Oleh: Messy Ikhsan
(Member of Revowriter)

Ada sesuatu yang terpendam di dalam dada. Goreskan dengan tinta lalu perkenalkan karya tersebut dihadapan semua manusia. Sesederhana itu dalam melahirkan sebuah karya. Namun sayangnya, tak banyak yang percaya diri dengan karya yang dirangkai secara biasa. Sehingga tak percaya diri untuk memulai melahirkan sebuah karya.

Bahkan sebagian orang hanya mengandalkan semangat belaka dalam menulis sebuah karya. Tapi, nihil dari ‘action’ nyata. Hanya mengandalkan ‘caption’ dimulut semata. Ternyata memotivasi diri sendiri untuk mulai menulis sebuah karya, bukanlah perkara sederhana.

Apalagi tipe setiap orang berbeda-beda. Tentu berbeda pula kemauan dan kemampuan dalam menulis dan cara menanggapinya. Ada tipe pertama, orang yg sulit menyediakan waktu khusus untuk menulis dengan dalih banyak kesibukan yang berjaga. Ada tipe kedua, orang yang baqonya tinggi tingkat dewa, sulitnya untuk saran kebaikan dan agama. Ada tipe ketiga, orang yang manut aja sama pituah guru. Nah, yang tipe ketiga ini yang perlu ditiru sebagai seorang yang menginginkan menjadi penulis yang handal.

Untuk menjadi penulis yang handal, tentu harus memiliki landasan tujuan. Tak hanya hidup yang harus memiliki landasan tujuan. Namun, tujuan yang paling merata yang saya temukan saat berdiskusi dengan sesama teman-teman penulis adalah tujuan yang bersifat parsial seperti harta, tahta dan popularitas. Efeknya, banyak penulis pemula yang kecewa setelah menulis berbulan-bulan tapi tak mencapai tujuan yang diinginkan.

Orang yang saya sebutkan diatas adalah orang yang tak ikhlas dalam menulis. Maksudnya, bukan berarti tak boleh mengharapkan harta, tahta, dan popularitas dalam menulis. Namun itu, bukan tujuan utama melainkan bonus yang didapatkan. Sesungguhnya yang menjadi tujuan utama adalah menjadikan aktivitas menulis sebagai wadah menyampaikan kebaikan dan kebenaran Islam.

Niat ikhlas karena Allah semata lah maka kita akan bersegera dalam menggerakkan jemari untuk merangkai kata dengan spontan dari diri sendiri. Tanpa campur tangan atau dipaksa oleh orang lain. Jadi, untuk menjadi penulis yang handal salah satu syarat adalah ikhlas karena mengharap ridho Allah semata. Bukan mengharapkan embel-embel yang lain.

Jika niat ikhlas karena Allah semata telah menghujam kuat didalam hati terdalam. Ia akan sabar melintasi step-step untuk menjadi penulis handal. Memang menulis tak mudah tapi bukan berarti tak bisa. Selama punya kemauan untuk belajar menulis. Insya Allah akan Allah mudahkan.

Allah berfirman:

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (QS Al-Rad’:11)

Mampu memanajer diri sendiri. Mengatur suasana hati agar tetap mood dalam menulis. Menjadikan menulis sebagai sesuatu yang menyenangkan, akan menyesal jika ditinggalkan. Jika hal ini telah menjadi pemahaman tersendiri. Maka dengan dorongan pemahaman tersebut, ia akan mau dan mampu meluangkan waktu khusus dalam menulis. Jika tak mau berbuat demikian. Maka pemahaman tersebut hanya sekedar caption dimulut saja tapi tak ada action.

Harus tetap konsisten dalam menulis hingga tak ada satu pun yang bisa untuk ditulis. Dan yang paling urgent adalah mau dan mampu melawan hantu nafsu. Membuang rasa malas dan mencampakkan kebiasaan menunda-nunda waktu. Bukankah golongan yang sering malas dan menunda waktu dalam melakukan kebaikan adalah golongan setan?. Jika tak mau bergabung dengan golongan tersebut. Maka tinggalkan kebiasaan buruk itu.

Mau dan mampu merobohkan dinding baqo yang tinggi. Dan wajib manut kepada guru penulis selagi yang diajarkan adalah suatu kebaikan. Tak boleh ngeyel, nanti ilmunya yang didapatkan menjadi tak berkah. Tak boleh juga mendendam dalam hati. Akhirnya menjadi penyakit hati yang berbahaya. Hingga mengakibatkan sulit untuk menerima cahaya kebaikan. Emang mau memiliki hati sekeras batu?

Selain itu menciptakan kebiasaan-kebiasaan yang baru. Kebiasaan-kebiasaan yang penuh dengan warna kebaikan. Seperti sering membaca buku untuk menambah pemahaman Islam. Tentu akan mempermudah dalam menulis. Tak harus selalu buku yang dibaca, selembaran-selembaran buletin, artikel atau sekedar status orang lain juga bisa. Setidaknya dalam sehari harus ada aktivitas membaca.

Menulis itu asyik. Kita bisa mengungkapkan semua perasaan yang terpendam dalam hati dan pikiran tanpa harus mengeluarkan suara. Tulisan mengandung jutaan arti. Menulis itu seni. Seni adalah warna. Jadi dengan menulis kita bisa mewarnai hidup kita lebih baik lagi. Teruslah bersemangat untuk menulis dengan berbagai motivasi. Tak ada yang salah dalam menulis.

Beberapa tips untuk membentuk kebiasaan baru menurut Ust Felix Siauw dalam bukunya yang berjudul habist, antara lain:

*Learn (menjelaskan)
Menjelaskan keinginan hati untuk senantiasa konsisten dalam menulis.

*Commit (perjanjian)
Berjanji dalam mengaplikasikan niat untuk menjadi penulis yang handal. Mampu merobohkan dinding nafsu yang menghadang dalam menulis.

*Practice (praktek)
Jangan biarkan ide kreatif hanya mengambang didalam pemikiran. Namun aplikasikan dalam kehidupan.

*Repetition (pengulangan)
Menulis dulu, menulis lagi dan menulis terus. Jangan pernah lelah dalam menulis. Sehingga tak ada satu kata pun yang tak mampu untuk ditulis. Jadilah penulis yang handal yang mampu menghasilkan karya yang luar biasa.

So, apakah kita termasuk menjadi penulis yang handal? Jika iya, jangan hanya sekedar caption tapi harus ada action.[]