Oleh: Rina Tresna Sari,S.Pd.I
(Praktisi Pendidikan dan Member AMK)

Mendadak viral bahkan go internasional kelakar yang diucapkan Mahfud MD saat mengatakan bahwa virus Corona itu seperti istri. Sebagaimana dilansir Liputan6.com, 30/05/2020- Media Arab, India, hingga Australia, menyorot ucapan Menko Polhukam Mahfud MD terkait corona seperti istri. Saat itu Mahfud sedang silaturahmi online dengan Universitas Sebelas Maret.

“Corona is like your wife. Initially, you try to control it. Then you realize that you can’t. Then you learn to live with it,” kata Mahfud seraya mempromosikan new normal pada 26 Mei 2020.

Mahfud MD pun masuk ke media internasional. Media Qatar, Gulf Times, menuliskan berita berjudul Indonesian security minister under fire for comparing virus to wives (Menteri keamanan Indonesia dikecam karena membandingkan virus ke istri).

“Menteri keamanan Indonesia telah dikritik tajam akibat membandingkan virus corona baru ke istri ketika berusaha meredam kecemasan publik tentang melonggarkan pembatasan Covid-19,” tulis Gulf Times.

Media Turki, Daily Sabah, turut menuliskan bahwa Mahfud MD dikritik karena membandingkan virus corona ke istri.

Media-media negara Asia Pasifik juga melansir retorika Mahfud MD. Media ABC dari Australia dan NDTV dari India menulis berita terkait ucapan Mahfud MD yang dinilai seksis.

Negara-negara tetangga pun turut membaca retorika Mahfud, seperti yang diberitakan The Straits Times, Malay Mail, dan Yahoo! Philippines.

Memang tidak sekali ini saja pejabat negara pengatakan pernyataan yang kurang pantas dan seolah meremehkan pandemik yang sedang melanda negeri ini. Namun penanganan mereka terhadap Corona sangatlah buruk, sampai-sampai media luar ikut berkomentar.

Komentar senada juga disampaikan ketua solidaritas perempuan Dinda Nisa Yura, sebagaimana dilansir Tempo.co,27/05/2020-Solidaritas Perempuan mengecam pernyataan pejabat publik yang menganalogikan corona sebagai istri.
“Pernyataan ini bukan hanya mencerminkan dangkalnya daya pikir pemerintah untuk memecahkan persoalan pandemi Covid-19, tetapi juga menunjukkan pola pikir seksis dan misoginis pejabat publik,” kata Dinda Nisa Yura, Ketua Badan Eksekutif Nasional Solidaritas Perempuan.

Pernyataan Mahfud MD menunjukan secara gamblang bahwa pemerintah gagal dan tidak mampu mengendalikan virus Corona. Sehingga satu-satunya pilihan adalah menerima untuk hidup dengan virus tersebut. Tak hanya itu kelakar ini sekaligus memberikan gambaran nyata bahwa sistem kapitalis sekuler telah gagal menghadirkan pemimpin berkarakter mulia. Karena sistem ini mengajarkan cara pandang yang tidak berorientasi pada akhirat, sehingga wajar bila pemimpin sekarang terlihat meremehkan tanggung jawab sebagai pemimpin terhadap rakyat. Inilah sumber malapetaka bagi keberlangsungan kehidupan umat.

Berbeda dengan Islam, sistem Islam telah terbukti berhasil melahirkan pemimpin yang memiliki nilai lebih sebagai pemimpin. Dalam sistem Khilafah kepemimpinan adalah amanah yang harus dipertanggung jawabkan di dunia dan akhirat. Karenanya dalam kepemimpinan nya selalu dilandasi dengan nilai takwa.

Khilafah Juga, yang akan mengemban visi dan paradigma bernegara dalam Islam. Di mana visi Islam menggariskan ada dua peran negara atau penguasa yang sangat mendasar.

Pertama, peran sebagai “raa’in”, pengurus urusan rakyat, termasuk pengurusan hajat hidup publik sesuai tuntunan syariat. Ditegaskan oleh Rasulullah saw, “Imam (Khalifah) raa’in (pengurus rakyat) dan dia bertanggung jawab terhadap rakyatnya.” (HR Ahmad, Bukhari).

Kedua, adalah peran sebagai “junnah” (perisai) yakni pelindung sekaligus sebagai pembebas manusia dari berbagai bentuk dan agenda penjajahan. Ditegaskan Rasulullah “Imam adalah perisai orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.” (HR Muslim).

Oleh karena itu, di dalam Islam, harta, darah dan kehormatan setiap warga negara adalah tanggung jawab penuh negara. Rasulullah (Saw.) pernah bersabda,

“Sesungguhnya darah kalian, harta benda kalian, kehormatan kalian, haram atas kalian seperti terlarangnya di hari ini, bulan ini, dan negeri ini. Hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir…. (HR Bukhari dan Muslim)

Dengan mengemban fungsi bernegara ini, kelalaian dan pengabaian termasuk kelakar yang seolah meremehkan urusan rakyat, yang menjadi ciri khas pemerintahan sekuler kapitalis tidak akan terjadi. Wallahu a’lam bishshowab.