Menjaga Perbatasan Menjaga Kedaulatan

Oleh Nunik Umma Fayha

Dalam bahasa Arab, wilayah perbatasan disebut “Ribath”, suatu daerah yang menjadi batas-batas teritorial suatu komunitas. Atau bisa dikatakan daerah-daerah yang berpotensi digunakan oleh musuh dari luar untuk menyerang suatu negara (saidatun1924.blogspot.com).

Pentingnya penjagaan wilayah perbatasan berkaitan erat dengan kedaulatan. Otomatis, hal ini juga membutuhkan personil dan alat untuk menjaganya. Tentara dengan alutsista yang memadai menjadi garda terdepan yang dibutuhkan.

Posisi dan kondisi geografis Indonesia yang seluas 5.1 juta kilometer persegi laut dengan ribuan pulau di tengah perlintasan antar benua sangat strategis. Kandungan alamnya pun mengundang niat tetangga untuk ikut ‘mencicipi’ apa yang ada di dalamnya.

Sering kita dengar perahu atau kapal nelayan asing sedang asyik menangguk ikan di wilayah kita. Saking banyaknya peserta ‘bancakan’, ketika Bu Susi masih menjabat Menteri Kelautan, kapal-kapal asing yang tertangkap itu dibakar. Belum termasuk potensi lain seperti minyak bumi. Mengapa masih terjadi banyak penyusupan kapal asing ke wilayah perairan kita?

Penyusupan Perbatasan

Diberitakan bahwa ada Research Vessel atau Kapal Survei milik China yang melayari Selat Sunda. Kejadian ini bermula pada hari Rabu 13/01/2021 saat radar Bakamla menemukan sebuah target mencurigakan di wilayah Selat Sunda. Belakangan setelah diidentifikasi, kapal tersebut merupakan kapal survei/research vessel Xiang Yang Hong 03 milik China. Mereka mengklaim menggunakan Hak Lintas Alur Kepulauan yang termuat dalam UNCLOS.
(CnnIndonesia.com, 14/01/2021)

Sementara itu menurut antara/jpnn, Kantor Imigrasi Kelas I TPI Banda Aceh menahan 18 awak kapal asing berbendera Kepulauan Cayman dengan nama “La Datcha” karena masuk wilayah Indonesia tanpa izin atau ilegal.
Bisnis.com juga melansir masuknya 2 kapal tanker, MT Horse berbendera Iran dan MT Freya berbendera Panama di perairan Pontianak. Yang terbaru seperti dikutip dari viva.co, pada tanggal 2 & 3 April 2021 lalu, dua buah kapal yang teridentifikasi milik China sempat terkunci radar TNI AL.

Ibarat rumah, harus ada batas antara rumah kita dengan tetangga. Dengan batas jalan atau gang sekitar yang seharusnya saling dihormati. Apabila kita hendak melewati rumah atau halaman tetangga semestinya kita meminta izin sang pemilik, tidak asal “main selonong”. Begitu pun dengan negara. Setiap negara memiliki batas-batas yang seharusnya dihormati. Genial.id menyebut, Indonesia merupakan negara kepulauan yang berbatasan dengan 10 negara tetangga. Di antaranya: Australia, Filipina, India, Malaysia, Papua Nugini, Republik Palau, Singapura, Thailand, Timor Leste, dan Vietnam. Persoalan di kawasan perbatasan Indonesia tak hanya di darat dan udara, tetapi juga di laut.

Kompleksitas persoalan itu membuat kebijakan mengenai wilayah negara dan kawasan perbatasan sangat dinamis. Sebagai negara kepulauan, Indonesia sangat membutuhkan penjaga perairan dengan jumlah yang cukup memadai selain juga handal. Terutama ketika ada tetangga usil masuk ke wilayah RI tanpa permisi.

Alutsista Penjaga Negeri

Keamanan perbatasan harus ditangani secara serius karena menyangkut kedaulatan negara. Fungsi pertahanan untuk menjaga kawasan perbatasan harus dijalankan oleh TNI dengan terus meningkatkan pengamanan perbatasan melalui pemberdayaan anggotanya dan pembangunan pos-pos pemantau. Patroli, latihan militer gabungan dan pengadaan alutsista dalam menjaga perbatasan juga sudah diterapkan. (kompaspedia.kompas.id)

Kapal-kapal tentara, termasuk kapal selam menjadi andalan negara sebagai garda terdepan dalam menjaga kedaulatan negara. Setidaknya RI membutuhkan 12 kapal selam untuk menjaga wilayah perairan dalam yang sangat luas. Faktanya, kini TNI AL hanya memiliki 4 kapal selam. Setelah 1 kapal selam TNI AL (Nanggala 402) tenggelam saat latihan di utara pulau Bali beberapa hari yang lalu.

Kedaulatan negara merupakan hal terpenting dalam pelaksanaan hidup tata negara. Tanpa kedaulatan, negara lain yang lebih kuat mudah untuk menjajah dan menguasai. Posisi geografis dan potensi sumber daya alam RI yang melimpah ruah telah menjadikan RI target incaran bangsa asing dan aseng. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya penyusupan yang terjadi di wilayah perairan Indonesia, dari kapal nelayan hingga drone laut. Minimnya sarana penjagaan menjadi titik lemah negeri kita. Hal ini nampak dari seringnya penyusup baru diketahui setelah sudah masuk jauh ke wilayah negara ini.

