Kegembiraan Idul Fitri Tercerabut Karena Umat Tidak Memiliki Perisai

Oleh : Dewi Asiya
(Pemerhati masalah sosial)

Idul Fitri adalah hari kemenangan, hari kebahagiaan bagi semua umat muslim di seluruh dunia, karena hari itu adalah umat Islam telah menyelesaikan ibadah satu bulan penuh di bulan Ramadhan, maka layak mereka mendapatkan salah satu dari dua kegembiraan. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah Saw bersabda yang artinya; “Orang yang berpuasa akan meraih dua kegembiraan, kegembiaran ketika berbuka puasa/berhari raya, dan kegembiraan ketika bertemu Tuhannya” (HR Muslim).

Namun tidak bagi umat Islam yang tinggal di wilayah pendudukan seperti uighur, Rohingya, Palestina dan lain lain. Palestina pada akhir romadhan kemarin kembali Israil membombardir kota Gaza dan bahkan merebut Masjidil Aqsha yang sejatinya adalah milik kaum muslimin, sementara negara negara tetangga nya tidak ada yang peduli untuk membebaskan Palestina dari serangan Israel, semata karena sekat sekat nasionalism. .Suasanapun mencekam dan menakutkan.

Adapun di Cina muslim Uighur yang merupakan penduduk minoritas hingga saat ini terus mendapat tekanan dari pemerintah Cina dari partai komunis Cina.

Puluhan Masjid dihancurkan, sejumlah gambar satelit dan analisis visual oleh Earthrise Alliance kepada AFP menerangkan bahwa ada sekitar 36 masjid dan bangunan keagamaan lainnya yang dihancurkan oleh pemerintah setempat sejak 2017.

Sebuah sudut kota Hotan di Xinjiang cina dijumpai adanya reruntuhan puing puing bangunan masjid, disana ada masjid Heyitkah yang indah yang dulunya digunakan untuk sholat sekarang hanya tinggal kenangan,ungkap salah seorang penduduk Hotan.

Demikian juga di kota kuno Kashgar yang terkenal sebagai bagian dari jalur sutra dimasa lampau pun tidak terdengar lagi suara panggilan adzan,padahal dulu bergema di seluruh penjuru kota dan pernah menjadi kebanggaan para wisatawan.

Memang masih ada masjid yang masih berdiri dan bisa digunakan untuk sholat, namun para jamaah ketika mau masuk ke dalam masjid harus melewati metal detector. Dan melewati pengamanan yang sangat ketat hingga kondisinya sangat mencekam.

Inilah yang dilakukan oleh partai komunis yang berkuasa di negara tersebut, partai ini memandang bahwa agama adalah ancaman nyata, hal ini disampaikan oleh James Leibold, pakar hubungan etnis dan kebijakan China di La Trobe University. (AFP, CNN Indonesia Sabtu, 08/06/2019 )

Demikian lah kenyataan nya ketika kaum muslim sebagai minoritas, dimana pun dibelahan dunia,senantiasa mengalami penindasan dan tekanan, tidak ada pelindung bagi mereka, tidak ada yang menyelamatkan mereka.

Saat ini umat Islam bagaikan anak ayam yang kehilangan induknya, umat Islam dijadikan bulan bulanan umat yang lain, di tekan, ditindas, diusir bahkan dihancurkan dan dibunuh.

Berbeda jika umat Islam punya pemimpin, umat Islam akan memiliki kewibawaan menjadikan umat lain gentar, karena pemimpin ini akan mengayomi dan melindungi umat dari kekejaman musuh musuhnya, pemimpin ini akan menjadi benteng atao pelindung dari berbagai mara bahaya, inilah yang dilakukan oleh pemimpin kaum Muslimin,

Sebagaimana disebut dalam Hadist Rosulullah Saw bersabda yang artinya : ”Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)

Hadist ini mengandung makna bahwa imam / Kholifah adalah junnah (perisai) yakni pelindung yang melindungi umat nya dari berbagai macam ancaman. Hadist ini tidak hanya perlindungan disaat perang tetapi di luar perang dalam kondisi apapun imam akan melindungi umat nya ( kitab Ajhizat Dawlat al-Khilâfah, Syaikh Atha bin Khalil ) dijelaskan hadist ini mengandung tuntutan untuk mewujudkan pemimpin / imam yang akan melindungi seluruh kaum muslimin.

Dalam sejarah kepemimpinan Islam , fungsi junnah ini telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw di Madinah ketika seorang Yahudi Bani qoinuqo’ menodai kehormatan seorang muslimah, maka Rosulullah Saw sebagai pemimpin saat itu melindunginya dengan menyatakan perang kepada Yahudi dan qoinuqo’, hingga mereka diusir dari Madinah.

Demikian juga yang dilakukan oleh para kholifah setelah beliao, seperti yang dilakukan oleh Khalifah Al mu’tashim di era Khalifah ‘Abbasiyah, pada saat itu seorang wanita muslimah dinodai kehormatan nya oleh tentara Romawi, maka Almu’tashim melumat amuria hingga 9000 tentara Romawi terbunuh dan 9000 yang lainnya menjadi tawanan.

Sultan ‘Abdul Hamid di era khilafah ustmaniyah, menolak upaya yahudi untuk menguasai tanah Palestina. Semua ini menunjukkan adanya fungsi junnah yang dilakukan oleh para Khalifah

Bagaimana dengan pemimpin pemimpin negara saat ini, apakah mereka memberikan pertolongan kepada kaum muslimin yang ada dibelahan dunia yang lain? Ternyata kita saksikan mereka diam tidak bisa berbuat apa apa untuk bisa membantu saudara nya sesama muslim yang tertindas didzolimi oleh penguasa negaranya. Dari sini menunjukkan bahwa kaum muslimin saat ini butuh pemimpin yang mampu menjadi pelindung / perisai, dan itu hanya bisa didapatkan dari khilafah.

Allahu a’lam bish showab

Tinggalkan Balasan