Oleh: Vivin Indriani
(Member of Revowriter)

Derasnya arus informasi yang membanjiri media hari ini justru berbanding terbalik dengan meningkatnya standart pemahaman masyarakat terhadap tsaqafah Islam. Bagaimana tidak, media telah mengolah ribuan informasi namun menggunakan sudut pandang tsaqafah sekuler-kapitalis. Akibatnya, umat Islam menerima begitu saja setiap masukan tsaqafah di luar Islam dan menafikan pentingnya penilaian terhadap setiap informasi yang masuk menggunakan standart tsaqafah Islam.

Barat dengan gempuran tsaqafah asing yang merusak, telah menyingkirkan kedudukan tsaqafah Islam yang mulia dari arus informasi media mainstream. Pada saat yang sama, umat Islam memilih menyejajarkan kedudukan ilmu yang bermanfaat dengan aneka tayangan infotainment, gaya hidup dan tontonan murahan yang tidak bernilai harganya. Ini adalah masa di mana generasi umat ini disuguhi tontonan yang menghilangkan potensi mereka sebagai makhluk berakal, menggantinya dengan aktivitas yang melumpuhkan ‘syaraf berpikir dan bertindak’. Mereka pun tersibukkan dengan aktivitas like, share dan comment yang melalaikan, tanpa peduli bahwa ribuan informasi yang mereka dapat itu mungkin saja telah menumpulkan identitasnya sebagai seorang muslim.

Dalam perkembangan informasi, kita mengenal jurnalisme sebagai alat untuk menyebarkan beraneka ragam informasi ke hadapan pemirsa. Hari ini tak bisa dipungkiri, jurnalisme berkembang menjadi industri komersial. Hasil dari jurnalisme itu telah membentuk warna dan dinamika baru dalam kehidupan masyarakat dunia.Bahkan jurnalisme dianggap memiliki otoritas dalam hal penyebaran informasi. Di antaranya melalui seperangkat UU Pers dan sejenisnya yang mengampu hak asasi jurnalis dan media penyedia berita.

Namun masing-masing peradaban selalu memiliki tradisi epistemik(berkaitan dengan hakikat pengetahuan, justifikasi, dan rasionalitas keyakinan) serta tradisi sistemik(mengacu pada sistem yang sedang berlangsung dalam peradaban tersebut). Jurnalisme mengikuti perubahan tradisi tersebut dari waktu ke waktu. Bahkan dari satu zaman ke zaman berikutnya. Jurnalisme modern misalnya, di mana keberadaannya banyak dikembangkan pada abad ke XX dan dipengaruhi oleh tokoh-tokoh jurnalis Barat. Misalnya seorang jurnalis asal Amerika Serikat, Bill Kovach yang menyatakan kebenaran adalah sebuah proses dalam kerja jurnalistik. Maka kebenaran mutlak itu tidak ada karena manusia memiliki pandangan yang subjektif. Dari sini kita sudah patut menduga, ke arah mana sesungguhnya jurnalisme modern bekerja. Pandangan yang menolak kebenaran mutlak memang merupakan pandangan khas Barat yang sekuler.

Lalu bagaimana dengan karakter jurnalisme dalam Islam? Islam memang tidak mengenal istilah jurnalisme. Namun sejak awal Islam telah mempunyai prinsip kerja dan metodologi dalam penyampaian berita. Seluruh kerja penyampaian berita ini dihasilkan dari disiplin tersendiri yang diambil dari standart pengetahuan tsaqafah Islam. Dalam Al-Quran disebutkan beragam kata yang memiliki akar dengan kata ‘naba'(berita). Disebutkan sebanyak 138 kali dalam Al-Quran yang artinya persoalan berita(kabar) ini merupakan sesuatu yang amat penting dalam bagian ajaran Islam.

