Oleh: Tawati (Muslimah Revowriter Majalengka dan Member Writing Class With Hass)

Dinas Pendidikan Jabar mengeluarkan kebijakan pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar (KBM) tahun ajaran 2020-2021 di awal semester tetap menggunakan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Kepala Disdik Jabar Dewi Sartika mengatakan, selain mengikuti kebijakan SE Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), keputusan tersebut diambil atas rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) soal PJJ. Setidaknya hingga Desember 2020 guna mencegah persebaran COVID-19 pada anak lantaran anak rentan terinfeksi. (detiknews, 4/6/2020)

Dunia tak pernah menghendaki wabah penyakit. Apa daya, penyebaran Covid-19 pun menggucang dunia pendidikan. Berdasarkan data Mendikbud, lebih dari 160 pemerintah kabupaten/kota dan provinsi mengeluarkan surat edaran meniadakan KBM di kelas. Siswa dan guru diminta melakukan aktivitas belajar mengajar dari rumah.

Inilah dampak dari kegagapan Negara Kapitalisme dalam menangani wabah covid-19 sehingga berdampak pada sektor pendidikan. Tentu menjadi waktu yang tidak sebentar. Lantas, bagaimana nasib pendidikan anak-anak? Dan apa solusi terbaiknya?

Sejarah baru proses pendidikan abad milenial harus mulai. Belajar jarak jauh bisa dilakukan dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi. Untuk ini, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah menyediakan aplikasi dan laman Rumah Belajar sebagai sarana pendukung belajar di rumah. Setidaknya ada 12 aplikasi pembelajaran daring gratis yang bekerja sama dengan Kemendikbud. Harapannya pembelajaran tatap muka dari guru dapat tergantikan.

Di lapangan, proses belajar di rumah penuh dinamika. Sebagian besar guru ternyata hanya memberikan tugas kepada siswa, tanpa bimbingan. Memang, siswa terbantu oleh internet dalam mencari rujukannya. Namun, tugas kepada siswa tidaklah sedikit.

Banyak orang tua yang merasa keberatan atas tugas yang begitu banyak dari para guru sehingga anak-anak merasa stres. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) akhirnya meminta pemerintah pusat dan daerah mengevaluasi sistem belajar di rumah ini.

Menurut KPAI, sistem belajar di rumah yang diterapkan sekolah tidak efektif karena belum ada pemahaman yang baik oleh para guru. (CnnIndonesia, 19/3/2020). Para guru gagap, ketika kondisi di luar kebiasaan harus mereka hadapi. Padahal beban kurikulum (bahan ajaran) yang harus diberikan kepada siswa begitu padat.

Di sisi lain, upaya pembelajaran daring juga tidak mudah dilakukan. Sebab, semua itu membutuhkan biaya (internet) tidak sedikit. Apalagi kemampuan orang tua siswa juga beragam. Mereka sendiri sudah terdampak secara ekonomi karena wabah ini.

Mendikbud Nadiem Makarim menegaskan agar proses belajar di rumah tidak menimbulkan beban baru bagi para siswa. Menurutnya, proses belajar di rumah bagi siswa selama wabah korona ini harusnya memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa.

Jangan sampai hanya karena ingin menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan para guru malah memberikan berbagai tugas yang ujungnya malah membebani siswa selama proses mereka belajar di rumah.

Di sisi lain, belajar di rumah disikapi dengan santai oleh sebagian siswa. Puluhan anak sekolah terkena razia saat bermain di sebuah warnet di Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut. Padahal siswa sekolah sudah diminta untuk belajar di rumah dan tak boleh berkeliaran. Anak-anak usia SD sampai SMP itu sedang asyik bermain game online saat didatangi petugas Satpol PP dan Kepala Dinas Pendidikan Garut. (Tribunnews, 18/3/2020)

Itulah sebagian kondisi pendidikan dalam sistem Kapitalis sekarang akibat wabah Covid-19 ini. Lantas bagaimana pendidikan di dalam sistem Islam jika terjadi wabah?

Dalam kondisi wabah, Islam menetapkan kebijakan lockdown atau karantina wilayah. Sebagaimana Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, yang artinya, “Apabila kalian mendengar wabah di suatu tempat maka janganlah memasuki tempat itu, dan apabila terjadi wabah sedangkan kamu sedang berada di tempat itu maka janganlah keluar darinya.” HR Imam Muslim).

