Oleh : Ummi Sianturi
(Mahasiswi Jurusan PAI UIN Sumatera Utara)

Kegiatan belajar mengajar (KBM) pada masa pandemi covid-19 harus dilaksanakan secara daring. Banyak cerita dari KMB daring. Ada yang menyedihkan, memprihatinkan hingga yang mengundang tawa. Tak hanya bagi pelajar, tapi juga dari pihak guru karena metode baru dalam pendidikan ini mengubah tatanan KBM.
Bagi sebagian masyarakat perkotaan, sudah bukan sesuatu yang aneh atau sulit untuk mempunyai gawai. Namun, bagi kebanyakan masyarakat pedesaan, perangkat telepon pintar itu menjadi barang baru dan mewah, terlebih bagi keluarga dengan ekonomi lemah. Padahal telepon pintar menjadi syarat lancarnya KBM.
Dimas Ibnu Alias, siswa SMP Negeri 1 Rembang, Jawa Tengah, ialah satu siswa yang tidak mempunyai gawai sebagai sarana belajar daring. Akibatnya, Dimas tetap berangkat ke sekokah untuk belajar meskipun sendiri di sekolah tersebut. (MediaIndonesia.com)
Melihat Kabar dari Cerita dan Fakta Diatas, Tidak kah kita merasa Miris Bukan?
Miris Sekali ,Bahkan sedih melihat Mereka yang Kurang mampu menjadi Korban Keserakahan Para kapitalistik yang Hidup bermewah mewahan tanpa melihat Rakyat yang harus memerah Keringat Setiap Hari Demi memenuhi Kebutuhan Hidup. Bukan kah Hak Rakyat telah Dijamin oleh Negara? Fakta dan Realita Menjawab ,Bahwa Hak rakyat telah diamputasi oleh para Kapitalistik Untuk kebutuhan Individualisme.
Jangan Kan Hak Perekonomian.

Kini Kembali Hak Pendidikan Diamputasi Para Kapitalistik yang Melumpuhkan Perekonomian masyarakat Apalagi Dimasa Pandemi Seperti sekarang ini, Hampir 10 Juta Anak Beresiko Putus sekolah Secara permanen Akibat ketidak sanggupan Para Orang tua untuk membiayai Fasilitas anak di masa Pandemi, Mulai dari Uang SPP yang tak kunjung berubah atau tetap, kuota Internet Yang mahal, Pulsa yang Mahal, Jaringan yang sangat Memprihatinkan.

Bahkan Lebih menyedihkannya lagi mereka yang tidak mampu membeli Gawai akibat Ekonomi yang tidak memadai. Kalau pun ada Solusi berupa ada nya Bantuan Tapi sayang nya Bantuan tidak Tersalurkan secara merata.
Anehnya Hidup Di Sistem saat ini Sangat sangat masih membedakan Kasta ,Walaupun secara menyeluruh tak terlihat . Siapa Yang Berduit Mereka yang berhak mendapatkan ,Baik itu pendidikan , Kesehatan ataupun yang lainnya. Apakah itu yang dinamakan keadilan?
Sejarah Mencatat, Semenjak Sistem di kuasai para kapitalistik Kesejahteraan rakyat dan hak rakyat tidak lagi terpenuhi lahir dan batin. yang ada hanyalah Tangisan dari para rakyat kecil. baik itu hak kesehatan pendidikan, perekonomian atau pun yang lainnya.

Kini pemerintah menggulirkan wacana ” New Normal” termasuk kenormalan baru dalam bidang pendidikan. Begitu pun pernyataan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Sulawesi Tenggara (Sultra) mewajibkan sekolah-sekolah menyiapkan diri menuju tatanan hidup baru atau new normal.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dikbud Sultra Asrun Lio mengatakan, saat ini sudah ada beberapa kabupaten dan kota di Sultra yang masuk kategori zona hijau. Jadi, menghadapi tahun ajaran baru yang jika mengacu pada kalender pendidikan dimulai 13 Juli, sekolah harus sudah mulai menyiapkan segala hal terkait protokol kesehatan Covid-19. New normal kita diminta untuk bisa hidup berdampingan dengan Covid-19. Tentu banyak hal yang harus kita persiapkan, agar new normal ini tidak menjadi bumerang bagi kita dengan semakin tingginya angka terjangkit wabah ini.(kompas.com 14/6/2020)
Pro dan Kontra New Normal
Persiapan ini tentu akan menimbulkan pro dan kontra, baik di kalangan orangtua maupun dari kalangan guru sendiri. Dari kalangan orangtua, kekhawatiran mereka terhadap kesehatan peserta didik selama di sekolah tentunya dapatlah kita maklumi. Namun, dengan membekali masker, hand sanitizer, membawa bekal dari rumah, selalu mencuci tangan, dan menjaga jarak dengan sesama peserta didik di sekolah akan menjauhkan mereka dari tertular pandemi.
Usaha pihak sekolah untuk memberikan jaminan kesehatan selama peserta didik berada di sekolah tidak akan ada artinya bila tidak didukung orangtua dan dimulai dari rumah masing-masing, melalui penerapan pola hidup bersih dan sehat. Di kalangan guru sendiri, pro dan kontra tentang kebijakan mengajar dua gelombang dalam satu kelas pasti akan muncul.
Keberatan karena terlalu lama berada di lingkungan sekolah (luar rumah), kurang waktu untuk istirahat, dan alasan lain pasti akan dilontarkan para guru. Namun, bila kita menginginkan gerakan new normal pendidikan ini berjalan maka mau tidak mau, suka tidak suka harus tetap kita dukung dengan cara ikut melaksanakan.
Terkait hal itu, sebagai mana di kutip pada tribunnews.com 5/6/2020 di mana Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menegaskan, hanya sekolah di zona hijau yang dapat kembali membuka pengajaran secara tatap muka di tengah pandemi virus corona (Covid-19). Kepala Biro Kerja sama dan Humas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Evy Mulyani mengatakan pembukaan sekolah yang berada di zona hijau akan dilakukan secara hati-hati. Kesehatan dan keselamatan warga sekolah menjadi prioritas utama.
“Sehingga sekolah-sekolah di wilayah zona hijau tidak serta merta dibuka, tetapi akan dilakukan dengan sangat hati-hati, dan tetap mengikuti protokol kesehatan,” ujar Evy dalam keterangannya di Jakarta.Selain itu, Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), DR. dr. Aman Bhakti Pulungan, mengatakan data kasus Covid-19 yang menimpa anak-anak antara lain hampir 3.400 anak berstatus pasien dalam pengawasan (PDP), kematian PDP sebanyak 129 anak, positif Covid-19 pada anak sebanyak 584 kasus, dan 14 kematian anak dari kasus positif Covid-19. Banyak pihak yang menilai bahwa pemberlakuan new normal, khususnya di dunia pendidikan sangat berbahaya dan terkesan menjadikan siswa didik dan para guru sebagai kelinci percobaan. Apalagi faktanya, situasi wabah belum benar-benar selesai dan kurva kasusnya pun tak kunjung melandai.

Atas kontroversi ini, pemerintah pun lantas memberi penjelasan. Bahwa yang dimaksud adalah membuka tahun ajaran, bukan membuka sekolah sebagaimana ramai dibicarakan. Menurut pemerintah, memasuki new normal, pembukaan tahun ajaran baru tetap harus dilakukan. Namun opsi pembelajarannya bisa dengan tatap muka di sekolah atau secara daring alias belajar dari rumah (BDR).