Menangkal Covid di Pusat Perbelanjaan, Mungkinkah?

Oleh Ummu Aqila

Di tengah kondisi negeri dengan sebaran Covid-19 masih tinggi, beberapa hari terakhir publik dihebohkan dengan berita maraknya kerumunan masyarakat di pusat perbelanjaan. Ambil contoh, pusat perbelanjaan di Tanah Abang. Pasar Tanah Abang semakin disesaki oleh pengunjung saat menjelang lebaran. Berdasarkan data Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, jumlah pengunjung Pasar Tanah Abang pada Sabtu (1/5/2021) mencapai 85.000 orang. Sementara pada Minggu, jumlah pengunjung kembali bertambah hingga tembus 100.000 orang (kompas.com, 1/5/2021).

Selain kesadaran masyarakat yang masih minim tentang potensi penularan covid-19 di tengah kerumunan, regulasi atau kebijakan yang telah dibuat pemerintah seolah-olah “tidak mampu” menahan masyarakat untuk berbelanja.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Faktanya, masyarakat dihadapkan pada peraturan yang selalu berubah-ubah. Sehingga wajar saja jika masyarakat menilai ada inkonsistensi dalam peraturan yang telah dibuat oleh pemerintah.


Sebagai contoh, pemerintah melalui Satgas Penanganan Covid-19 telah mengeluarkan surat edaran nomor 13 tahun 2021 tentang peniadaan mudik Hari Raya Idul Fitri. Di sisi lain, pemerintah berupaya mengenjot ekonomi melalui sektor perdagangan. Sungguh ironis. Hal ini semakin menunjukkan ketidakseriusan upaya pemerintah untuk mengatasi penularan Covid-19.

Hendaknya kita memperhatikan pesan Nabi Muhammad saw.,

أَلاَ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالأَمِيرُ الَّذِى عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِىَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ »(رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

” Setiap dari kalian adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara adalah pemimpin atas rakyatnya dan akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin atas anggota keluarganya dan akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang isteri adalah pemimpin atas rumah tangga dan anak-anaknya dan akan ditanya perihal tanggungjawabnya. Seorang pembantu rumah tangga adalah bertugas memelihara barang milik majikannya dan akan ditanya atas pertanggung jawabannya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya atas pertanggungjawabannya.” (HR. Muslim).

Oleh sebab itu, sebaik apa pun regulasi penanganan pandemi, tapi jika dijalankan oleh pemerintah dengan setengah hati tanpa disertai kesadaran dari masyarakat, konsep ini akan ambyar. Akibatnya, upaya untuk mengatasi wabah pun akan memakan waktu yang cukup lama.

Wallahu a’lam bishawwab.

Tinggalkan Balasan