Oleh: Maman El Hakiem

Keturunan itu adalah qada atau ketetapan Allah SWT yang tidak mampu manusia menguasainya. Sedangkan mengubah pemahaman adalah area yang mampu dikuasai manusia. Karena itu seorang Nabi pun bisa terlahir dari ayah yang melakukan kemusyrikan seperti ayahnya Nabi Ibrahim as. Pun Rasulullah saw. memiliki saudara seayah atau paman yang tak sejalan dalam keimanan. Ada yang terang-terangan memusuhi seperti Abu Jahal, ada pula yang secara fisik membantu,namun hatinya belum tulus untuk beriman, seperti Abu Thalib.

Ada yang menarik, dari Abu Thalib paman beliau, ternyata yang masuk Islam itu malah lahir dari puteranya, yaitu Jafar dan Ali. Bahkan, Ali bin Abu Thalib kelak menjadi menantu Nabi saw, karena Fatimah anak beliau dinikahi oleh Ali. Bukan hanya itu, sosok Ali menjadi talang badan,menggantikan tidurnya Nabi saat perjalanan hijrah ke Yatsrib. Ali bin Abu Thalib pun menjadi pengganti khalifah setelah Utsman bin Affan terbunuh.

Para sahabat Nabi yang pertama kali masuk Islam, hampir masih dalam satu rantai kekerabatan, kecuali beberapa orang saja. Umar bin Khattab, adalah mertua Nabi karena menikahi anaknya, yaitu Hafshah binti Umar bin Khattab. Ada hikmah yang dapat diambil dari dekatnya ikatan keluarga tersebut, bahwa dakwah tidak boleh terhalangi oleh tali kekeluargaan, justru dengan akidah yang sama akan semakin menguatkan kekerabatan. Karena itu sekalipun Abu Jahal dan Abu Lahab adalah kerabat dekat nabi, tetapi tiadanya keimanan membuatnya terpisah.

Jika ada anggapan buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, ada benarnya tetapi tidak menjadi kebenaran yang mutlak. Seorang anak secara genetik bisa sama karakternya, tetapi tidak bisa mewarisi nilai keimanan dari orangtuanya. Karena itu jalan keimanan harus ditempuh dengan proses pencarian. Jika sekedar pengucapan dan pengakuan saja, iman mudah ditemukan pada keturunan, tetapi iman harus mampu dibuktikan dengan pilihan jalan dan pengorbanan dalam hidup.

Inilah pentingnya Nabi mengumpulkan para kerabat dan sahabat untuk duduk dalam satu majelis ilmu, agar mereka berada dalam satu lingkaran(halaqah) untuk menemukan pemahaman Islam yang benar. Ikatan kekeluargaan itu melebur menjadi satu ikatan akidah yang kokoh. Dan ini adalah jalan dakwah yang baku untuk mengubah kebiasaan jahiliyah menuju terangnya cahaya iman, tidak lain harus dimulai dengan mengubah sudut pandang pemahaman hidupnya terlebih dulu. Wallahu’alam bish Shawwab.[]