Oleh : Piyantun Deso (Penggemar Film Sejarah)

Jejak Khilafah Di Nusantara. Sebuah film dekomenter yang sarat kontroversi. Ada yang mengatakan, film ini adalah film propaganda untuk memprogandakan ideologi Khilafah. Ada pula yang mengatakan bahwa film ini adalah penafsiran sepihak oleh pembuat film. Benarkah?

Disadari atau tidak, selama ini banyak film-film bertema sejarah dan biografi yang dilahirkan oleh sineas Indonesia yang banyak menuai pro dan kontra terkait alur cerita hingga pemilihan pemain.

Saya ambil contoh, misalnya saja film Sultan Agung garapan Hanung Bramantyo. Film ini dianggap kurang riset pada penggalian sosok Sultan Agung. Film ini dibuat dari sudut pandang Hanung Bramantyo saja. Jadi terkesan memaksakan diri. Padahal Sultan Agung adalah tokoh real yang biografinya bisa dipelajari dari banyak sumber di lingkungan keraton Jogja.

Seperti halnya film Sultan Agung, film Jejak Khilafah di Nusantara juga dikritik karena film ini dianggap sebagai film yang dibuat berdasar sudut pandang pembuat film dalam memaparkan fakta sejarah. Pihak yang kontra mengatakan pembuat film memaksakan sudut pandang seolah kerajaan Islam di Nusantara ada hubungannya dengan Kekhilafahan Turki Utsmany. Tuduhan ini bahkan dilontarkan jauh hari sebelum film diluncurkan. Mereka membuat tuduhan hanya berdasar trailer-nya saja. Tapi apakah benar demikian?

Setelah pemutaran filmnya kemarin, ternyata film ini tidak hanya menyodorkan narasi tanpa bukti. Dalam 40 menit durasinya, banyak ditampilkan gambar gambar yang diambil dari bukti bukti peninggalan sejarah. Bangunan bangunan kuno, kitab kitab klasik, semua ditampilkan dalam film sebagai bukti otentik bahwa film ini tidak hanya bicara narasi berdasar sudut pandang si pembuat film. Tapi narasi ini juga didukung oleh bukti bukti otentik yang tak terbantahkan. Jadi salah besar jika ada yang mengatakan film ini dibuat hanya berdasar sudut pandang pembuat film.

Jika ada yang mengatakan bahwa film ini adalah film propaganda, sah-sah saja mengatakan demikian. Bukankah setiap film dibuat untuk kepentingan propaganda? Selalu ada pesan yang ingin disampaikan oleh si pembuat film kepada penonton.

Tapi film Jejak Khilafah bukanlah film propaganda. JKDN adalah film dokumenter yang berupaya memaparkan fakta sejarah.

Meski tidak bisa dipungkiri, ada banyak film baik dalam negeri maupun luar negri yang isinya propaganda.
Contohnya, film biografi berjudul ‘A Man Called Ahok’ yang menceritakan masa kecil mantan gubernur Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama. Kisahnya diangkat dari buku berjudul sama yang ditulis oleh Rudi Valinka. Ahok dikisahkan sebagai seorang manusia bak dewa penyelamat bagi rakyat. Ada lagi film Jokowi yang digambarkan sebagai seorang anak desa yang polos tapi bisa sukses mengubah nasib.

Dua film ini jelas film propaganda yang intinya memberi pesan kepada penonton bahwa dua tokoh yang diangkat dalam film tersebut adalah dua manusia sempurna yang harus dikultuskan.

Film adalah media menyampaikan gagasan, ide dan sudut pandang yang mempunyai pengaruh lebih baik dan jauh lebih cepat dibandingkan bacaan untuk membuat orang memahami pesan-pesan tertentu. Bahkan belakangan ini, sejumlah studi di bidang neurosains membuktikan bahwa film memang dapat mengendalikan sentimen orang.

Lewat Functional Magnetic Resonance Imaging (fMRI), para ilmuwan dari New York University mengetahui reaksi otak manusia terhadap adegan, warna, dan musik latar dalam film dan hal itu menjadikan film-film yang mempunyai tujuan tertentu. Misalnya: menakut-nakuti, mempengaruhi, menancapkan pengaruh dan pesan di kepala para penontonnya.

Penelitian lain dari Linfield College mengungkapkan bahwa tontonan di layar kaca berpengaruh terhadap tingkat agresivitas seseorang. Maka tidak heran jika film kerapkali dijadikan sebagai sarana propaganda Politik. Film bisa dengan mudah mempengaruhi siapa saja untuk bertindak dan berfikir sesuai dengan pesan propaganda yang diangkat dalam film.

Dalam Islam pun, film dipandang sebagai salah satu produk seni yang berupa gambar visual dan suara. Pada dasarnya, mubah saja membuat atau menikmati karya seni selama tidak ada unsur yang diharamkan didalamnya.
Ketika institusi Islam tegak, sangat dimungkinkan menggunakan film sebagai sarana propaganda untuk menyebarkan aqidah dan ide-ide Islam.
Apalagi di abad 21 ini. Kecanggihan efek animasi dalam sebuah film yang menyampaikan ide ide Islam akan semakin memberikan pengaruh yang besar bagi penonton film. Penyampaian ide-ide Islam akan lebih diterima oleh masyarakat.

Tidak tepat jika Film Jejak Khilafah Di Nusantara disebut sebagai film propaganda karena film ini dibuat berdasar sumber rujukan dan bukti sejarah yang bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Film Jejak Khilafah Di Nusantara adalah film beragenda menyampaikan sejarah kepemimpinan Islam yang memang faktanya benar benar ada. Tak terbantah. Film Jejak Khilafah memang dibuat untuk memberi pesan kepada penonton yang selama ini buta sejarah, untuk kembali menggali dan mempelajari sejarah Islam yang sebenarnya terjadi di Indonesia. Film ini buat untuk siapa saja yang mau berfikir. Mengkaji jejak jejak sejarah Islam di Nusantara.