Silicon Valley Indonesia, Mampukah Membangkitkan Teknologi Indonesia ?


Oleh: Nina Mardiani

Pemerintah saat ini tengah fokus terhadap megaproyek baru, yaitu pembangunan bukit algroritma yang rencananya dibangun di Sukabumi Jawa barat, Indonesia. Proyek ini digadang-gadang akan menjadi seperti Silicon Valley nya Amerika. Tujuan proyek ini akan dipergunakan sebagai pusat pengembangan industri berbagai teknologi 4.0 serta sumber daya manusianya. Dua perusahaan swasta yaiatu PT. Kiniku Nusa Kreasi dan PT. Bintang Raya Lokalestari serta menggandeng salah satu BUMN bidang kontruksi yaitu PT Amarta Karya (Amka), bekerjasama membangun megaproyek ini dengan dana awal sekitar 18 Triliyun rupiah.

Namun sayangnya terdapat beberapa tantangan dalam pembangunan proyek ini, Menurut Instute Of Development Of Economics And Finance (INDEF). Nailul Huda menyatakan: Pertama, ekosistem R&D di Indonesia masih sangat rendah. Proporsi dana R&D hanya sekitar 0,24% dan 0,17% disektor bisnis, sehigga mengakibatkan ekspor manufaktur higt tech Indonesia masih sangat rendah yaitu sekitar 8,1% jauh tertinggal dengan Malaysia, Thailand, dan Vietnam yang sudah diatas 20-50 %. Padahal untuk membangun tempat khusus teknologi, diperlukan industri higt tech yang menjamur di Indonesia.

Kedua, UNESCO mencatat jika jumlah peneliti masih sangat rendah di Indonesia, yakni 216 peneliti dari 1 juta penduduk atau sekitar 3.5% dari jumlah penduduk yang ada. Selain itu Survey dari AFTECH menyatakan jika terdapat GAP talenta antara penawaran dan permintaan tenaga kerja sektor Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), sehingga 36% perusahaan memperkerjakan asing.

Ketiga, terdapat ketimpangan digital yang sangat terlihat. Sektor TIK saat ini hanya dinikmati oleh kalangan tertentu saja khususnya penduduk perkotaan dipulau Jawa. Data pusat statistik mencatat sebanyak 50% rumah tangga di perkotaan yang hanya menikmati internet sepenuhnya. Sedangkan untuk masyarakat pedesaan hanya 26.56% saja.

Disisi lain petani dipedesaan masih sangat gagap teknologi untuk memanfaatkan teknologi terbaru dibidang pertanian, padahal teknologi pertanian telah banyak berkembang. Jika dilihat dari berbagai sumber daya Indonesia sesungguhnya belumlah siap dengan adanya pembangunan bukit algoritma. Hal ini dibuktikan dengan ucapan Budiman Sudjadmiko (politisi PDI sekaligus pendiri inovator 4.0) bahwa proyek ini akan ditawarkan kebanyak investor baik dalam negeri maupun luar negeri dan sudah ada beberapa investor dari Eropa dan Amerika, ujarnya kepada (CNN indonesia 10/4).

Maka dapat disimpulkan jika proyek ini outputnya hanya akan melayani kepentingan investor. Apalagi kemajuan teknologi saat ini dikendalikan oleh prinsip KBE (knowledge-based economy) yaitu hasil riset teknologi yang diaplikasikan ke industri dan masyarakat untuk dikomersilkan dan memanuhi pasar dunia.

Jika cara seperti ini terus berlangsung, maka tidak akan membawa kemajuan yang hakiki pada bidang teknologi karena dukungan terhadap inovasi-inovasi teknologi dikebiri oleh para investor (pemilik modal) saja. Inilah kemajuan teknologi dalam ruh kapitalisme yang hanya menguntungkan para pemilik modal, adapun jika teknologi tersebut berdampak pada masyarakat, masyarakat hanya merasakan remahannya saja atau bahkan masyarakat harus membayar mahal untuk menikmati teknologi tersebut.

Hal ini sangatlah berbeda dengan islam, islam bukan hanya sekedar agama tetapi juga idiologi yang memliki aturan yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari termasuk pengembangan teknologi dan sains yang memiliki ciri pandang yang khas. Negara akan memberikan dukungan penuh untuk kesejahteraan masyarakatnya, kemulian manusia, serta agar menambag ketaatan kepada Allah SWT. Tujuan pengembangan ilmu sains dan teknologi mengacu pada aspek kehidupan seperti pertanian, industri, peternakan, teknologi digital seperti kecerdasan buatan.

Islam mewajibkan negara sebagai institusi/lembaga yang sepenuhnya melayani masyarakat bukan regulator seperti hari ini. Dalam sistem islam negara akan membangun pusat penelitian dan pengembangan (litbang) dengan kemampuan penelitian yang terintregasi baik dari lembaga penelitian negara, departemen-departemen dan dari perguruan tinggi yang sepenuhnya dikendalikan oleh negara.

Terdapat pula pusat riset dan pengembangan yang berada dibawah departemen kemaslahatan umat bidang pendidikan ada juga beberapa pusat tersebut merupakan subordinat dari universitas, orang-orang yang berkicibung dalam hal ini adalah para ilmuan, dosen universitas, dan murid yang memiliki kecerdasakan dibidang ini untuk melakukan riset dan pengembangan teknologi.

Tentunya kesemua ini didorong dan dibiayai oleh negara. Fungsi dari pusat penelitian ini untuk memproduksi kerja riset yang akurat dan terspesialisasi dalam berbagai bidang. Dalam bidang budaya akan berpartisipasi untuk mencapai pemikiran yang mendalam baik merancang rencana strategis jangka panjang ataupun pengembangan dakwah lewat kedutaan besar dan negosiasi atau dalam fikih atau ijtihat, ilmu bahasa, dan sebagainya.

Dalam ilmu sains akan selalu berusaha untuk menemukan alat baru dan cara baru dalam berbagai bidang implementasinya yang membutuhkan pendalaman riset (industri, nuklir, dan ilmu luar angkasa). Disisi lain negara akan membangun sistem industri strategis berbasis pada kebutuhan militer mutakhir untuk memenuhi kebutuhan rakyat yang sepenuhnya dikelolah oleh negara, hal ini bertujuan untuk menjamin keamanan pasokan aspek-aspek penting industri berupa bahan baku, teknologi, tenaga ahli, rancang bagunan, finansial, dan kemampuan untuk membentuk industri lengkap.

Dalam sistem islam, penyelenggaraan ini merupakan tanggung jawab negara sehingga negara berusaha untuk memenuhi tanggung jawab ini melalui dana dari baitul mal (pos kepemilikan umum), maka negara tidak perlu mengundang investor sehingga terwujud kemandirian dan kebangkitan teknologi dan sains suatu negara.

Tinggalkan Balasan