Oeh: Maman El Hakiem

“Hati yang berada di jalan-Nya menuju Allah bagaikan burung, dimana cinta adalah kepalanya dan rasa cemas juga harap adalah sayapnya” (Ibnul Qayyim al Jauziyah).

Menjadi seorang lelaki itu adalah amanah Allah SWT, tidak semata-mata garis takdir berupa qada dari Allah SWT. Apa amanah yang dipikulkan pada seorang lelaki? Menjadi qawwam, pemimpin sekaligus pelindung.

Pemimpin untuk dirinya sendiri, istri dan istrinya lagi, juga anak anak jika diamanahinya. Tetapi, lelaki bukanlah malaikat yang memiliki sayap. Lelaki adalah manusia biasa, bisa ia seorang suami yang memimpin keluarga, imam atau khalifah yang memimpin negara, atau sekedar pemimpin yang memimpin hati dan akalnya sendiri. Setiap orang adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.

Semakin luas area urusan kepemimpinannya, tentu beban berat dipikulnya, lebih berat dari sekarung gandum yang dipikul sendiri, seperti yang dilakukan oleh Khalifah Umar ra. Beliau teladan seorang lelaki sebagai cerminan Rasulullah saw. yang mampu mengemban amanah sebagai lelaki sejati, pemimpin umat juga pemimpin rumah tangga dengan adil.

Soal adil ini sering jadi isu syarat poligami bagi seorang suami, maaf poligami istilah syar’i yang tidak boleh ditolak. Seorang istri yang faham betul syariat, tidak akan pernah ada syarat untuk suami berpoligami. Masalahnya bukan pada istri, tetapi pada suami bisakah jadi seorang lelaki sejati? Tentu bukan sekedar modal fisiknya saja.

Lelaki sejati itu ibarat seekor burung yang bisa mengepakan sayapnya, terbang mencari nafkah untuk menjaga kehormatan keluarganya, juga matanya jeli dalam memahami syariat, sehingga hanya mencari hal-hal yang dihalalkan, bukan yang diharamkan dalam segala perkara. Karena di kepalanya, ada cinta kepada Allah SWT yang mampu mengalahkan segalanya, dan kedua sayapnya adalah rasa harap dan cemas jika ridlo Allah SWT tidak diraihnya.

Karena seorang lelaki (suami) bukanlah malaikat yang punya sayap, maka sayap bagi seorang suami adalah istrinya atau istrinya lagi jika “bersayap dua”. Kehadiran seorang istri adalah “teman sejati” yang harus diikat dengan ikatan yang kuat (akad nikah yang sah dan berkah), bukan akad kontrak, apalagi ijaroh ‘cinta satu malam”. Karena itu pengaruh sekulerisme dalam kehidupan rumah tangga harus dienyahkan, disrupsi atau kehancuran rumah tangga muslim harus diselamatkan.

Persoalan pelik bagi seorang lelaki pemimpin adalah godaan rayuan materi atau tipu daya dunia, begitupun hilangnya sayap seorang istri karena gaya hidup materialistis dan ajaran kepuasan syahwat menyesatkan model Freud. Inilah kehidupan dalam sistem yang tidak Islami, ketika aturan pergaulan dibiarkan bebas tanpa terikat hukum syariat dari Allah SWT. Kehadiran seorang lelaki di rumah tangga atau negara sekuler takluk dalam pelukan nafsu dunia semata. Harusnya lelaki sejati itu menjadi perisai nilai dan harga diri seorang wanita juga negara dalam aturan syariah yang kaffah.

Wallahu’alam bish Shawwab.***