Oleh : NS. Rahayu

“Jajan jajan.” Tiba-tiba di jalan samping Masjid melintas ibu-ibu bersepeda membawa jajan. Sekilas saya memandangnya.
“Mau?” Tanya mb Erni.
“Boleh?” Tanpa menjawab mbak Erni beranjak mengandengku menuju pedagang kue itu.
“Silahkan pilih, saya traktir. Pasti tadi belum sarapan ya.” Saya senyum dan mengiyakan. Saya pilih nagasari dan getuk dalam mika, sebenarnya ada onde-onde makan saya sangat suka tapi terpaksa saya abaikan karena tanpa dibungkus plastik. Milih yang lebih higinis terjamin dari debu dan sentuhan apapun.

Sesaat kami menikmati jajanan sebagai pengisi perut.
“Tadi dah pegang onde kok gak jadi ambil dik?” tanya mbak Erni sambil makan nagasari.
“Mau sebenarnya tapi jadi malas makannya,” jawabku.
“Kalo mau kan tinggal ambil saja gak usah likrik,” ucapnya.
“Onde-onde mah makanan kesukaanku mbak, habis tadi kagak dibungkus plastik. Jadi malas ambil gak selera lagi makannya,” jawabku jujur.
“Owalah begitu.” Diam sesaat lantas minum jus jambu yang juga dibeli tadi.

“Pakaian itu ibarat jajanan ini dik. Ada daya pikatnya ketika jajan itu terbungkus, orang akan lebih yakin pada ke higinisannya. Selain itu juga punya harga yang lebih tinggi di banding yang tanpa bungkus.” “Benar tidak?” lanjutnya.
“Tau getuk? Getuk itu makanan biasa khas desa, ketika dijual tanpa bungkus dihargai Rp. 1.000 tapi kalau sudah terbungkus mika jadi Rp. 2.000. Kira-kira punya daya pikat dan jual yang mana dari keduanya dik?” tanya mb Erni ditengah pemikiran saya.
“Kalau saya pilih yang di mika mbak, lantas apa hubungannya dengan pakaian to mbak?” sergah saya mempertanyakan jawabannya. Lagi-lagi mbak Erni tersenyum melihat kedongkolan saya.

“Perempuan yang tertutup auratnya jauh lebih memiliki nilai plus di banding yang tidak menutup aurat. Baik di mata manusia terlebih di hadapan Allah. Semisal bepergian ke keramaian yang tidak menutup aurat banyak cowok yang menggoda di suit suit dan yang lainnya tapi kalau yang menutup aurat gak ada yang berani goda selama pakaiannya benar, malah dapat doa, karena godanya paling ngucapin salam, Assalamualaikum mbak, itu doang,” jelas mbak Erni. Saya jadi tertawa ngekek sendiri, karena pernah alami keduannya. Ya Allah benar-benar Engkau jaga kehormatan perempuan dengan pakaian taat (batin saya). Tapi jawaban itu masih ada batu ganjalannya.
“Emang ada menutup aurat yang gak bener mbak, susah payah penuh perjuangan lho mbak bisa sampai memutuskan menutup aurat itu?” Saya membela diri. Ingat bagaimana sikap teman, tetangga maupun keluarga yang belum bisa menerima perubahan.

Duh gimana ini, jangan-jangan… Aah, ada rasa ingin tahu saya tentang bagaimana menutup aurat yang benar dalam Islam tapi di satu sisi juga khawatir luar biasa. Membayangkan tiap bulan nyisakan uang untuk beli kain dan jahit sesuai kebutuhan bukan hal yang mudah. Gaya pakaian maskulin yang saya pilih, model kulot dan jas dengan warna elegant menunjukkan kepribadian saya. Selain butuh dana yang lumayan besar juga butuh waktu lama mewujudkan impian menutup aurat.

Tiba-tiba dapat kata-kata “selama pakaian benar” berarti ada yang gak benar dalam menutup aurat.
“Bagaimana? Lanjut?” ucap mbak Erni mengagetkankan. Saya diam tak tentu arah pikiran.
“Hidup ini punya 2 pilihan dik. Mau baik atau buruk, surga atau neraka, semua adalah pilihan kita sendiri,” ucap mb Erni.
“Hari ini cukup dulu ya, masih di sambung minggu depan. Ini saya pinjamkan buku, di baca ya.” Disodorkannya buku dihadapan saya, saya baca judulnya Beyond The Inspiration.

Ngawi, 6 Agustus 2020

Ikuti sambungannya ya …