Oleh : Ummu Taky

Oleh : Ummu Taky

Sekretaris Jendral Majelis Ulama Indonesia (Sekjen MUI) Anwar Abbas mengaku heran dengan sikap ambigu pemerintah dalam menangani pandemi Covid-19 yang terjadi di Indonesia. Dia menilai, pemerintah tidak tegas dalam menjalankan kebijakan yang diberlakukan di tengah pandemi saat ini.

Hal tersebut disampaikan Anwar berkenaan dengan kepadatan yang terjadi di sejumlah fasilitas publik semisal pasar, mal, bandara, kantor dan di pabrik-pabrik atau tempat-tempat lainnya. Dia menilai, pemerintah hanya tegas dalam melarang warga untuk berkumpul di masjid tapi tidak di lokasi – lokasi yang lain. ( Republika. co.id,Jakarta)

Tagar #IndonesiaTerserah menjadi trending topik, tercatat 32 ribu cuitan (tw/jpnn/fajar).
Hal itu di picu pernyataan Presiden Jokowi soal hidup berdampingan dengan Covid – 19 yang membuat bingung berbagai kalangan.
Lewat akun twitter@jokowi, Sabtu (16/5) ” Hidup berdampingan dengan Covid – 19 bukan berarti menyerah dan pesimis” tulis Jokowi.
” Justru dari situlah titik awal menuju tatanan kehidupan baru masyarakat untuk dapat beraktivitas kembali sambil tetap melawan ancaman Covid – 19 dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat ” imbuhnya.

Pada Tanggal 27 April 2020 United Nation mencanangkan ” New Normal Live”.
Pada lamanya dinyatakan : “Kondisi normal lama tidak akan pernah kembali, sehingga pemerintah harus bertindak menciptakan ekonomi baru dan lapangan pekerjaan yang lebih banyak”.

Akun Twitter Divisi Humas Polri membagikan unggahan tentang pendapat Profesor Hamdi Muluk yang menyatakan ” imunitas merupakan kata kunci untuk melawan pandemi dalam hal ini Covid – 19.

Selanjutnya, terdapat pernyataan bahwa ” jadi pandemi dampaknya tidak akan terlalu dahsyat kalau setiap orang ( memiliki ) imun, baik secara fisik dan psikologi.
Oleh karena itu perlu di tata bagaimana setiap orang memiliki psychological well bring.

Unggahan itupun mendapat respons dari warganet . Beberapa di antaranya berisi kritik karena pernyataan yang di kutip berasal dari ahli psikologi politik. ( Tempo.co.id).

Apa arti pernyataan Presiden, United Nation, dan juga Profesor Hamdi Muluk ?

Apakah artinya kita harus hidup berdampingan terus dengan virus yang dapat mematikan dan hanya mengandalkan imunitas tubuh kita ?

Mampukah tubuh manusia melawan secara otomatis virus Covid – 19 tanpa jatuh korban yang banyak ?

Itu pernyataan – pertanyaan yang muncul di benak kita.
Ataukah ini reaksi ketidak mampuan sistem kehidupan kapitalis menyelesaikan pandemi Covid – 19.

Karena akhir – akhir ini juga masyarakat selalu di bingungakan dengan berubah – ubahnya kebijakan pemerintah dalam menangani pandemi ini, dan kalau kita meneliti dengan detail pertimbangan yang utama adalah masalah ekonomi bukan menyelamatkan nyawa manusia.

Pendapat Ahli

Tempo.co.id menelusuri fakta dengan mencari pendapat dua ahli epidemiologi, yakni peneliti epidemiologi Eijkman-Oxford Clinical Research Unit, Henry Surendra, serta peneliti Kebijakan dan Keamanan Kesehatan Global di Pusat Kesehatan Lingkungan dan Penduduk Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman.

Menurut Henry, secara epidemiologi, pandemi bisa dikendalikan dengan tiga cara, yaitu menghilangkan atau mengurangi sumber infeksi, memutus rantai penularan, dan melindungi kelompok populasi yang berisiko terinfeksi. “Aspek imunitas individu ataupun herd immunity (imunitas kawanan) masuk ke dalam salah satu upaya melindungi populasi berisiko,” kata Henry pada 13 Mei 2020.

Namun, imunitas sendiri cukup kompleks dan spesifik. Untuk mencegah penularan pada level individu saat pandemi Covid-19, jalannya adalah melalui vaksinasi. Tapi, sampai saat ini, belum ada vaksin untuk memberikan imunitas pada seseorang dalam melawan virus penyebab Covid-19, SARS-CoV-2.

Vaksinasi juga sangat bermanfaat untuk mencegah penularan pada level populasi, yakni dengan memvaksin sebagian besar populasi. Untuk Covid-19, diperkirakan memerlukan 70 persen populasi yang divaksin agar tercapai herd immunity. Peningkatan daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi makanan bergizi atau suplemen tidak serta-merta bisa membuat seseorang terhindar dari penyakit ketika terpapar virus Corona. “Tentu ini keliru,” kata Henry.

