Ramadhan Ternoda oleh Sang Penista Agama

Oleh. Ir. H.Izzah Istiqamah
(Praktisi Pendidikan)

Ramadhan adalah bulan yang mulia. Mestinya umat islam akan merasa khusuk dan tenang beribadah jika tidak banyak kegaduhan akibat para penista agama. Jozeph Paul Zhang mengaku nabi ke-26 membuat sayembara bagi siapa pun yang bisa melaporkannya melakukan penistaan agama. Aksinya viral di media sosial setelah rekaman videonya diunggah lewat Youtube.

Perbuatan buruk ini bahkan cenderung dilindungi. Sudah lama penistaan ayat al-Qur’an, ajaran Islam, simbol-simbol Islam bahkan ulama’nya dikriminalkan. Pelaporan masalah penistaan agama berjalan lambat dan bahkan berhenti ditempat, tidak ada kelanjutannya sama sekali.

Sudah hal biasa hukum tidak tegas kepada pelaku penista agama yang mengakibatkan perilaku penistaan dilakukan secara berulang tanpa ada sanksi yang tegas oleh penguasa, tidak dianggap sebagai penista agama oleh negara.

Inilah sistem demokrasi yang tidak tegas dengan penistaan agama yang berimbas maraknya perilaku keji dari orang-orang yang tidak mempunyai iman dalam beragama karena di dalam sistem demokrasi penistaan agama tidak dinilai sebagai kejahatan.

Sangat berbeda dengan sistem Islam, karena hampir tidak dijumpai penistaan agama. Didalam sistem islam para penista agama akan mendapatkan hukuman yang tegas dan keras. Yang berefek jera bagi para pelakunya, dan pendidikan untuk masyarakat secara umum.

Beragama adalah hak bagi setiap individu yang paling asasi yang dilindungi oleh hukum. Sistem khilafah akan menjaga kemuliaan agama. Saat terjadi penistaan agama, sistem islam akan bersegera menuntaskan permasalahan. Saat sistem islam diterapkan, ada seorang Muslimah yang dinodai kehormatannya oleh orang Yahudi Bani Qainuqa’ di Madinah, Nabi shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallam melindunginya, dan menyatakan perang kepada mereka, selanjutnya mereka pun diusir dari negara Madinah.

Selama 10 tahun lamanya, tak kurang 79 kali peperangan yang dilakukan oleh nabi, demi menjadi junnah [perisai] untuk Islam dan kaum Muslim. Selain dilakukan oleh Nabi, hal ini juga dilakukan oleh para Khalifah setelahnya. Khalifah Al-Mu’tashim di era Khilafah ‘Abbasiyyah, mendengar jeritan seorang muslimah yang kehormatannya dinodai oleh tentara Romawi dan segera menolongnya, melumat Amuriah, dan mengakibatkan 9000 tentara Romawi terbunuh, serta yang 9000 lainnya menjadi tawanan perang. Hal serupa juga dilakukan oleh Sultan ‘Abdul Hamid di era Khilafah ‘Utsmaniyyah.

Hal ini mereka lakukan, karena mereka sebagai junnah [perisai]. Umat Islam, Khilafah dan Khalifahnya sangat ditakuti oleh kaum Kafir, karena kekuatan akidahnya. Kekuatan akidah Islam ini menjadikan mereka siap hidup mulia dengan kemenangan atau mati syahid. Mereka melakukan peperangan bukan karena landasan materi, akan tetapi disebabkan oleh dorongan keimanan untuk meraih ridhaNya.

Karena kekuatan iman inilah, rasa takut yang ada di dalam hati mereka pun lenyap seketika. Semua ini menjadikan musuh-musuh islam kocar-kacir dan ketakutan luar biasa, ketika berhadapan dengan pasukan kaum Muslim. Raja Romawi berkata, “Lebih baik ia ditelan bumi ketimbang berhadapan dengan mereka, kaum muslimin.”

Inilah generasi terdahulu umat islam. Generasi ini hanya akan terlahir dari sistem Khilafah Islamiyyah. Umat Islam bukanlah umat yang akan berdiam diri ketika agama, risalah apalagi nabinya dihinakan oleh siapa pun. “Ada tuntunan sangat jelas. Orang yang menghina nabi akan mendpatkan hukuman setimpal yaitu hukuman mati.

Penghinaan terhadap nabi akan terus berulang, selama aturan yang diterapkan masih aturan manusia yang menganut azas kebebasan liberalisme sekularisme sistem demokrasi. Hanya dalam peradaban Islam, harkat, martabat, dan kepercayaan yang bersumber dari zat yang maha agung yaitu Islam akan tterlindungi Tanpa diterapkannya aturan islam dalam sistem khilafah, Islam akan terus menjadi objek yang dinistakan sebagaimana apa yang kita saksikan saat ini.

Tinggalkan Balasan