawab.[]