Kenaikan Bahan Pokok Menambah Kesulitan Rakyat


Oleh : Rohmawati (Member Komunitas Aktif Menulis)

Sejumlah harga bahan pokok menjelang ramadhan merangkak naik seiring dengan permintaan yang tinggi di pasar.


Ketua umum Ikatan Perdagangan Pasar Indonesia (IKPPI) Abdullah Mansuri mengatakan, hari-hari saat ini ritmenya memang merangkak naik dengan presentase yang berbeda untuk setiap bahan pokok yang dijual. (cnbc indonesia, 11/04/21).

Kenaikan bahan-bahan pokok seperti minyak, ayam, telor dan lain sebagainya sejatinya bukan merupakan hal yang baru dalam negara yang menerapkan sistem Kapitalisme. Terlebih saat mendekati bulan suci ramadhan.

Kenaikan bahan pokok tersebut dikhawatirkan akan menambah beban rakyat di tengah kesulitan saat ini. Sebab, dampak pandemi tersebut pun cukup berpengaruh terhadap seluruh tatanan kehidupan rakyat khususnya masalah ekonomi.

Kenaikan harga bahan-bahan pokok tersebut tidak sesuai keadaan rakyat saat ini. Manakala hal tersebut tidak diiringi dengan ketersediaan lapangan pekerjaan memadai untuk seluruh rakyat. Sehingga dikhawatirkan menambah beban hidup rakyat. Jika kenaikan bahan-bahan pokok yang diiringi dengan sulitnya mendapatkan pekerjaan maka akan berdampak pada meningkatnya angka kriminal di tengah-tengah masyarakat demi memenuhi kebutuhan hidup.

Tidak semua manusia mampu berfikir jernih di tengah tekanan hidup yang sulit jika tidak punya prinsip hidup yang kuat akan perintah dan larangan Allah Swt. Alhasil mereka berpikir sempit dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang mereka butuhkan. Seperti, mencuri, aksi begal bahkan tega membunuh para korbannya. Lemahnya penjagaan dan hukum dalam sistem Kapitalisme melahirkan manusia yang mudah melakukan kejahatan berulang-ulang.

Dalam kehidupan di sistem Kapitalisme berlandaskan pada materi. Sehingga tak heran dengan landasan tersebut individu-individu tertentu memiliki kepentingan yang sama untuk meraih tujuannya meskipun tercipta ketidakadilan bagi yang lainnya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa dalam sistem Kapitalisme terjadi ketidakmerataan ekonomi. Harta tersebar di kalangan tertentu saja. Kaya semakin kaya, miskin semakin miskin. Kekayaan seluruh rakyat sudah diwakili oleh individu tertentu.

Di samping itu, bulan ramadhan merupakan bulan yang istimewa. Seharusnya masyarakat dapat menfokuskan diri untuk beribadah kepada Allah Swt. Karena hal tersebut momentum pengembalian manusia kepada fitrah hakikat penciptaan manusia di dunia. Tidak sedikit masyarakat yang tersita waktunya untuk memenuhi kebutuhan hidup yang kian menyulitkan.

Sejatinya, kenaikan bahan-bahan pokok itu bukan berdasarkan kepentingan rakyat melainkan dipengaruhi oleh permainan harga oleh para mafia pasar yang menginginkan keuntungan besar. Karena dalam sistem ekonomi kapitalis ialah mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dan mengeluarkan modal sekecil-kecilnya.

Maka, sangat dibutuhkan peran maksimal negara dalam mengurusi setiap detail urusan rakyat, termasuk dalam hal bahan pokok. Sebagaimana Rasulullah Saw mengatakan, “Imam itu adalah laksana penggembala, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban akan rakyatnya (yang digembalakannya)”. (HR. Imam Al Bukhari dan Imam Ahmad dari sahabat Abdullah bin Umar r.a.)

Islam tegas mengharamkan membuat kesepakatan harga jual yang akhirnya menzolimi masyarakat. Perlu ada sanksi tegas dari negara dalam memberantas para mafia pasar tersebut sehingga hal yang sama tidak terulang kembali.

Rasulullah Saw bersabda, “Siapa saja yang turut campur (melakukan intervensi) dari harga-harga kaum Muslimin untuk menaikkan harga atas mereka, maka adalah hak bagi Allah untuk mendudukkannya dengan tempat duduk dari api pada Hari Kiamat kelak” (HR Ahmad, al-Baihaqi, ath-Thabarani).

Hanya dengan sistem Islam dapat memberikan kesejahteraan manusia secara keseluruhan seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw dengan aturan yang bersumber pada Al-Qur’an sebagai pedoman hidup manusia dalam menjalankan tugasnya sebagai Khalifah di muka bumi.

Wallahu a’lam bishsowab

Tinggalkan Balasan