Oleh: Maman El Hakiem

Jika bisa dipersulit,kenapa harus dipermudah? Jika harus berbayar,kenapa diberikan gratis? Birokrasi dalam sistem demokrasi diciptakan bukan untuk mempermudah rakyat, tetapi sebaliknya malah mempersulit. Sudah menjadi pemandangan umum, banyak pelayanan publik harus melewati banyak meja, antri berjam jam,bahkan menunggu seharian. Padahal,sekedar untuk mendapatkan secarik surat keterangan atau kartu identitas, tentu bukan barang gratis juga, berbayar bahkan mahal harganya.

Penulis sempat beberapa kali bolak balik ke kantor imigrasi, hanya karena urusan paspor buat perjalanan ibadah,ternyata banyak proseduralnya,selain jarak yang jauh karena hanya ada di kota tertentu. Untuk ketertiban memang diperlukan, tetapi profesionalitas dan kesederhanaan pelayanan sangat dibutuhkan. Tidak heran sesuatu yang gratis di negeri ini jika sudah urusan birokrasi menjadi ribet, jangankan yang gratis, yang bayarpun terkesan sulit didapatkan.

Wajar jika ada rakyat yang berasumsi “membuang” uang saja sulit, apalagi mencari uang di sistem yang secara jujur memang “anti gratis” ini. Sebuah sistem yang memang tidak diperoleh secara gratis, melainkan atas jual beli suara rakyat. Pantas saja, negara tidak ubahnya bagaikan “pasar”, tempat penjual dan pembeli bertemu. Apa yang dijual? Barang dan jasa yang dibutuhkan rakyat. Penguasa dengan birokrasinya selaku penjual, rakyat sebagai pembelinya.

Hanya dalam sistem pemerintahan Islam, birokrasinya tidak ribet,pelayanan publik (al maslahiyah an naas) nya mudah dan murah, bahkan gratis. Dikutip dari kitab “azhijah ad daulah al khilafah fii al hukmi wa al iddaroh”, karya Syaikh Taqiyuddin an Nabhani, dijelaskan bahwa pelayanan publik sifatnya harus sederhana,mudah dan profesional.Artinya penguasa benar-benar melakukan amanah pengurusan terhadap rakyatnya sebagai “pelayan” yang melayani, bukan yang minta dilayani.

Mekanisme birokrasi dalam Islam menyangkut urusan umat yang sifatnya administrasi boleh mengadopsi cara-cara yang dianggap memudahkan dan tanpa banyak prosedural. Begitulah apa yang dilakukan Rasulullah saw. saat menemukan kecurangan jual beli di pasar,langsung bertindak cepat memutuskan di tempat. Beliau sebagai pemimpin negara juga sangat mudah untuk ditemui, hal demikian diikuti para sahabat yang menjadi khalifah selanjutnya.

Umar bin Khattab ra. saat mendapat pengaduan dari rakyatnya, sekalipun Yahudi yang mengadukan hak tanahnya yang dipaksa untuk perluasan masjid. Dengan sangat sederhana, Umar mengambil sebatang tulang yang ia toreh dengan ujung pedangnya berupa garis lurus. Artinya apa? Umar dalam memberikan keputusam sangat cepat, mudah dan tuntas. Sebagaimana beliaupun memanggul sendiri gandum untuk rakyatnya, seolah ingin menebus kesalahannya yang dianggap lalai mengurusi umat. Birokrasi dalam Islam dalam rangka memudahkan urusan agar syariah terlaksana dengan baik.

Wallahu’alam bish Shawwab.