Oleh: Anita Ummu Taqillah

“Maaf Mas, Aku sudah tak perawan.”

***

Namaku Kirana. Gadis yatim piatu yang hidup sebatang kara di rumah peninggalan orang tuaku. Hari ini adalah hari pernikahanku. Lelah sudah raga ini setelah seharian berjibaku dengan para tamu. Ya, laki-laki berparas rupawan tetapi terlihat tegas itu mengucap janji sucinya pagi tadi. Muhammad Hanan namanya.

Setelah ijab qabul, acara walimah pun digelar. Meski sederhana, namun sanak saudara, kerabat dan teman-teman pun datang silih berganti. Meski diri ini lelah, namun harus tetap beramah tamah.

Ba’da salat isya’, ingin sekali diri ini merebahkan badan. Namun, kini ada seseorang yang menemaniku di kamar ini. Rasa canggung masih sama-sama bergelayut. Belum lagi, detak jantung yang tak bisa diajak kompromi saat ia menyapa diri.

“Sudah salat isya’ Dek?” Sapa Mas Hanan setelah pulang salat isya’ dari masjid.
“Alhamdulillah, su…sudah Mas.” Jawabku sedikit terbata.
Mas Hanan mendekat sambil mengulurkan tangan kokohnya untuk kucium penuh takzim. Kemudian ia mengecup ubun-ubun dan membisikkan doa untukku.

Jantung pun kian berpacu. Diri ini hanya terpaku, menunduk menatap lantai. Apalagi, Mas Hanan masih menggenggam jemariku. Degup itu kian menggema. Antara malu dan takut kian meraja.
“Alhamdulillah lega rasanya Dek, setelah hampir satu bulan Mas menunggu jawabanmu.” Ucapnya memecah keheningan sesaat diantara kami.

Aku hanya diam teringat saat diri ini bimbang menerima pinangan laki-laki sholih ini. Bagaimana tidak, meskipun gadis, tapi aku sudah tak perawan. Itulah yang membuatku meragu, bisakah kelak Mas Hanan menerimaku apa adanya?
“Dek…” Sapanya membuyarkan lamunanku.
“Boleh Mas minta hak Mas malam ini, Dek?” Bisik Mas Hanan dengan wajah penuh harap.
Diriku pun beringsut mundur, melepas genggaman tangannya. Menahan gejolak dada yang kian tak beraturan. Hal yang selama ini kukhawatirkan terjadi juga.
“Allah…, haruskah aku jujur sekarang?” batinku.
“Tapi, Mas…,” ucapku dengan suara bergetar.
“Kenapa? Apa Adek belum siap?” Tanyanya penuh tatap.
Matanya yang teduh membuat diri ini semakin ragu untuk berucap jujur. Ya, aku memang belum menceritakan tentang masa laluku saat ta’aruf dulu.
“Aku… A…Aku…, sudah tak perawan Mas!”
Sedikit lega. Tapi, melihat reaksinya, mendadak dada pun sesak. Air mata mulai jatuh tak beraturan.

Mata teduh itu berubah penuh amarah. Meski diam, namun terlihat rahangnya mengeras. Mungkin ada sesal yang meraja benaknya. Atau, ada kecewa yang menghujam hatinya.

Tanpa kata, Mas Hanan keluar dari kamar. Padahal ingin sekali kuceritakan semua masa laluku padanya. Entah kemana dia pergi. Diri ini ingin mencegah, tapi karena tak ingin terjadi keributan, akupun memilih untuk diam. Sambil memikirkan masa depan pernikahan yang belum sehari kulalui.

*********

Hari-hariku pun berlalu tanpa arti. Sejak malam itu, Mas Hanan hanya menyapaku ala kadarnya. Setelah salat isya’, ia tak pernah langsung pulang, hingga diri ini tertidur menunggunya. Tiap bangun sebelum waktu subuh, kudapati Mas Hanan sudah tidak ada di kamar dan tidur di sofa.

Lalu, kubangunkan Mas Hanan agar bersiap salat subuh di Masjid. Tapi tak ada senyum sapa darinya. Setelah salat subuh pun dia bergegas berangkat ke kantor. Ada banyak pekerjaan katanya. Tak ada sarapan bersama, apalagi bertukar cerita.

Kini, sudah dua minggu pernikahan kami. Hari-hariku masih sepi. Seolah Mas Hanan sengaja menghindar tiap kuingin memulai pembicaraan. Hingga Minggu pagi ini, Mas Hanan terlihat duduk santai di teras belakang membaca koran.

Tak ingin kubuang kesempatan. Kuingin segera menjelaskan semuanya sekarang. Dengan ragu, kubawa baki berisi 2 cangkir teh dan satu toples biskuit mendekati Mas Hanan.
“Diminum dulu tehnya, Mas.” Sapaku pada Mas Hanan yang tampak kaget dengan kehadiranku.

Kuletakkan nampan di meja, lalu kuambilkan secangkir teh untuknya. Mas Hanan masih terdiam.