Perang Tabuk dan Prinsip Menjaga Kedaulatan

Allah Swt. berfirman:

وَاَعِدُّوۡا لَهُمۡ مَّا اسۡتَطَعۡتُمۡ مِّنۡ قُوَّةٍ وَّمِنۡ رِّبَاطِ الۡخَـيۡلِ تُرۡهِبُوۡنَ بِهٖ عَدُوَّ اللّٰهِ وَعَدُوَّكُمۡ

“ Dan persiapkanlah olehmu segala macam kekuatan apa saja yang kamu miliki dari kuda-kuda yang ditambatkan untuk menggetarkan musuh-musuh Allah dan musuh-musuhmu….”(QS. Al-Anfal: 60)

Hukum menjaga perbatasan itu wajib. Apabila tidak ada kaum muslimin, baik tentara maupun sipil, yang menjaga daerah perbatasan negara mereka, seluruh kaum muslimin berdosa
Kita bisa belajar dari Perang Tabuk. Perang Tabuk terjadi pada masa Rasulullah di tahun ke-9 Hijriyah. Perang ini diinisiasi oleh gerakan penaklukan Romawi yang semakin merangsek masuk ke wilayah jazirah Arab. Rasulullah sebagai kepala negara menganggap gerakan ini membahayakan kedaulatan negara, karena sudah mengancam wilayah perbatasan.

Pasukan Tabuk dimobilisasi dalam kondisi musim kemarau yang sangat panas dan pohon kurma siap dipanen. Seperti diketahui, sebagian besar penduduk Madinah adalah petani kurma. Kurma produksi Madinah adalah kurma pilihan yang ditanam dan dijaga sebagai sumber penghasilan utama. Bisa dibayangkan, ketika hasil jerih payah selama berbulan-bulan siap dinikmati hasilnya, tiba-tiba harus ditinggalkan untuk menyambut seruan jihad. Hal ini pasti berat bagi yang belum memiliki keimanan yang kuat.

Pasukan Tabuk dikenal sebagai ‘Jaysul Usyra’ yaitu pasukan yang banyak menghadapi kesulitan. Kondisi jauhnya jarak perjalanan yang ditempuh dan kurangnya logistik hingga delapan belas orang hanya mendapatkan satu ekor unta untuk ditunggangi secara bergantian. Untuk mendapatkan air minum pun harus memakan dedaunan sekadar untuk membasahi bibir. Ini merupakan ujian yang sangat besar. Itulah perjuangan yang sebenarnya.

Perang Tabuk sejatinya adalah ‘show of force’ (unjuk kekuatan) kaum muslimin di hadapan negara adidaya Romawi yang sedang mabuk kemenangan pasca mengalahkan Persia. Mereka beranggapan bahwa negara baru yang berpusat di Madinah hanya sebuah negara kecil yang akan dengan mudah mereka gertak. Ketika pasukan Usyrah berangkat dengan gagah berani di bawah pimpinan Rasulullah selaku panglima, gentarlah pasukan Romawi. Mereka mundur, mengambil posisi aman dan memilih tidak menghadapi pasukan muslimin. Sementara itu, pasukan kaum muslimin tiba di Tabuk dan berkemah di sana menunggu pasukan Romawi yang tidak pernah datang.

Perang Tabuk bukan perang senjata tapi ‘Psy War’, perang urat syaraf. Rasulullah selaku panglima pasukan Usyra berhasil menunjukkan kekuatan dan kemampuan daulah dalam menjaga kedaulatan negara. Bahwa meskipun Madinah dianggap sebuah negara kecil, akan tetapi semangat jihad pasukan muslimin telah menggiriskan nyali pasukan adidaya Romawi. Kemenangan ini dimanfaatkan betul oleh Rasulullah untuk memperkuat pertahanan perbatasan negara. Selama berdiam sekitar 20 hari di Tabuk, beliau mengirim utusan ke berbagai kabilah Arab untuk membuat perjanjian damai. Proposal yang dibawa oleh utusan Rasulullah disambut baik. Mereka melihat kekuatan dan kebaikan negara baru. Bahkan mereka mengirim utusan untuk menyampaikan ketundukan dan kesediaan membayar jizyah.

Ibrah

Kemampuan prajurit TNI sudah diakui di luar negeri. Kelebihan mereka adalah kesungguhan dalam menjalankan tugas. Namun, kehebatan personil saja tidaklah cukup. Prajurit TNI membutuhkan alutsista yang memadai untuk mendukungnya. Yang terjadi selama ini, kapal TNI AL dalam posisi siap luncur tapi tidak memiliki bahan bakar. TNI AL harus berhutang pada Pertamina karena minimnya anggaran, seperti disampaikan mantan komandan Nanggala dalam sebuah podcast Akbar Faisal.

Kesalahan orientasi penguasa yang sibuk dengan pembangunan infrastruktur jalan, rencana pemindahan ibukota, dan lain-lain, sembari mengabaikan peningkatan kemampuan penjagaan perbatasan, harus segera diubah. Hal ini mengemuka dalam diskusi ‘Off The Record FNN’ antara Hersubeno Arief seorang jurnalis kawakan, dengan bang Arief pentolan Bravos Radio bertajuk : “Tak Mampu Beli Alutsista, Tapi Ngotot Pindah Ibukota.”

Perbatasan negara adalah wilayah yang bersinggungan langsung dengan negara lain. Apa yang dilakukan negara dalam menjaga perbatasan, menunjukkan kekuatan dan kedaulatan bangsa. Teladan Rasulullah akan pentingnya penjagaan perbatasan negara hendaknya menjadi pelajaran berharga bagi bangsa kita. Selama negara punya ‘concern’ untuk serius menjaga wilayah yang ditunjukkan dengan niat baik penguasa, negara akan memperoleh kewibawaan. Sehingga negara lain akan segan untuk berlaku curang dan melanggar batas sebagaimana terjadi saat ini.

Wallahu a’lam bishawwab.

Tinggalkan Balasan