Tanpa vaksin, menurut Henry, seseorang yang terpapar virus Corona bakal terinfeksi. Pasca infeksi, kondisi tubuh kemungkinan bisa membantu mempercepat respons terhadap virus dengan cara memproduksi antibodi. Karena belum ada vaksin untuk Covid-19 dan pandemi memerlukan respons cepat, tindakan yang paling tepat adalah memutus rantai penularan dengan menjaga jarak aman, rajin mencuci tangan, menggunakan masker, dan sebagainya.

Aspek psikologi pun berperan. Sebab, saat seseorang khawatir berlebihan, kesehatan mentalnya dapat terganggu, kemudian mengakibatkan daya tahan tubuh menurun. Namun, Henry mengingatkan bahwa aspek psikologi hanya satu dari sekian banyak aspek dalam pandemi. “Untuk saat ini, upaya-upaya memutus rantai penularanlah yang paling signifikan dampaknya dalam penanggulangan pandemi,” kata Henry.

Sementara menurut Dicky, klaim bahwa imunitas menjadi kunci dalam melawan pandemi tidak tepat. “Kalau hanya berorientasi ke imunitas, namanya memilih strategi herd immunity. Itu berbahaya. Akan timbul banyak korban,” kata Dicky pada 13 Mei 2020.

Dalam arsip berita Tempo, herd immunity adalah konsep epidemiologis yang menggambarkan keadaan di mana suatu populasi cukup kebal terhadap penyakit sehingga infeksi tidak akan menyebar dalam populasi tersebut. Herd immunity bakal terwujud setelah 70 persen populasi terinfeksi dan pulih, sehingga wabah mereda lantaran kebanyakan orang telah resisten terhadap infeksi. Strategi ini akan menelan banyak korban jiwa karena herd immunity baru terbentuk jika minimal 60-80 persen penduduk Indonesia terinfeksi Covid-19.

Dalam sejarah pengendalian pandemi, kata Dicky, strategi kuncinya adalah melakukan tes, penelusuran kontak (contact tracing), penanganan atau perawatan (treating), dan isolasi yang disertai social distancing. Strategi-strategi tersebut masih relevan sejak Dicky terlibat dalam penanganan berbagai pandemi selama 20 tahun, mulai dari HIV/AIDS, swine flu dan flu burung, hingga Covid-19.

Menurut Dicky, dalam sejarah pandemi, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa kondisi kesejahteraan psikologi mampu melawan pandemi. “Dalam teori epidemi, tidak pernah ditemukan faktor psikologis yang melindungi dari serangan demam berdarah misalnya, atau faktor psikologis yang melindungi dari wabah kolera,” katanya.

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya penyakit, tutur Dicky, yakni lingkungan, manusia, dan virus. Faktor manusia yang dimaksud adalah pola hidup bersih, memakai masker, dan cuci tangan. Sejauh ini, penyakit menular seperti Covid-19 tidak dipengaruhi oleh apakah seseorang sedang dalam kondisi tenang atau optimis. “Apabila mereka lalai tidak memakai masker, tidak menjaga jarak, atau pencegahan lainnya, mau setenang atau sekuat apapun mentalnya ya bakal terinfeksi,” katanya.

Kondisi kesehatan mental masyarakat memang menjadi perhatian di tengah pandemi Covid-19. Protokol pencegahan seperti bekerja dari rumah, pengurangan aktivitas di luar rumah, penutupan sekolah, dan tekanan ekonomi, dapat memicu seseorang khawatir berlebihan, stres, frustasi, emosional, dan berbagai kondisi yang mengancam kesehatan mental. Menjaga kesehatan mental bertujuan agar seseorang dapat tetap mengambil tindakan yang tenang dan efektif di tengah-tengah krisis global ini.

Menurut Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia, berdasarkan data 1.522 pengakses layanan swaperiksa masalah psikologis di PDSKJI.org, terdapat tiga masalah psikologis yang ditemukan di Indonesia selama pandemi Covid-19, yakni kecemasan, depresi, dan trauma. Sebanyak 63 persen pengakses mengalami kecemasan dan 66 persen mengalami depresi.

Negara yang berhasil tangani Covid-19

Tempo pun membandingkan pernyataan dua ahli epidemiologi itu dengan data negara-negara yang berhasil menangani Covid-19. Menurut laporan sejumlah media, Vietnam merupakan salah satu negara yang cukup berhasil memerangi virus Corona Covid-19. Pasalnya, hingga kini, tidak ada kasus kematian yang dilaporkan di Vietnam. Di seluruh Vietnam, kasus Covid-19 pun hanya sebanyak 10 kasus.