Berdasarkan hal ini, belajar di rumah pun menjadi kebijakan yang harus diambil dalam daulah Khilafah. Meski demikian, kondisinya tentu tidak seperti pelaksanaan belajar di rumah saat ini yang banyak menimbulkan kegaduhan, baik dari siswa, orang tua hingga guru.

Kebijakan belajar di rumah dalam sistem Khilafah tidak sampai mengurangi esensi pendidikan. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Pertama, negara Khilafah berasaskan akidah dan syariah Islam. Berdasarkan asas ini, Negara menegaskan tujuan pendidikan baku yang harus diemban seluruh pemangku pendidikan baik negara, siswa, guru, tenaga kependidikan, hingga oleh orang tua siswa.

Sebab, belajar di rumah melibatkan orang tua. Asas pendidikan juga akan sangat menentukan dalam penentuan materi ajaran (kurikulum) saat siswa belajar di rumah. Kesadaran yang dimiliki orang tua juga sangat berpengaruh. Mereka akan mendidik sesuai target dan tujuan pembelajaran dalam Islam. Mendidik dengan penuh kasih sayang karena berangkat dari kesadaran terhadap kewajiban dari Allah SWT.

Berdasarkan tujuan tersebut, maka saat belajar di rumah dalam bagian pembentukan kepribadian Islam dan life skill bisa 30%, konten materi tsaqofah Islam 30%, sedangkan materi sains dan teknologi 40%. Bentuk penyampaian pun tidak akan keluar dari tujuan dan landasan akidah Islam. Misalnya, guru tidak bersifat kaku dan memaksa atas tugas-tugas yang dibebankan kepada siswa. Dalam kondisi wabah, maka materi pembelajaran terutama untuk menguatkan ketaatan kepada Sang Pencipta yang menguasai manusia.

Kedua, negara Khilafah menguasai ilmu dan teknologi komunikasi yang handal. Maka, keterbatasan guru, siswa dan orang tua untuk melakukan pembelajaran daring bisa diminimalisir. Berbeda dengan kondisi saat ini, masih banyak guru, siswa, dan orang tua yang gagap teknologi komunikasi.

Padahal, pembelajaran jarak jauh telah cukup jamak digunakan di berbagai belahan dunia. Hanya saja, Kapitalisme telah membelenggu banyak kalangan dari mengenal dan menggunkan teknologi ini. Baik karena keterbatasan ekonomi untuk memiliki alat (media) dan akses internet, maupun keterbatasan ilmu.

Dalam sejarah, negara Khilafah dikenal sebagai negara maju yang menguasai jagad teknologi. Berbagai penemuan teknonogi dilakukan oleh kaum Muslim. Hal ini karena Islam mendorong setiap muslim untuk terus belajar dan mengembangkan ilmunya. Negara pun mendukung sepenuhnya.

Ketiga, belajar di rumah dalam Khilafah ditopang oleh perekonomian yang stabil bahkan maju. Dengan kondisi tersebut, negara mampu menopang kehidupan ekonomi rakyat yang membutuhkan bantuan akibat lockdown. Orang tua tak perlu bekerja di luar. Mereka bisa optimal membantu proses belajar di rumah dengan sebaik-baiknya.

Tak hanya dalam pemenuhan kebutuhan pokok, negara Khilafah juga mampu memberikan berbagai fasilitas pendukung pembelajaran. Negara menyediakan platform pendidikan gratis dan sarana pendukungnya, seperti internet gratis dan media (alat komunikasinya).

Mahasiswa pun tak perlu teriak meminta keringanan biaya pendidikan. Karena dalam kondisi tidak ada wabah mereka dibiayai oleh negara. Walhasil, semua kebutuhan belajar di rumah tidak ada kendala, karena negara men-support penuh semua kebutuhan tersebut. Hal itu hanya terjadi jika negara kuat, maju dalam perekonomian. Yakni, negara yang menerapkan syariat Islam.

Demikianlah, hanya negara Khilafah Islam yang mampu memberikan pelayanan pendidikan optimal lagi sahih kepada rakyatnya baik pada kondisi wabah maupun tidak. Belajar di rumah saat wabah pun tak masalah. Semoga wabah kali ini membawa spirit kuat bagi kaum Muslim untuk berjuang menegakkan Khilafah. Wallahu a’lam.