Oleh : Durriyatut Tayyibah

Di kehidupan yang sekuler seperti sekarang ini, memang terdapat lembaga pendidikan yang dipercayai untuk memberikan ilmu Islam yang lebih terhadap pelajar. Sehingga wajar, jika negeri yang sekuler ini membangun atau memunculkan tempat belajar semisal madrasah guna memfasilitasi mereka menimba ilmu Islam. Namun sayang, sudahlah dibuatkan lembaga pendidikan yang berbeda dengan pendidikan umum lainnya, juga ternyata diketahui adanya masalah baru pada muatan pelajaran yang akan disampaikan pada anak-anak didik.

Bagaimana tidak, kementerian Agama RI melalui Keputusan Menteri Agama nomor 183 dan 184 tahun 2019 telah memberlakukan kurikulum baru untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di madrasah mulai tingkat Ibtidaiyah (dasar) hingga Aliyah (atas) pada tahun ajaran 2020/2021. (cnn.id 11/07/20)

Di dalam kurikulum yang baru disahkan tersebut terdapat revisi. Hal ini tentu perlu dikritisi, mengingat hal tersebut merupakan masalah besar bagi kaum muslim sebab ajaran Islam yang seharusnya disampaikan dengan sempurna dan lengkap harus dikurangi bahkan beberapa dihapus. Di sisi lain, revisi tersebut sangat kental dengan muatan paham Sekularisme dan Liberalisme yang tentunya bertentangan dengan ajaran Islam.

Madrasah yang seharusnya menjadi harapan untuk menjadikan generasi unggul, religius, dan berprestasi kini harus pupus sebab materi-materi yang radikal versi pembenci ajaran Islam harus diselipkan dan diajarkan pada generasi terdidik kita.

Jika mau sedikit saja berpikir dan berterus terang untuk menelaah fakta tersebut, akan semakin jelas bahwa moderasi kurikulum merupakan upaya massif dan sistematis untuk menghapus sempurnanya syariat Islam. Oleh karena itu, mengajarkan kurikulum yang sarat paham moderat pada generasi muda Islam khususnya akan berpotensi pada rusaknya pemahaman Islam yang benar, di samping pasti juga akan mengkerdilkan jati diri generasi Islam saat ini.

Bidang pendidikan yang seharusnya jadi jalan untuk mencerdaskan generasi, malah menjadi jalan pintas menuju keburaman identitas mereka sebagai muslim, hingga yang ada mereka tidak akan mengenal syariat Islam yang mulia dan mengagumkan. Mereka akan senantiasa ditakut-takutkan oleh isu radikal, semakin menunjukkan keislaman yang benar di tengah teman-temannya semakin dianggap tidak toleran.

Inilah bukti liberalisme dan sekulerisme yang ditancapkan kuat di madrasah, sebagaimana penuturan, “Saya masuk ke pesantren, orang pesantren tidak paham. Dikasih tahu liberalisme yang mendobrak otentik Al-Quran, mereka bilang itu sudah pernah terjadi dalam sejarah. Akhirnya, Pesantren Gontor memiliki program kaderasi ulama untuk membendung liberalisme dan liberalisasi pemikiran,” tutur salah satu praktisi pendidikan yang menyampaikan sedikit cerita di lapangan terkait perang pemikiran di tengah masyarakat.

Tentu hal ini sangat membahayakan, mengingat tidak seluruh elemen masyarakat memahami kesempurnaan Islam, namun sudah ditakut-takuti dengan paham Islam yang menyimpang dan jauh dari konsep yang sebenarnya. Mereka yang mampu menyerap ajaran Islam yang shahih hanya akan dicap sebagai orang-orang ekstrimis dan fundamentalis, padahal mereka hanya mengimplementasikan dan mensyiarkan ajaran Islam sebagaimana mestinya. Misalnya saja, bagi mereka pendukung khilafah akan dianggap orang-orang yang harus dibenci sebab ide yang dibawa, padahal sejarah Islam jelas menorehkan tinta emas dan kewajiban terwujudnya sistem Islam yang mulia ini.

Lalu, jika dunia pendidikan yang menjadi harapan satu-satunya kini sudah menjadi sasaran liberasasi agama, jelas ini adalah bukti bahwa pendidikan saat ini benar-benar dikukuhkan oleh paham sekuler yang akut, sehingga umat Islam tidak boleh tinggal dia karena keyakinan (isme) ini akan membuat anak didik dan wajah pendidikan kita akan semakin dijauhkan dari tujuan yang sebenarnya. Ini tentu sangat mengerikan dan perlu aksi nyata di dalam menyikapinya.