Pandemi Akibatkan Peceraian Naik?


Oleh: Barozah Alfajri

Pernikahan adalah suatu hal yang sangat diinginkan bagi siapapun, karena sejatinya manusia diberikan Oleh Allah naluri kasih sayang, dan salah satu pemenuhannya yang sesuai dengan syariat islam adalah dengan pernikahan. Pernikahan sangat dianjurkan jika sudah mampu, bahkan aktifitas yang mulia karena menyempurnakan separuh agama.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:
إِذَا تَزَوَّجَ العَبْدُ فَقَدْ كَمَّلَ نَصْفَ الدِّيْنِ ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ البَاقِي
Artinya: “Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya.” (HR. Al Baihaqi)

Namun sayang, arti sebuah pernikahan saat ini hanyalah sekedar menuruti hawa nafsu tanpa tujuan yang jelas serta tanpa landasan agama. Sehingga perceraian menjadi hal yang biasa dengan dalih menyelesaikan masalah, baik itu masalah ekonomi hingga masalah hati. Apalagi masa pandemi, perceraian semakin hari semakin tak terhitung lagi.

Pandemi yang terjadi selama ini telah melahirkan 1.254 janda dan duda baru di Kabupaten Magetan. Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Magetan mencatat ada 1.254 kasus perceraian selama setahun pandemi Covid-19 berlangsung. Masalah ekonomi masih menjadi faktor dominasi. Panitera Muda Hukum PA Magetan,mengatakan kepada Siti Marfu’ah yang dikutip pada Nusadaily.com, Kamis (01/04/2021).

“Kasus perceraian di Magetan selama pandemi ada sebanyak 1.254 kasus, itu dari data total cerai gugat dan talak,”

Meskipun perceraian adalah halal namun sangat dibenci oleh Aallah Sabda Nabi Saw., “Allah tidak menjadikan sesuatu yang halal, yang lebih dibenci oleh-Nya dari talak.” Dan perbuatan halal yang paling dibenci oleh Allah ialah talak.” (HR.Abu Dawud).

Sehingga bagi seorang suami hendaknya tidak mudah untuk mengucapkan talak kepada sang istri. Minimnya pengetahuan tentang agama dan ilmu pernikahan, menjadi faktor utama sepasang suami-istri bercerai. Persoalan yang terjadi dalam rumah tangga, jika dilandasi dengan aqidah yang lurus, maka masalah apapun akan dapat diselesaikan.

Namun sayang, Pernikahan yang harusnya menjadi ladang pahala bagi sepasang suami istri justru disistem kapitalis saat ini tak ayal menimbulkan banyak masalah yang berujung perceraian. Keluarga yang harus nya mencetak generasi masa depan harus pupus ditengah jalan. Padahal dari keluarga lah lahir para generasi mendatang.

Sistem yang memisahkan Agama dari kehidupan ini, menjadikan materi adalah asas dibangunnya sebuah keluarga, sehingga ketika mereka diterpa ujian ekonomi seperti saat pandemi maka disitulah cerai menjadi solusi. Ketika terjadi gesekan antara suami istri, yang sebernarnya bisa diselesaikan jika berpedoman dengan aturan islam, namun justru jalan pintas yang diambil.

Mekipun demikian jika memang terjadi persengketaan yang hebat sehingga mengharuskan keduanya berpisah maka islam pun mengatur sedemikian rupa agar tidak mendzolimi satu dengan yang lain. Dan Islam pun memerintahkan agar para suami menempuh segala langkah untuk menyelesaikan berbagai problem sehingga terhindar dari perceraian.

Sebagaimana firman Allah dalam QS An-Nisaa: 35):
“Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami istri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Sungguh islam agama yang luar biasa dalam mengatur masalah apapun, tak ketinggalan masalah suami istri. Dan jika faktor perceraian terjadi karena ekonomi, seperti disistem kapitalis saat ini. Suami mencari nafkah tidak mudah, ditambah istri dengan minimnya ilmu agama yang mudah teracuni pemikiran asing. Mudah tergoda dengan gaya hedonis, menuntut suami diluar kuasanya.

Maka hal seperti ini yang menyebabkan rapuhnya bangunan keluarga sehingga perceraianpun terjadi.Didalam negara Islam, negara berkewajiban membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya bagi para suami agar maksimal dalam pemberian nafkah kepada keluarga, negara senantiasa mengedukasi rakyat tentang pentingnya hubungan suami istri didalam keluarga, yang akan menjadi awal lahirnya para generasi.

Dan yang paling mengagumkan, negara menjamin dari rakyatnya enam perkara. Yakni sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, dan keamanan. Jika enam hal itu terpenuhi maka atas izin Allah perceraian dengan dalih ekonomi pasti dapat dihindarkan.

Namun sayang negara yang menerapkan aturan Islam saat ini belum terwujud sehingga mengharuskan dari berbagai pihak untuk mewujudkan nya agar masalah keluarga ataupun masalah-masalah yang lain dapat terselesaikan, karena sejatinya Islam adalah agama yang memiliki solusi dari berbagai masalah yang ada. Wallahu a’lam bishowab.

Tinggalkan Balasan