Oleh : Umi Rizkyi (Komunitas Setajam Pena)

Rakyat lagi, lagi dan lagi harus menelan pahitnya kehidupan. Getirnya kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Di mana, pada masa pandemi Covid-19 yang belum kunjung hengkang dari dunia ini lagi-lagi rakyat harus merasakan himpitan dan perihnya menanggung biaya hidup, sekolah anak-anaknya, biaya untuk pembayaran listrik tiap bulan dan sebagainya. Sekarang ditambah lagi dengan mahalnya biaya rapid test yang ada di lapangan.

Biaya yang mencapai ratusan ribu hingga ada yang mencapai jutaan rupiah. Justru ini jelas akan menambah beban rakyat. Seperti yang dilansir oleh kompas.com (21/6/2020)_ Biaya untuk menguji seseorang terinfeksi Covid-19 atau tidak di Indonesia bervariasi di berbagai instansi. Walaupun ada yang digratiskan tapi masyarakat tetap diwajibkan untuk melakukan tes mandiri. Jika ingin belergian, masuk atau keluar kota yang didiami ke kota lain.

Contohnya, mau bepergian dengan menggunakan transportasi umum, misal saja kereta. Maka, jika ingin melakukan bepergian dengan menggunakan kereta dibutuhkan hasil rapid test, tes PCR/influenza sebagai syarat peserta boleh naik kereta.

Seperti yang telah dilansir oleh kompas.com_ Di sebuah market place harga rapid test yang impor dari China seharga Rp 295 ribu. Disertai akurasinya 95 persen dan dengan waktu yang singkat yaitu 15 menit. Ada juga yang menjualnya Rp 900 ribu, rata-rata harga rapid test dibawah satu juta. Dan untuk tes PCR serta swab harga lebih tinggi lagi.

Seperti yang dilansir oleh kom0as.com 1/6/2020_ Biaya tes mencapai Rp 1.675.000 termasuk administrasinya, ini yang dilakukan di RS Universitas Indonesia, bahkan di Riau mencapai Rp 1.700.000 per orang yang dilakukan di RSUD Arifin Achmad, tes mandiri. Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Juru bicara penanganan Covid-19 Riau, Dr Indra Yofi mengatakan ” Seharusnya pemerintah segera menetapkan Harga Ecer Tertinggi (HET) rapid test. Sehingga konsumen tidak menjadi objek pemerasan dari oknum dan lembaga kesehatan tertentu dengan idealnya rapid test dan juga membutuhkan tata niaganya pula,” Jelasnya.

Dari fakta di atas, sungguh miris apa yang dialami oleh rakyat. Hidup di tengah pandemi saja, itu telah membuat rakyat sulit untuk bergerak dan menghadapi kehidupan ini, guna untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sekarang ditambah lagi dengan biaya yang tinggi untuk melakukan tes. Di saat ini dalam keadaaan kekhawatiran atas diri rakyat terpapar Covid-19, harus melakukan tes dengan biaya yang mahal.

Nah, sesungguhnya negaralah yang menanggung hal ini. Negara, hendaknya memfasilitasi dan mendukung dengan pelayanan kesehatan yang baik dan memadai. Kareana urusan kesehatan merupakan kebutuhan pokok bagi seluruh rakyat. Di sinilah segarusnya peran penguasa yang senantiasa taat dan patuh terhadap aturan Allah SWT maka akan menggunakan dan menjalankan kewajiban dengan sebaik-baiknya.

Hal itu bisa diraih, tatkala siatem Islam diterapkan dalam kehidupan di sebuah negara yang menjalankan seluruh aturan Islam yang disebut dengan Khilafah. Seperti yang telah disabdakan Nabi Saw yang artinya Imam (kholifah) raa’iin (mengurusi umat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya. HR Bukhori.

Telah jelas dalam hadist ini, bahwa menjadi seorang pemimpin/imam/kholifah tidaklah mudah, tanggung jawab dipundaknya yang harus dipikul sngatlah besar dan berat. Baik di dunia, terlebih lagi di akhirat kelak.

Tugasl/kewajiban negara khilafah tidak hanya mengurusi urusan umat tetapi juga melayani rakyatnya. Memenuhi segala kebutuhan rakyatnya dengan sebaik-baiknya. Seorang pemimpin yang diberi amanah wajib untuk bersungguh-sungguh mengerahkan segala kemampuan yang ada dan mencurahkan segala perhatiannya semata agar berkidmat untuk rakyat. Dalam pemenuhan kebutuhan baik primer maupun sekunder, harus sesuai dengan aturan Allah SWT yaitu Alquran dan Al Hadits, tidak boleh melanggar sedikitpun.

Pemimpin yang amanah, peka, adil dan terhadap kepentingan rakyat hanya ada pada sistem Islam yaitu yang disebut dengan Khilafah. Sebuah sistem yang berdiri di atas landasan akidah Islam. Dan segala aspek kehidupan diatur oleh aturan Islam.

Suatu hal mustahil jika ada seorang kholifah lalai dari kewajibannya. Karena sistem Khilafah dipenuhi suasana iman yang kuat dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Kita sebagai rakyat, hendaknya bangun dari tidur lelapnya. Bergerak bangkit menuju Indonesia yang lebih maju dan lebih baik. Masih kekeh dengan berharap dan mendukung kapitalisme-demokrasi hanyalah sikap bunuh diri, karena jelas kapitalisme-demokrasi telah gagal menyejahterakan rakyat. Kini saatnya seluruh rakyat Indonesia berpikir, hanya sistem Islam lah satu-satunya solusi dari berbagai masalah yang mendera negeri kita tercinta ini. Mulai dari pendidikan, ekonomi, sosial, politik dan juga kesehatan. Allahaklam bisowab.