“Boleh…, boleh Rana ngomong sebentar, Mas?” Tanyaku hati-hati sambil duduk di kursi di seberang Mas Hanan.

Jantungpun berpacu karena takut Mas Hanan marah dan menghindar lagi.
“Ngomong apa Dek? Bukannya semua sudah jelas? Hmm…!” Hardiknya sambil menatapku tajam.
“Jujur, Mas kecewa Dek,” lanjutnya memalingkan wajah dan membuang nafas kasar. Seolah mengeluarkan beban berat yang ditanggungnya dua minggu ini.
“Tapi…, Rana saat itu belum menceritakan semuanya ke Mas Hanan.” Dengan menunduk ku coba menjelaskan semuanya.
“Cerita apa lagi dek?”
“Cerita kalau kamu pernah pacaran?”
“Atau, cerita kalau kamu sudah pernah tidur dengan laki-laki sebelum menikah? Hah..!” Ucapnya sarkas sambil berdiri membelakangiku.

Bak dihatam batu besar, dada ini sesak dengan ucapan Mas Hanan yang menghardikku. Lidahku pun kelu. Hanya air mata yang tak henti berurai.
Kutatap punggung kokohnya. “Tapi, Mas…, semua tak seperti yang kamu kira. Aku tak perawan karena…, karena…,” tak sanggup sudah diri ini melanjutkan. Mengingat kejadian yang dulu kualami.

“Aku sangat kecewa, Dek. Kenapa kamu tak jujur dulu ketika kita ta’aruf? Kenapa kamu bohongi Mas?” ucapnya lemah dan menyugar rambutnya frustasi.
Mas Hanan pun membalikkan badannya menatapku. Tapi, melihat sorot mata itu, tiba-tiba air matapun meleleh semakin deras. Dada ini sesak.
“Maaf, Mas…, maaf…” Hanya kata itu yang mampu kuucap.
“Tapi, aku menjadi tak perawan karena…, karena kecelakaan Mas,” lanjutku.

Kuceritakan semua pada Mas Hanan. Entah, apakah nanti dia bisa menerimaku apa adanya ataukah berujung perceraian. Aku tak peduli. Yang terpenting, aku sudah menyampaikan semua masa laluku. Akupun semakin tersedu. Mengingat hari dimana kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tuaku itu terjadi. Kecelakaan dimana akhirnya dokter memvonis aku sudah tak perawan lagi.

Ya, karena tabrakan yang begitu keras membuat mobil yang dikendarai Ayah terpelanting dan terbalik berkali-kali. Hingga aku terlempar keluar dan menghantam beton pembatas. Dokter yang merawatku menyampaikan, ketika dibawa ke rumah sakit aku mengalami pendarahan dari daerah pribadiku. Kemungkinan hal itu terjadi karena terkena benturan yang keras.
“Benarkah semua cerita itu Dek? Kenapa kamu tidak menceritakan semuanya malam itu?”
Mas Hanan mendekat, memberi usapan lembut di pundakku. Mencoba menenangkan diri ini yang tergugu karena pahitnya masa lalu. Masa lalu yang merenggut orang tua sekaligus harta berhargaku.
“Maaf, Mas. Saat itu aku mau cerita tapi Mas sudah keburu pergi.”
“Sekarang, Rana pasrah Mas. Jika Mas mau melepas Rana karena sudah tidak perawan, Rana rela. Rana ikhlas insyaAllah Mas.” Kataku sambil mengusap air mata yang masih enggan berhenti.

“Dek, jujur Mas memang kecewa kenapa saat ta’aruf kamu tidak jujur semuanya. Tapi, selama dua minggu ini Mas sudah merenung, berkonsultasi ke Ustad tempat Mas kajian dan menata hati untuk mencoba menerima takdir Allah.” Jelas Mas Hanan sambil duduk kembali di kursinya.
“Mas, terima kamu apa adanya, Dek.” Ungkapnya sambil tersenyum dan menatapku.

Sedikit terhenyak, kuberanikan menatap manik matanya. Kucari kebohongan atau keraguan di bola mata itu. Tapi, tak kutemukan. Yang ada hanya binar mata yang menyejukkan dan menentramkan hati ini.
“Waktu ta’aruf, Mas kan sudah bilang kita harus saling menerima masa lalu masing-masing. Ya meski ternyata cukup berat. Tapi, Allah saja Maha Pemaaf, masa aku yang manusia biasa tidak mau memaafkan, Dek?” Ungkapnya sambil tersenyum.
“Apalagi, ternyata semua karena kecelakaan, apa yang perlu dimaafkan? Semua qadarullah kan, Dek? Meski kamu sudah tak perawan, tapi kamu adalah bidadari untukku, Dek.”

Senyumnya semakin melebar, menyiratkan kelegaan dan kebagiaan yang sempat tertunda. Akupun lega tak terkira. Secercah kebahagiaan menyapa. Bersyukur memiliki Imam seperti Mas Hanan.

Tamat.