Al-Quds dalam Genggaman Zionis, Apa Reaksi Negeri Islam?

Oleh Novia Khairunnisah

Palestina kembali memanas. Kronologi tragedi ini bermula pada akhir Ramadan (7/5/2021) ketika umat Islam memadati kompleks Masjid Al-Aqsa, guna menyambut malam Lailatul Qadar. Saat itu, pihak Israel menembakkan peluru karet dan granat kejut. Tak cukup sampai disitu. Serangan Israel juga dilakukan saat jamaah Masjid Al-Aqsa menggelar salat tarawih pada sabtu (8/5/2021).

Dilansir dari kompas.com, aksi kekerasan meningkat di Yerusalem dan tepi barat sejak seminggu sebelumnya. Akibatnya banyak korban yang berjatuhan terutama warga Palestina. Lebih dari 220 orang terluka pada bentrokan yang terjadi Jum’at (7/5/2021). Sekitar 121 warga Palestina terluka pada bentrokan Sabtu (8/5/2021) malam itu, akibat dari granat kejut dan peluru karet yang ditembakkan oleh pihak Israel.

Banyak pihak yang mengecam tindakan agresi Israel terhadap Palestina. Mulai dari pihak Koalisi Perempuan Indonesia untuk Al-Quds dan Palestina (KPIQP) hingga pihak OKI (Organisasi Kerja Sama Islam) juga turut serta mengecam tindak kekerasan yang dilakukan oleh polisi Israel terhadap warga Palestina di kompleks Masjid Al-Aqsa, Yerusalem. Tak hanya itu. Wakil Ketua Komisi VIII DPR Ace Hasan Syadzily turut mengatakan bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) mesti turun tangan.

Selama puluhan tahun warga Palestina di bantai dan di serang, demi ambisi Zionis Israel yang hendak merebut tanah milik warga Palestina yang sedari dulu menjadi hak milik sah penduduk Palestina. Namun, pihak Israel sendiri tetap mengusir penduduk Palestina dan memperluas wilayah kependudukannya. Hingga menimbulkan bentrokan demi bentrokan yang menimbulkan korban jiwa, baik korban terluka maupun meninggal.

Akibatnya, Dunia, terutama umat Islam, dibuat gempar. Jika kita berharap reaksi keras dari para Pemimpin di negeri-negeri Islam sendiri, yang kita temukan hanya pernyataan sebatas “mengutuk dan mengecam tindakan Israel terhadap Palestina”. Konflik pun tetap berlangsung tak berujung solusi. Tanpa solusi kemerdekaan mutlak bagi Palestina dan hengkangnya Israel dari wilayah-wilayah Palestina.

Untuk mengakhiri invasi Zionis Israel atas Palestina, tidak cukup dengan memberikan pernyataan mengecam dan mengutuk atas tindakan yang dilakukan oleh Israel. Karena kecaman dan kutukan sama sekali tidak membuat para penjajah tersebut menghentikan aksi teror mereka dalam menjarah hak milik warga Palestina.

Negara-negara muslim seharusnya menyadari bahwa bangsa Palestina sangat membutuhkan bantuan dari segi perlawanan untuk melawan pihak Israel. Jika hanya mengandalkan bantuan berupa makanan dan peralatan obat-obatan, hal ini belum cukup untuk memusnahkan penjajahan Israel diatas bumi Palestina.

Sebaliknya, hal ini bisa diibaratkan seperti memberikan makanan dan obat-obatan kepada orang yang rumahnya sedang dirampok. Adapun perampoknya, mereka tetap dibiarkan bebas berkeliaran mengambil barang-barang yang ada di dalam rumah hingga habis. Lalu mereka melukai dan membunuh satu persatu penghuni rumahnya.

Jika kita telaah lebih lanjut, dunia, khususnya Palestina, amat membutuhkan pihak penolong yang mampu mengusir kembali kaum penjajah. Mengusir penjajah hanya bisa dilakukan dengan cara berperang, melawan balik siapa saja yang ingin mengambil tanah milik warga Palestina. Ini juga yang pernah dilakukan oleh bangsa kita, Indonesia. Saat itu, para generasi pendahulu bersusah payah dalam berjuang untuk meraih kemerdekaan hingga titik darah penghabisan.

Sebaliknya, perjuangan dan pengorbanan semacam ini dipastikan tidak akan dilakukan oleh orang-orang yang hidupnya diatur oleh hukum yang bersumber pada sekularisme, pemisahan agama dari kehidupan. Aturan sekuler hanya mengandalkan nilai manfaat yang diperoleh ketika memberikan bantuan.

Demikianlah yang saat ini tampak dilakukan oleh pemerintah di negeri-negeri sekuler. Reaksi mereka atas agresi Israel terhadap Palestina hanya berakhir pada kata-kata “kecaman dan kutukan”. Diperparah dengan paham nasionalisme yang berkembang pesat dan sangat diagungkan oleh para penguasa di negeri-negeri Islam.

Nasionalisme telah menjadikan negara bangsa di dunia memiliki sekat sehingga dalam beberapa kondisi, negara-negara tersebut bersikap egois dan acuh tak acuh, enggan untuk memberikan bantuan kepada negeri yang membutuhkan pertolongan. Ketika mereka merasa tidak ada nilai manfaat yang dapat diperoleh.

Lain halnya jika Islam yang mengatur tata kehidupan dunia. Sebagai agama yang sempurna, Islam sangat memperhatikan bumi Palestina. Karena selama Islam berkuasa 13 abad lamanya, bumi Palestina tidak pernah tidak dibebaskan. Sejak masa Rasulullah, kekhilafahan Umar bin Khaththab, masa Shalahuddin Al-Ayyubi hingga Turki Utsmani.

Pada masa Kekhilafahan Turki Utsmani, bapak Zionis, Theodore Hertzl hendak membeli tanah Al-Quds. Namun, sang khalifah (sultan Abdul Hamid II) menolak keras permintaan Hertzl seraya berkata, “A-Quds adalah tanah kaum muslim yang dibebaskan dengan darah dan jiwa para Syuhada. Jika ia (zionis) ingin mendapatkannya secara gratis, ia bisa mendapatkannya ketika khilafah sudah tidak ada”.

Faktanya pun terjadi pasca keruntuhan khilafah terakhir di Turki. Hal ini berdampak pada wilayah-wilayah Islam yang sangat mudah dirampas dan dibagi-bagikan oleh kaum kuffar imperialis ke dalam wilayah-wilayah kecil. Umat Islam bagaikan anak yang kehilangan orang tua kandungnya. Tak terkecuali Palestina.

Jika tanah Al-Quds pernah dibebaskan oleh Rasulullah, Khalifah Umar, Shalahuddin, dan sultan Abdul Hamid II dari kekhilafahan Turki Utsmani, pembebasan Al-Quds selanjutnya insya Allah akan dilakukan oleh Khilafah ar-Rasyidah.

Yang menjadi pertanyaannya: apakah kita termasuk bagian dari yang ikut memperjuangkan terwujudnya Khilafah ar-Rasyidah ala Minhaaji an-Nubuwah itu?

Wallahu a’lam bishawwab.

Tinggalkan Balasan