Ibnu Taimiyah membagi kabar menjadi beberapa bagian, yakni kabar baik yang benar(Khabar Shadiq) dan kabar yang keliru atau bohong. Al-Attas menjelaskan terkait khabar shadiq adalah kabar yang harus didasari sifat-sifat saintifik atau jika terkait agama maka harus didasarkan pada periwayatan oleh otoritas agama yang otentik.

Jika dilihat dari otoritas pemberi kabar atau asal muasal datangnya kabar, maka Mohammad Syam’un Salim membaginya menjadi dua otoritas. Pertama, otoritas mutlak yaitu Quran dan Hadits. Ini adalah sumber kebenaran tertinggi. Ini berbeda dengan Barat yang menghilangkan adanya pemilik kebenaran mutlak. Jika kabar yang diperoleh berasal dari otoritas yang pertama ini, maka keberadaan berita atau kabar itu benar adanya secara mutlak, tanpa ada perbedaan pendapar lagi di kalangan umat Islam kecuali orang Assam(orang buta agama).

Kedua, otoritas nisbi yang terdiri dari kesepakatan para alim ulama(tawatur) serta orang yang terpercaya. Mereka bisa saja dari kalangan mujtahid, muhaddis, mufassir dan sebagainya yang memiliki syahadah atau ijazah sebagai bukti kredibilitas mereka dalam bidang-bidang keilmuannya. Quran dan Hadis telah memberikan petunjuk dalam memperoleh dan menyaring berita dari segala bentuk ketidakjujuran, ketidakakuratan dan perbuatan jahat atau curang.

Nurhaya Muchtar, dkk menyebutkan ada empat prinsip dasar yang dibentuk oleh Islamic worldview dalam jurnalisme, yaitu konsep kebenaran (haqq), tabligh (penyampaian), mashlahah (kepentingan) dan wasatiyyah (jalan tengah). Hal yang sama juga dipaparkan oleh Mohammad A. Shiddiqi yang menyebutkan bahwa Islam memberikan penekanan atas konten, tujuan dan proses pengumpulan berita yang kesemuanya harus masuk ke dalam lingkup tanggung jawab sosial kepada masyarakat(social responsibility) yang berbeda jauh dengan pandangan Barat. Tanggung jawab sosial dalam jurnalisme Barat terkait dengan hak individu yang sangat kental dengan nuansa individualis-pluralis. Sedang tanggung jawab sosial dalam jurnalisme Islam adalah berdasarkan prinsip amar makruf nahi mungkar.

Di sinilah peran negara dalam mengontrol kerja jurnalisme agar mampu menyaring dan menghadirkan informasi yang tidak membahayakan nilai dan ideologi negara. Jurnalisme bekerja menyuguhkan berita yang mencerdaskan rakyat, serta memberikan jaminan keamanan berita yang diperoleh masyarakat dari kabardan berita bohong, menipu dan manipulatif. Oleh karenanya kontrol jurnalisme tidak bisa diberikan kepada individu secara sembarangan, sebab dikhawatirkan menciptakan situasi bernegara yang tidak kondusif dan menyalahi prinsip jurnalisme itu sendiri.

Dalam perspektif politik media Islam, negara berperan sebagai :

  1. Junnah/perisai yang akan melindungi Islam dari bahan olokan, hinaan dan kerendahan.
  2. Filter informasi dari segala bentuk informasi ‘unfaedah’ yang membodohkan akal sehat rakyat bahkan cenderung merusak.
  3. Corong informasi Islam bagi dunia dalam negeri maupun luar negeri. Ini sesuai dengan prinsip dakwah ke seluruh penjuru dunia.
    Jadi fungsi media massa di dalam negeri sebagai media yang membangun masyarakat Islami yang kokoh. Di luar negeri berfungsi untuk menyebarkan Islam, baik dalam suasana perang maupun damai. Semuanya untuk menunjukkan keagungan peradaban Islam dan kemuliaan risalah Islam ke seluruh penjuru dunia. Wallahu ‘alam.

Sumber : Buku Penggerak Opini Islam