By: Usagi Tsukino

Pernah gak sih kita menemui beberapa pertanyaan yang sebenarnya sudah lazim diketahui jawabannya oleh khalayak ramai, tapi tiba-tiba saja diperdebatkan kebenarannya.
Misalnya saja..

Zakar fitrah itu takarannya 1 mudd.
1 mudd itu berapa kilo sih? Ada yang bilang 2,5 kg beras itu belum memenuhi standart 1 mudd. Harus direvisi nih fatwa ulama yang selama ini berlaku di masyarakat.
Atau masalah, tinta cumi itu haram karena tinta cumi sama seperti darah pada hewan.

Mungkin kebanyakan dari kita akan mengernyitkan kening keheranan mendengar pendapat pendapat baru yang bermunculan mendebat pendapat lama yang sudah lazim dijadikan pegangan oleh masyarakat dan memang berdasar dalil yang kuat.

Hmmm..
Dinamisasi pemikiran dan perbedaan pendapat memang dibolehkan temans..

Tapi.. kok rasanya janggal ya jika ada diantara kita yang merasa “lebih tau”, “lebih pintar”, kemudian dengan mudahnya mengharamkan atau menyalahkan sesuatu yang selama ini dibenarkan dan dilazimkan oleh banyak ulama.

Temans..
Ulama ulama sepuh kita dari generasi ke generasi adalah orang orang yang fakih, alim. Jadi, jika saat ini muncul generasi baru yg datang untuk menyalahkan pendapat pendapat ulama fakih tersebut, hal itu tidak tepat.
Pada prinsipnya, kita ingin secara bertahap tapi pasti fokuskan perhatian, pandangan serta konsentrasi umat pada qadhiyyah masiriyyah (masalah inti. Pokok utama) mereka sebagai umat. Terkait isu-isu lain, hal itu identik dengan mengalihkan perhatian umat dari qadhiyyah masiriyyah (masalah utama), baik disengaja ataupun tidak disengaja.
Oleh sebab itu, diskusi diskusi tentang perkara ikhtilaf. misalnya tiap Ramadhan selalu ramai diskusi tentang “Berapa kg zakat fitrah?” Atau pertanyaan “Apakah tinta cumi haram?”. Kemudian banyak diantara kita yang tampil sebagai mufti, sok tahu, sok pinter. Tapi ironisnya kapasitas dirinya sendiri justru tidak tahu. Tidak memenuhi standart kelayakan.

Diskusi tentang berapa kg zakat fitrah kan sudah selesai. Dan para ulama di negeri kita sudah tahu jawabannya, mereka bukan orang orang bodoh.
Oleh karena itu, benar sekali yang dikatakan penulis kitab al muhadzdzab ala ihya ulumiddin yang menyatakan bahwa melakukan sesuatu yang sudah dilakukan orang lain itu tidak boleh.

Mengapa? Karena dua hal :

(a) Sia-sia, karena hal yang dilakukan tidak ada manfaatnya atau minimal kuranglah manfaatnya bagi umat. Mengapa? karena org lain sudah melakukan. Contohnya yang dilakukan oleh syeikh nashir al albani yang menilai ulang kutubus sunan dan memilah menjadi sahih dan dha’if. misalnya : shahih sunan abu dawud, dha’if sunan abu dawud, dan dia mengklaim bahwa dialah yang pertama melakukan itu. Padahal hal ini adalah perbuatan yang tidak perlu kalau tidak bisa dikatakan sia-sia
terlebih lagi Syeikh Nashir Al Albani bukan ulama hadits yang muktamad dalam menilai suatu hadits,dalam ilmu hadits yang muktamad penilaiannya adalah derajat ilmiahnya harus al hafidz. Sedangkan syeikh nashir bukan min huffadzil hadits… jadi hal itu adalah sebuah kesia siaan. Tidak bermanfaat. Beliau juga tidak kapabel dalam perkara ini.

Bukankah kalau kita bikin skripsi, tesis, disertasi selalu dicek sudah ada yang melakukan atau belum? Kalau sudah ada yang melakukan, pasti ditolak oleh pembimbing. Bukan begitu?

(b) masih menurut pengarang kitab al mujadzdzab ala ihya ulumiddin, di akherat nanti akan kita pertanggung jawabkan di hadapan Allah kelak
Mengapa? Mengapa buang umur, tenaga, dana dan juga waktu untuk melakukan hal-hal yang kurang bermanfaat? Bahkan sia-sia.

Alhasil, kalau bukan qadhiyyah masiriyyah (masalah utama), tanggapi dengan senyum saja.

Tsumma barakallahu fikum wa yassarallahu umurakum…