Yakin Itu Self Love?

Oleh: Jessy Tiara Putri
Aktivis Remaja Muslimah Karawang

Dewasa ini, banyak berseliweran kata-kata self love, self reward dan sejenisnya. Tapi, berefek pada pola hidup yang tak ada daya juangnya. Jika dilihat, hal itu justru berbanding terbalik dengan zaman para sahabat terdahulu yang tiap langkahnya penuh dengan semangat bahwasanya Allah lebih mencintai mukmin yang kuat. Serta bergegas bak mentari di pagi hari. Cerah penuh semangat.

Pun rasanya tidak sedikit yang menjadi keliru akan makna self love itu sendiri, dengan makna egoisme. Seolah diri yang malas bergerak berbentengkan kata “self love” padahal faktanya tidak demikian.

Begitu pun dengan self reward, kita seolah menjadi pribadi yang konsumtif akan barang atau waktu dengan dalih, penghargaan atas diri yang telah lelah berjuang
Kedua hal tersebut tidak mengapa, tapi sayangnya pengaplikasiannya menjadi salah.

Contoh egoisme berkedok self love seperti ketika diri salah dan ada seseorang yang mengingatkan. Kita malah membentengi diri, memaksa orang mengerti dan memahami mengapa itu semua terjadi tanpa menerima masukan sama sekali. Padahal orang tersebut menyampaikan dengan tutur kata yang baik dan secara langsung.

Padahal bukankah kita diperintah untuk sesering mungkin memuhasabahi segala perbuatan? Agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi disetiap langkah kita.

Contoh konsumtif berkedok self reward misalnya
ketika kita merasa telah lelah berjuang dan merasa diri ini patut untuk mendapatkan sebuah penghargaan seperti scroll sosmed berjam-jam atau belanja barang yang tidak dibutuhkan. Lapar mata. Dengan alasan “sekali-kali bolehlah”.

Padahal bukankah setiap perbuatan kita di dunia ada pertanggungjawabannya? Lalu, mengapa self rewardnya tidak digunakan untuk merefresh kembali koneksi kita yang sempat menurun dengan Allah?

Kita memang tidak diciptakan sempurna,
Dan tidak dituntut untuk menjadi sempurna. Karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT

Tapi, kita dituntut untuk selalu bergerak kearah yang lebih baik. Karena sebaik-baik seorang pendosa ialah yang bertaubat. Jika lelah bisa beristirahat sebentar.

Namun, tetap harus terus bergerak terlepas mesti berlari, berjalan bahkan merangkak. Karena kita tidak pernah tahu kapan batas umur ini berujung.

Jika kita self Love maka jangan tunggu nanti tuk memulai kebaikan dan menuntut ilmu. Dan berikan self reward melalui perantara yaitu Yuk Ngaji. Dengan ngaji kita akan banyak tahu segala hal.

“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap individu muslim.” (HR. Muslim). Wallahu’alam

One comment

Tinggalkan Balasan