Kunci keberhasilan Vietnam adalah melakukan kebijakan karantina yang ketat dan menelusuri serta mendokumentasikan semua warga yang diduga berkontak dengan orang yang terinfeksi virus tersebut. Langkah-langkah ini dilaksanakan jauh lebih awal daripada Cina. Sebagai contoh, pada 12 Februari 2020, Vietnam mengkarantina hampir 10 ribu kota di dekat Hanoi, ibukotanya, selama tiga minggu.

Selain menelusuri kontak pertama, Vietnam melacak kontak kedua, ketiga, dan keempat dengan orang yang terinfeksi Covid-19. Semuanya kemudian diawasi pergerakannya dan dibatasi kontaknya dengan ketat. Sejak awal, Vietnam juga mengkarantina siapa pun yang masuk ke negaranya dari daerah berisiko tinggi selama 14 hari. Semua sekolah dan universitas pun telah ditutup sejak awal Februari 2020.

Meskipun 95 persen penduduk Vietnam menilai bahwa pemerintahnya bekerja dengan cukup baik, tingkat ketakutan mereka untuk tertular virus ini juga cukup tinggi. Sebuah jajak pendapat yang dirilis pada 22 April 2020 menunjukkan 89 persen populasi Vietnam “sangat” atau “agak” khawatir akan tertular Covid-19.

Sementara itu, Korea Selatan memilih tes massal untuk melawan Covid-19. Di sana, hampir 20 ribu orang menjalani tes Covid-19 setiap harinya, lebih banyak secara per kapita dibanding negara mana pun di dunia. Sampel juga langsung dikirim ke laboratorium terdekat dari lokasi tes. Di sana, para staf laboratorium bekerja bergiliran selama 24 jam untuk memprosesnya.

Korsel memang membangun jaringan 96 laboratorium pemerintah dan swasta untuk menggelar tes Covid-19. Para pejabat kesehatan meyakini pendekatan ini menyelamatkan nyawa banyak orang. Tingkat kematian akibat Covid-19 di Korsel hanya 0,7 persen. Adapun di dunia, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tingkat kematian akibat Covid-19 mencapai 3,4 persen.

Dengan demikian, pernyataan dua ahli epidemiologi yang diwawancara di atas terkonfirmasi. Menghilangkan atau mengurangi sumber infeksi serta memutus rantai penularan terbukti efektif dalam menangani pandemi Covid-19 di Vietnam dan Korsel.

Bagaimana dengan Indonesai ?
Catatan Media Asing soal Kebijakan Jokowi selama Pandemi terburuk di Asia Tenggara ( Gelora.new 16/5)

Solusi Islam Menangani Wabah.

Islam adalah agama yang di turunkan oleh Allah Subhanallahu wa Ta’ala. Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Pencipta dan Pengatur Alam raya.
Islam juga agama yang kaffah/ menyeluruh menyelesaikan problem kehidupan manusia dengan tuntas tanpa menyisakan atau memunculkan masalah baru.

Seorang muslim juga sadar betul ketika melaksanakan aturan Allah ( Syariah ) tidak semata mendapat kemanfatan dunia tetapi juga Ridho Allah yang berbuah pahala dan surga.

Di dalam hadits Rosulullah sudah menyerukan kepada kita semua bahwa jika ada wabah yang harus di lakukan adalah karantina wilayah / lockdown dan juga memisah dan mengobati yang sakit. Karena di dalam Islam menyelamatkan jiwa manusia lebih utama dari pada ekonomi.

Untuk apa ekonomi tetap berjalan lancar kalau manusianya akhir habis meninggal karena wabah.

Pandemi Covid – 19 ini juga seharusnya menjadi peringatan keras bagi kita semua, ketika manusia semakin menjauhkan hukum Allah dari kehidupan berarti sudah menghalalkan untuk mendapat hukuman.

Firman Allah : ” Dan barang siapa berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunya pada hari kiamat dalam keadaan buta ( TQS.Thaha : 124 )

Rosulullah Saw bersabda ” Wahai kaum Muhajirin, lima perkara jika kalian ditimpanya dan aku berlindung kepada Allah agar kalian tidak menjumpainya. Tidakkah fahisyah – zina nampak di suatu kaum hingga mereka melakukanya terang – terangan kecuali akan menyebar di tengah meraka penyakit Tha’un dan berbagai penyakit yang belum terjadi digenerasi – generasi yang sudah berlalu sebelum mereka…( HR. Ibnu Majah, Al Bazar, Al Hakim, al- Bayhaqi,ath- Thabarani dan Abu Nu’aim ).

Wahai manusia, wahai penguasa negeri belum cukupkah peringatan Allah dan RosulNya bagi kita semua.

Bahagiakan kita hidup di tengah kesempitan dan penderitaan karena menjauhkan diri dari agamaNya.
Ataukah adzab jahanam yang senantiasa mengintai kita yang akan menyambut kita kelak di akhirat.
Naudhubillahi min dzalik