Oleh: Yuliatin

Masa sulit akibat corona bukan penghalang untuk menjalani ibadah Ramadhan yang penuh berkah, namun dimasa pademi lagi-lagi masyarakat harus mengelus dada karena dihadapkan pada permasalahan yang tak kunjung ada habisnya.

Salah satunya adalah masalah penyaluran Bantuan Sosial (Bansos), penyaluran Bansos paket sembako untuk masyarakat yang terdampak corona (covid – 19) sempat tersendat karena harus menunggu tas pembungkus sembako dari presiden yang bertuliskan “Bantuan Presiden RI bersama lawan covid – 19” yang belum tersedia karena produsen mengalami kesulitan import bahan baku. Kata Menteri Sosial (Mensos) Juliari Batubara, (Merdeka.com 20/04/20).

Alih-alih mempercepat bantuan untuk masyarakat, pemerintah malah merepotkan diri dengan menunggu tas berlebel tersebut yang masih belum tersedia, padahal jelas masyarakat tidaklah butuh tas tersebut yang masyarakat harapkan adalah paket sembakonya.

Nama bansos itu juga dinilai seolah-olah bantuan dikeluarkan langsung oleh Jokowi padahal sumber dana bansos berasal dari Anggaran pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dipungut dari uang rakyat.
Analisis Kebijakan Publik Trubus Rahardiansyah mengatakan bahwa pemerintah hendaknya berfikir bahwa ini charity, sedekah, tidak untuk mencari panggung politik atau pencitraan. Bertanggungjawablah pada publik, (CNNIndonesia.com 29/04/20).

Jelas saat ini pemerintah tidak bertanggungjawab sepenuhnya terhadap rakyat, terbukti rakyat disusahkan dengan bantuan sembako yang tersendat juga tidak merata ke berbagai penjuru wilayah di Indonesia dimana beberapa daerah masih merasakan kelaparan dampak dari wabah corona.

Sebagaimana yang telah dikabarkan bahwa, satu keluarga yang terdiri dari tujuh orang tiga diantaranya masih balita dan seorang ibu yang hamil besar. Asal Tolitoli Sulawesi Tengah ditemukan warga ditengah kebun kelurahan Amassangan, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, dalam kondisi lemas karena Kelaparan, (Kompas.com 01/05/20).

Selain itu, sebanyak empat belas orang mahasiswa asal Seram Bagian Timur, Maluku, ditangkap satuan polisi pamong praja ditengah Pembatasan Sosial Berskala Regional (PSBR) di Maluku untuk mencegah penularan covid – 19. Seorang mahasiswa mengaku nekat mudik ke kampung halaman lantaran kehabisan uang belanja dan sempat menahan lapar, (CNNIndonesia.com 04/05/20).

Sungguh sangat ironis bukan? Ini baru yang nampak kepermukaan yang diketahui publik, belum lagi yang tidak diketahui mungkin lebih banyak lagi. Lantas siapa yang harus disalahkan ditengah terpurukya rakyat dalam kelaparan akibat pandemi yang tak kunjung berakhir?
Pasti yang utama paling berhak disalahkan sang pemilik kekuasaan karena segala kebijakan telah tergenggam ditangannya. Rakyat menjadi tanggungjawabnya yang memang seharusnya diurusi, faktanya pemerintah setengah hati mengurusi rakyatnya mulai dari penanganan wabah covid – 19 yang tidak maksimal hingga memberikan bantuan yang sekedarnya, terlambat dan tidak merata. Tersiksanya rakyat dalam kelaparan mungkin dianggap hal yang biasa dan remeh oleh pemerintah.

Sistem pemerintahan kapitalisme telah berhasil mencetak para pemimpin yang pongah, tega dan abai. Bukan mempercepat datangnya bantuan pemerintah malah melakukan konspirasi politik untuk kepentingan pribadinya dibalik bantuan sosial yang diberikan kepada rakyat.

Berbeda pada sistem pemerintahan islam, para khalifah/pemimpin menjadikan rakyat sebagai prioritas utama dibanding pribadinya, sebagaimana yang telah dilakukan khalifah Umar bin Khatthab yang rela saat malam memikul makanan sendiri untuk dibagikan kepada rakyat yang membutuhkan. Bukan didasari karena pencitraan tapi murni karena takut jika kelak rakyatnya menuntut atas ketidakadilan.

Imam / khalifah adalah pengurus dan Ia bertanggungjawab terhadap rakyat yang diurusnya (HR. Muslim dan Ahmad).
Seorang pemimpin dalam sistem Islam sepenuhnya akan bertanggungjawab terhadap rakyat yang diurusnya, dan akan mengupayakan agar setiap kebutuhan rakyatnya terpenuhi.

Memang benar bahwa hanya aturan Allah yang layak digunakan dan diterapkan dalam sistem pemerintahan sebab didalamnya memberi solusi tuntas untuk mencegah dan menangani kelaparan pada rakyatnya, sebab hanya sistem islam yang steril dari kepentingan pribadi.

Wallahu’alam bish showab