Oleh: Susanti Pratiwi, Mahasiswa Biologi UINSU

Kepala Dinas Pariwisata Kota Medan bersama Ketua DPD Indonesia General Manager Association (IHGMA Sumut), Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI Sumut) dan Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI Sumut) telah mengunjungi beberapa hotel kafe, restoran dan mal di kota Medan untuk memastikan bahwa menerapkan protokol kesehatan di era kebiasaan baru ini. Kepala dinas pariwisata kota medan juga mengatakan seluruh industry pariwisata untuk menerapkan potokol kesehatan di masing-masing lokasi dengan tiga M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak) dan ketentuan protokol lainnya.
Padahal Medan dan Deli Serdang bertatus zona merah dan termasuk kedalam delapan kabupaten kota zona merah tanpa ada perubahan empat minggu berturut-turut dikatakan oleh Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 dalam Konferensi Pers Virtual di Kantor Presiden, Jakarta.
Segala daya dan upaya tampaknya diusahakan demi menggerakkan roda perekonomian di zona merah pandemi. Klaim tetap menjalankan protokol kesehatan nyatanya tidak dapat menjamin terputusnya rantai penyebaran Covid. Namun bagaikan buah simalakama pemerintah daerah harus tetap membuka pos-pos pemasukan walau berisiko tinggi.

Dalam pandangan ideologi kapitalisme. Tentu yang menjadi orientasi perbuatan adalah keuntungan materi walau nyawa yang jadi taruhan. Materi merupakan menjadi poros kehidupan kapitalis. Tidak ada yang lebih utama dan penting dari materi bahkan jika berada di ujung tanduk sekali pun. Bukankah lebih baik fokus pada pemutusan rantai penyebaran untuk beberapa saat kemudian kembali normal daripada semua dijalankan secara serentak dan kasus positif semakin meningkat?
Bahkan bisa lebih menambah banyak pasien dengan gelombang yang tak sanggup dibendung. Jika, ditelurusi sudah banyak medis dari kota Medan memakai protokol kesehatan dengan lengkap namun masih bisa positif corona bahkan sampai meninggal. Setidaknya, jika tidak bisa membendung pasien yang positif maka jangan menambah para medis yang tak sanggup mengatasi banyaknya pasien. Jika sudah begini perekonomian pun akan tetap jalan ditempat.
Dalam sejarahnya Islam pernah memberlakukan lockdown saat terjadi wabah thaun sebab ingin fokus pada pemutusan wabah yang pada akhirnya berlalu dan virus berhenti. Walaupun saat itu baitul mal harus krisis namun, karena landasan Negaranya adalah agar takwa dan mengharap ridho kepada Allah, maka umat pun berbondong-bondong menyedekahkan hartanya untuk mengisi baitul mal begitu juga dengan zakat sehingga Negara tetap bisa menyalurkan dana kepada umat. Krisis pun dapat dibendung. Seberkah itulah Negara yang menerapkan aturan Sang Pencipta yaitu Allah ta’ala. Wallahu’alam bishowab