Oleh : Peni Sartika

Mungkin sudah hampir 4 bulan lebih kita tidak berangkat sekolah, akibat hadirnya pandemi covid -19 yang tak terduga dan sampai saat ini kasusnya terus bertambah. Maka pola belajar daring (dari jaringan) BDR (belajar dari rumah ) menjadi opsi untuk tetap tidak meninggalkan kewajiban thalabul ilmi.

Ada yang suka dan ada juga yang tidak suka dengan pola belajar seperti ini, sebab banyaknya gangguan seperti ketika proses belajar berlangsung sinyalnya hilang, kuoatanya habis, bahkan apa yang telah dijelaskan rumit untuk dimengerti karena suaranya yang timbul tengelam bahkan ganguan cuaca sekalipun membuat bad mood belajar. Ambyarlah sudah

Dan bisa jadi diantara kita ketika proses belajar berlangsung ada yang sambil ngunyah cemilan, sambil guling-guling sampai nguap-nguap akibat kurang tidur atau nyambi aktifitas lain. Jangan sampai ya teman-teman kita meninggalkan majelis ilmu meski online adab menuntut ilmu tetap harus dijaga, meski audio dan video kita matikan, kecuali dalam keadaan yang dibenarkan dalam syariat.

Ya mungkin diantara kita sudah pada jenuh bahkan lelah menghadapi situasi entah kapan berakhirnya? harus beradaptasi dengan handpone berjam-jam dari mengerjakan tugas dan latihan yang numpuk dan parahnya banyak yang tidak mengerti apa yang telah dipelajari membuat sebagian pelajar stress karena khawatir nilainya jelek dan banyaknya kecurangan akhirnya malas belajar.

Jadi inget film Bad Genius dari Thailand dimana siswi yang bernama lynn jeniusnya luar biasa tapi sayangnya kejeniusannya itu digunakan untuk membantu temannya dalam kecurangan dan dia mendapatkan imbalan uang yang lumayan fantastis. Ya intinya kita sebagai muslim tentu menolak perilaku semacam itu sejenius apapun kita kalau landasannya bukan iman dan takwa maka tidak ada apa-apanya. Pokoknya jangan seperti lynn ya tiru yang lain saja meaki diakhir cerita dia mengakui kesalahannya. Jadi melow saya 🙁

Sebab belajar di sekolah ternyata lebih asik dan menyenangkan kita bisa kumpul bareng teman bercanda dan semangat mengerjakan latihan-latihan yang di berikan oleh guru kesayangan jam istirahat bisa jajan di kantin bude kesayangan atau mamang es seribuan. Jangan-jangan udah pada lupa ini saking lamanya di rumah aja. Hehehe

Yakin banget kita semua merindukan suasana seperti dulu, yang tidak harus jaga jarak, yang tidak harus saling mencurigai satu sama lain. Mungkin ini cara Allah sayang sama kita buat sementara kita harus berjauhan. Sikap seorang muslim harus selalu ridha dan khusnudzon (berbaik sangka) kepada Allah.

So, bagaimana cara memelihara semangat thalabul ilmi via online?

Ya dalam tulisan mungil ini saya akan memberikan resep agar tetap semangat meski via online dilanda covid-19, diserang banyak gangguan, dan kita harus tetap kokoh ya teman jauhilah oleh kalian kaum rebahan.

1. Niatkan thalbul ilmi itu karena Allah, sebab segala perbuatan itu tergantung niatnya

2. Teruslah motivasi diri untuk menjadi manusia yang Allah cintai dengan mengikuti kajian rutin

3. Gunakan gadget sebijak mungkin agar ketika belajar berlangsung hp kita tetap full batrenya

4. Pandai -pandai mengatur waktu agar ketika belajar tubuh kita tetap bugar

5. Hindarilah diri dari sikap menunda

Bagi pelajar yang perlu diingat dan ditekankan adalah kita sebagai pelajar bukan untuk dididik menjadi buku berjalan. Kita pelajar bukan sekedar menuntut ilmu , bahkan lebih dari itu kita dituntut untuk mengamalkan ilmu yang telah kita miliki , dan ilmu itu haruslah membekas dalam diri kita.

Dan penting dalam mempelajari ilmu agama dan ilmu terapan lainnya kita harus menghadirkan dorongan semangat iman.

Itulah yang akan memantapkan hati kita dan mengokohkan langkah kita.

Mungkin ini resep kecil yang insyaAllah berguna bagi kita para pelajar. Jadilah para pemuda-pemuda yang dirindu surga.

Dan tentu pendidikan ala kapitalis menambah ruwet beban masalah umat hari ini. Banyak orang tua, guru, dan anak didikpun mengeluhkan sistem pendidikan di Indonesia. Sebagaimana pernyataan Ustadzah Pratma Julia (Pemerhati Politik) ” belajar dengan cara luring (luar jaringan) atau offline ataupun dengan daring (dalam jaringan) atau online sistem pembelajaran di indonesia sejak dulu kerap menuai masalah kurikulum yang tidak baku mudah berganti sesuai dengan kepentingan pasar cara belajar yang menonjolkan teoristis di banding praksis hingga tidak mampu menghasilkan anak didik yang sesuai dengan tujuan dasar pendidikan yaitu menciptakan generasi iman dan takwa yang sanggup menjadi pilar peradaban”.

Tentu kita tidak bisa berharap pada sistem kapitalis yang telah terbukti gagap dan telah gagal dalam mengurusi umat. Berbeda dengan sistem pendidikan islam yang telah berhasil mengubah wajah dunia dengan banyaknya penemuan ilmiah yang telah di wariskan untuk dunia.

Dan yang terpenting sebagai pelajar adalah jangan pernah cukupkan diri dengan memiliki ilmu yang sedikit. Teruslah belajar dan berkarya jadilah seperti mereka Al khawarizmi pakar matematika muslim, Ibnu Sina Bapak kedokteran, Al Kindi pakar bidang falsafat, al -farazi, al Fargani al- bitruji menguasai bidang astronomi, Ibnu Khaldun pakar sejarah dan sosiologi, Jabir bin Hayyan pakar bidang kimia,dan banyak ilmuwan muslim lainnya yang telah berhasil menorehkan tinta emas dengan iman dan ilmu yang mereka miliki.

Didik dan tempa diri kita menjadi pelajar-pelajar yang sholeh dan diperhitungkan dunia. Meski diluar sana banyak teman kita yang masih enggan serius belajar, dan masih asik dengan pernak pernik dunia yang melalaikan. maka jadikan diri kita pelajar tauladan yang tampil membawa identitas islam dimanapun dan kapanpun.

Seperti Imam Syafi’i mengorbankan masa kecilnya untuk serius mencari ilmu dan sampai hari ini kitab-kitabnya masih menjadi rujukkan bayangkan betapa banyak pahala yang terus mengalir meski jasadnya telah lama dikuburkan.

Ya Allah Bimbing kami, Wallahu’alam.