Oleh: Naini Mar Atus Solikhah

Moderasi Islam: Upaya Pengebirian Makna Khilafah dan Jihad
Oleh: Naini Mar Atus Solikhah
Kembali, pemerintah melalui tangan besinya yaitu Kementerian Agama membuat keputusan yang menyinggung umat Islam. Pasalnya, Khilafah dan Jihad, dua kata yang menjadi momok menakutkan bagi rezim dan Barat itu kini menjadi sasaran moderasi Islam ala Barat. Selain itu, pemerintah menggiring opini seakan-akan kata Khilafah dan Jihad adalah konten radikal dan tak sesuai dengan zaman sekarang.

Seperti dikutip dari Republika.co.id, Seluruh materi ujian di madrasah yang mengandung konten khilafah dan perang atau jihad telah diperintahkan untuk ditarik dan diganti. Hal ini sesuai ketentuan regulasi penilaian yang diatur pada SK Dirjen Pendidikan Islam Nomor 3751, Nomor 5162 dan Nomor 5161 Tahun 2018 tentang Juknis Penilaian Hasil Belajar pada MA, MTs, dan MI.

Menag Fachrul Razi, lewat keterangan tertulisnya, Kamis, 2 Juli 2020 seperti dikutip dari CNN Indonesia mengatakan, telah melakukan review 155 buku pelajaran. Dalam buku agama Islam hasil revisi masih terdapat materi soal Khilafah dan nasionalisme. Namun buku-buku itu akan memberi penjelasan bahwa Khilafah tak lagi relevan di Indonesia. Pihaknya pun memastikan ratusan buku pelajaran agama tersebut telah direvisi dan mulai dipakai untuk tahun ajaran 2020/2021.

Tindakan Kemenag merevisi 155 buku pelajaran yakni materi Khilafah dan Jihad dari materi ajar, benar-benar menampakkan Islamfobia. Ketakutan terhadap Islam yang tidak beralasan. Dalih Kemenag bahwa pembahasan Khilafah tak lagi relevan di Indonesia serta bermuatan radikal dan eksklusivis yang harus dihilangkan.

Perevisian sejumlah buku-buku tersebut merupakan bagian dari program penguatan moderasi beragama yang dilakukan Kemenag. Pemerintah melalui Kemenag ingin mengedepankan pada Islam Wasathiyah yang berorientasi pada penguatan karakter, ideologi Pancasila dan anti korupsi, sehingga materi ajar yang tidak mengedepankan kedamaian, keutuhan dan toleransi harus dihilangkan.

Sungguh, ini adalah penyesatan yang sistematis terhadap ajaran Islam. Karena ajaran Islam yang berpotensi mengganggu kepentingam rezim dihapus. Ketakutan yang tidak beralasan ini, telah sampai pada taraf akut hingga mengidentikkan ajaran Islam ini sebagai pemecah belah dan bentuk intoleransi. Bahkan dianggap sebagai biang radikalisme yang mengancam keutuhan bangsa dan negara. Padahal semua orang tahu, yang mengancam negeri ini adalah sekularisme-kapitalisme-liberalisme.

Kebijakan ini menghasilkan kurikulum pendidikan sekuler yang anti Islam. Kurikulum pendidikan sekuler yang menghasilkan generasi yang rusak jauh dari nilai Islam dan akhlaqul karimah.
Kurikulum yang menjadi rujukan mengarahkan anak umat memperjuangkan tegaknya Islam diganti materi yang mendorong mereka mengganti Islam dengan sistem buatan manusia. Alhasil, marak terjadi perilaku bulliying, tawuran, kekerasan terhadap guru hingga sex bebas menjadi bukti gagalnya kurikulum pendidikan sekuler mendidik generasi.

Suka ataupun tidak, khilafah dan jihad adalah bagian dari ajaran Islam. Sama seperti shalat, zakat, puasa, haji, dan yang lainnya. Itu semua adalah ajaran Islam. Keengganan seseorang untuk menaati perintah-perintah Allah tersebut tidak serta-merta membuat syariah Allah itu dipersoalkan dan disingkirkan. Sebab pada hakikatnya manusialah yang harus menyesuaikan diri dengan syariah Islam. Khilafah dan jihad pun termaktub dalam kitab-kitab fikih dan tertulis dalam banyak hadits. Banyak ulama juga yang sudah menjelaskan ajaran Islam tentang khilafah.

Adapun, program penguatan moderasi beragama tidak lain hanya dijadikan benturan terhadap syariah Islam atau Islam Kaffah. Moderasi Islam dikenalkan sebagai Islam yang lebih toleran dan Islam yang tidak “kaku”. Dimana istilah Islam moderat sendiri selalu di-lawan kata-kan dengan Islam radikal, Islam fundamental, atau ekstrimis yakni Islam yang “kaku” yang cenderung tak mau menerima perbedaan alias intoleran. Makna khilafah dan jihad telah dikebiri dari makna sebenarnya sesuai pesanan barat.

Inilah yang diinginkan barat, upaya pengebirian makna khilafah dan jihad ke arah moderasi Islam melalui rezim sekuler liberal. Menjauhkan makna khilafah dan jihad yang sebenarnya dari benak anak-anak kaum Muslimin. Sehingga hilang ghirah jihad dalam jiwa dan hati mereka. Dan juga hilang ghirah untuk mengembalikan tegaknya taj al-furud (mahkota kewajiban) kaum Muslimin yaitu khilafah. Padahal khilafah dan jihad merupakan dua kemuliaan di sisi kaum Muslimin.

Allah SWT telah mengingatkan:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (QS. Ali Imran[3]: 118).

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (TQS. al-Baqarah [02]: 208)

Upaya penghapusan materi khilafah dan jihad semestinya membuat umat semakin membuka mata. Gelombang arus moderasi Islam ala liberal begitu deras dilakukan. Ajaran khilafah dan jihad yang seharusnya wajib diajarkan, justru berani dibelokkan. Maka, sikap kita hari ini tidak lain adalah wajib terus menjaga ajaran Islam dari berbagai upaya deradikalisasi, stigmatisasi dan desakralisasi ajaran Islam. Sudah selayaknya kita terus memperjuangkan Islam hingga Allah memenangkan agama ini dia atas bumi. Insya Allah.