Oleh: Umi Rizkyi ( Komunitas Setajam Pena)

Sudah beberapa bulan berlalu, tapi pandemi virus corona pun tak kunjung pergi. Semakin hari penyebaran dan korban pun berjatuhan. Tidak cukup puluhan orang bahkan eatusan orang setiap harinya yang meninggal akibat virus corona ini. Dalam menghadapi pandemi ini, pemerintah juga memberikan sumbangan berupa paket bahan makanan bagi warga tidak mampu di area Jabodetabek dan juga uang tunai sebesar Rp 600 ribu bagi warga tidak mampu di area luar Jabodetabek.

Proses pemerintah memberikan bantuan tidaklah berjalan lancar dan tanpa halangan. Liku-liku pendistribusian pun menemui kendala. Seperti yang dilansir dari merdeka.com Rabu 29/4/2020_ Menteri Soaial(Mensos) Juliari Batubara mengaku penyaluran bansos(bantuan sosial) berupa paket sembako untuk warga terdampak virus corona sempat tersendat. Hal itu dikarenakan harus menunggu tas pembungkus untuk mengemas paket sembako.

Dia mengungkapkan ” Pembungkus itu belum tersedia karena produsen tas tersebut mengalami kesulitan import bahan baku. Sehingga mengakibatkan distribusi bansos terkendala meski paket sembako sudah tersedia ” .

” Awalnya ya, (sempat tersendat) karena ternyata pemasok pemasok sebelumnya kesulitan bahan baku yang harus import, ” Katanya kepada wartawan. Rabu 29/4/2020.

Tas itu berwarna merah putih dan tertuliskan Bantuan Presiden RI Bersama Lawan Virus Corona. Juga terdapat logo Presiden RI dan kementerian sosial mulai menyalurkan bantuan sosial berupa paket sembako bernilai Rp 600 ribu bagi warga tidak mampu da area Jabodetabek, dan uang tunai sebesar Rp 600 ribu bagi warga tidak mampu di area luar Jabodetabek.

Di sistem yang dzolim dan kufur ini, walaupun dalam kondisi pandemi,masih saja berpolitisasi. Hanya sekedar mempertahankan kursi jabatan yang telah didapat oleh rezim. Hal ini menunjukkan bahwa politik demokrasi mengahalalkan segala cara. Walaupun sebenarnya nyawa rakyat sebagai taruhannya.

Dengan begitu maka semua ini semakin menambah derita rakyat yang selama ini mereka rasakan. Apa lagi di masa pandemi ini, yang seharusnya rakyat menerima haknya sebagai rakyat malah disebutnya bantuan, dan itupun terjadi kesalahan dan terkendala dalam pendistribusian. Orang, rakyat sangat membutuhkan sembako malah harus nunggu alat pembungkusnya belum jadi, dikarenakan kehabisan bahan baku!

Rakyat selain merasa was-was dan serta kesulitan ekonomi malah hak nya sebagai rakyat tidak terpenuhi. Selama ini rakyat menderita dengan berbagai macam kebutuhan, baik ansuran listrik yang naik, pajak naik, BBM naik, pendidikan dan kesehatan yang mahal dan masih banyak penderita yang dirasakan oleh rakyat. Apalagi sekarang dalam kondisi pandemi virus corona, semua semakin merasakan penderita itu.

Semua ini tidak akan terjadi pada negara yang diatur oleh aturan Allah SWT, yaitu Islam dalam bingkai khilafah. Di dalam sistem Islam, negara berkewajiban memberikan hak kepada setiap rakyatnya baik muslim maupun non muslim. Baik kaya maupun miskin. Jika suatu negara dalam pandemi seperti saat ini, maka negara akan memberikan hak rakyatnya yaitu memberikan dan memenuhi kebutuhan rakyatnya. Baik makanan, bahan pokok lainnya, kesehatan bahkan menjaga setiap jiwa rakyatnya. Maka dari itu, sistem Islam hanya menghadirkan pemerintahan yang melayani rakyat. Bukan seperti saat ini, dalam sistem demokrasi rakyat dirampas haknya dan diwajibkan untuk membiayai diri mereka sendiri. Dari semua aspek kehidupan, mulai dari kesehatan, pendidikkan, energi dan lain-lain. Dalam sistem Islam kepentingan dan kebutuhan rakyatnya adalah hal yang paling utama, tanpa adanya yang namanya pencitraan.

Semoga dalam ramadhan kali ini, adalah ramadhan terakhir tanpa adanya sistem Islam yang diterapkan dalam sebuah negara. Yang akan memberikan kesejahteraan dan kemaslahatan bagi seluruh rakyatnya. Itu semua berlaku pada semua warga negara yang berada dibawah naungan daulah khilafah. Baik muslim maupun non muslim. Aamiin.