Siapa yang Bisa Menghentikan Penistaan Agama?

Oleh : Sera alfi Hayunda

(Aktifis Muslimah Millenial)

Kasus penistaan agama kembali berulang, baik berupa penghinaan terhadap Allah, Rasulullah ﷺ Alquran, maupun terhadap ajaran Islam. Seperti baru-baru ini sebuah Video yang di buat dengan forum diskusi zoom dengan durasi 3 jam 2 menit berisi penistaan yang di lakukan oleh Jozeph Paul Zhang yang mengaku sebagai nabi ke-26. Tidak berhenti disini, dia juga melakukan penistaan terhadap Nabi Muhammad dengan mengatakan Rasulullah sebagai nabi cabul. (www.inews.id 17/4/2021)

Tentu kita masih ingat juga bukan tentang apa yang dilakukan Ahok pada tahun 2016 lalu, hingga akhirnya menjebloskannya ke dalam penjara, atau apa yang dilakukan Sukmawati yang membandingkan Rasulullah Muhammad ﷺ dengan ayahnya. Yang sebelumnya, Sukmawati juga membuat puisi yang menyatakan bahwa wanita berkonde lebih indah daripada wanita bercadar dan suara kidung ibu Indonesia lebih indah dari suara azan.

Pada Agustus 2020 lalu pun juga terjadi hal yang sama. Dimana terjadi penyobekan dan pembuangan lembaran Alquran di jalanan Medan, yang dilakukan Doni IIrawan. Masih di bulan yang sama juga, yaitu Agustus 2020 juga terjadi penistaan agama oleh Apollinaris Darmawan, yang melakukan penghinaan melalui jejaring medsos. Dalam akun Twitternya, dia menyebut Alquran itu sampah, Nabi Muhammad ﷺ hidup dari hasil rampasan, membunuh, dan main perempuan. (Republika.co.id 12/8/2020)

Mengapa Penistaan Terus Terulang?

Kita bisa melihat, Undang-undang yang ada tentang Penodaan Agama, tidaklah efektif. Apalagi penegakan hukumnya yang sering tidak adil dalam mengadili. Seakan sudah lumrah rasanya kita dapati pelakunya lepas dari jeratan hukum hanya karena meminta maaf. Inilah yang terjadi jika suatu negeri menganut sistem demokrasi. Seseorang bebas melakukan apapun asal tidak orang lain yang terganggu. Tak oeduli itu melanggar syariat atau tidak. Karena memang itulah ciri khas sistem demokrasi yang otomatis melahirkan liberalisme atau kebebasan.

Dimana Liberalisme dalam sistem demokrasi kapitalis mengajarkan empat kebebasan, yaitu kebebasan beragama, berpendapat, kepemilikan, dan berperilaku. Empat kebebasan inilah jika di cermati menjadi biang keladi munculnya berbagai macam pemikiran dan tingkah laku yang menyimpang. Termasuk orang-orang yang berani menyimpangkan kebenaran Islam, menghina dan menghujat ajaran islam yang sudah pasti kebenarannya.

Adakah Solusi Tuntasnya?

Sebagai umat Islam tempat kembali segala permasalahan kita adalah dengan kembali kepada syariat Islam itu sendiri. Islam, sebagai agama yang sempurna pasti tidak akan membiarkan sebuah pemikiran yang bertentangan dengan Islam tersebar luas. Setiap orang bebas memberikan pendapatnya, asalkan itu tidak bertentangan dengan akidah dan hukum-hukum Islam.

Negara adalah institusi yang bertugas mewujudkan pandangan ini. Atas dasar itu, negara tidak akan menoleransi pemikiran, pendapat, paham, aliran atau sistem hukum yang bertentangan dengan akidah dan syariah Islam. Negara juga tidak akan menoleransi perbuatan-perbuatan yang menyalahi akidah dan syariah Islam. Dalam kasus penistaan agama pun, Islam dengan sangat jelas memposisikan dan menanganinya.

Maka, telah sangat jelas, mengapa kasus penistaan agama masih ada dan terus berulang. Di samping karena diterapkannya sistem demokrasi kapitalis, di sisi lain tidak adanya daya negara dalam memberikan sanksi yang membuat efek jera pada mereka, bahkan terkesan didiamkan dan dilindungi. Sangat berbeda apabila syariat Islamlah yang dinjadikan pandasan penyelesaiannya, maka biidznillaah tidak akan ada lagi yang berani menistakan agama.

Kita bisa mengambil pelajaran di masa Khilafah Utsmaniyah sanggup menghentikan rencana pementasan drama karya Voltaire yang akan menista kemuliaan Nabi Muhammad ﷺ. Setelah di ancam oleh Khalifah Sultan Hamid II Kerajaan Inggris pun ketakutan. Pementasan itu dibatalkan. Luar biasa bukan, maka jika ingin kasus penistaan agama tak kembali terulang maka jalan satu-satunya adalah dengan menerapkan hukum Allah dan Rasul-Nya secara kaffah dalam bingkai daulah. Karena hanya dengan menggunakan hukum islamlah para penista itu jera dan tak akan memberi peluang lahirnya penista di selanjutnya.

Wallahu a’lam bishshawab

Tinggalkan Balasan