Oleh: Nur Qudsi Walida

Opini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang berencana akan membuka kembali sekolah pada pertengahan Juli atau tahun ajaran baru nyatanya menuai kontra.

Wakil sekertaris Federasi Serikat Guru Indonesia Satriwan mengungkap kekhawatirannya, ia mengatakan, “Kalau ingin membuka sekolah di tahun ajaran baru, oke itu kabar baik. Tapi [datanya] harus betul-betul [tepat], mana [daerah] yang hijau, kuning, merah,” CNNIndonesia.com (9/5).

Kritik juga datang dari Wakil Ketua Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian mengatakan pemerintah harus memastikan lingkungan di sekitar siswa aman dari penyebaran virus corona (Covid-19) apabila sekolah kembali dibuka pertengahan Juli 2020.

“Mungkin ada [anak] yang gunakan angkutan umum. Kan, macam-macam kekhawatiran orang tua. Di sekolah aman, di jalan tidak aman. Ini harus aman di seluruh wilayah, bukan di sekolah saja,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com (11/5).

Menyusul juga kritik dari Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia Ubaid Matraji menilai proses pembelajaran tidak bisa dilaksanakan seperti normal jika rencana membuka kembali sekolah diputuskan pada Juli mendatang, CNNIndonesia (11/5)

Pemulihan Ekonomi Katanya.

Timeline yang berisi skenario pemulihan ekomoni mulai dari pembukaan bisnis dan industri mulai Juni 2020 menyebar luar dikalangan masyarakat.

Ide sekolah dibuka kembali adalah salah satu bagian dari upaya pemulihan kondisi sosial ekonomi. Dalam timeline tersebut dijelaskan terdapat lima fase dalam pemulihan ekonomi yang akan dilakukan Indonesia secara bertahap. Mulai dari pembukaan industri, toko, pusat perbelanjaan, hingga seluruh kegiatan ekonomi yang ditargetkan akhir Juli atau awal Agustus sudah dibuka secara keseluruhan.

Sayangnya, ini dilakukan tanpa diiringi pemastian bahwa virus tidak lagi menyebar. Theconversation.com, menjelaskan masalah utamanya, sudah 68 hari setelah kasus pertama COVID-19 diumumkan, Indonesia belum menampilkan kurva epidemi COVID-19 yang sesuai dengan standar ilmu epidemiologi. Karena itu, adanya klaim terjadinya penurunan kasus baru COVID-19 cukup meragukan.

Ini menjelaskan terburu-burunya pemerintah dalam mengambil tindakan dan menegaskan betapa besarnya bahaya kebijakan pemerintah yang didesak oleh kepentingan ekonomi. Bukan malah memberi ketenangan kepada masyarakatnya tapi semakin membuat masyarakat khawatir. Alih- alih ingin memberikan solusi, nyatanya itu hanya untuk kepentingan ekonomi pemerintah saja.

Sehingga ini menjadi dilema, ketika ingin memulihkan kondisi sosial ekonomi tetapi faktanya pemerintah tidak ingin dibebani tanggung jawab memenuhi jaminan kebutuhan rakyat.

Awas Rezim Berwatak Ruwaibidhah

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ قُدَامَةَ الْجُمَحِيُّ عَنْ إِسْحَقَ بْنِ أَبِي الْفُرَاتِ عَنْ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah [1887] as-Syamilah).

Hadits ini menunjukkan bahwa jalan keluar ketika menghadapi situasi kacau semacam itu adalah dengan kembali kepada ilmu dan ulama. Yang dimaksud ilmu adalah al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman salafus shalih. Dan yang dimaksud ulama adalah ahli ilmu yang mengikuti perjalanan Nabi dan para sahabat dalam hal ilmu, amal, dakwah, maupun jihad.

Benahi Dengan Solusi Islam

Pemulihan kondisi bisa dilakukan setelah situasi aman terkendari. Seperti halnya dimasa kepemimpinan Islam pertama sekali yang dipimpin oleh Rasulullah SAW, wabah penyakit menular pernah terjadi. Wabah itu ialah kusta yang menular dan mematikan sebelum diketahui obatnya. Untuk mengatasi wabah tersebut, salah satu upaya Rasulullah saw. adalah menerapkan karantina atau isolasi terhadap penderita. Ketika itu Rasulullah saw. memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat para penderita kusta tersebut. Beliau bersabda:

‏لاَ تُدِيمُوا النَّظَرَ إِلَى الْمَجْذُومِينَ

Janganlah kalian terus-menerus melihat orang yang mengidap penyakit kusta (HR al-Bukhari).

Karantina sudah diterapkan sejak zaman Rasulullah SAW. untuk mencegah wabah penyakit menular menjalar ke wilayah lain. Demi memastikan perintah tersebut dilaksanakan, Rasul SAW. membangun tembok di sekitar daerah yang terjangkit wabah.

Rasulullah saw. pernah bersabda, “Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meningggalkan tempat itu.” (HR al-Bukhari).

Sudah saatnya marilah mengambil Islam sebagai jalan hidup dan mengatasi seluruh persoalan yang ada. Saatnya meninggalkan rezim Ruwaibidhah yang berwatak kapitalisme, yang hanya membawa rakyat hidup penuh dalam kesengsaraan karena tidak mengerti fungsi dan perannya sebagai penanggung jawab dan pengemban amanah mengurusi Wallahu a’lam bishawab.[]