Perisai Umat Islam yang Hilang

Oleh Shafna Aulia Yardha
Alumni FAI UMM

Islam telah mensyariatkan hari raya bagi umatnya. Salah satunya adalah hari raya Idul Fitri. Ketika hari raya telah tiba, umat Islam dapat merayakannya dengan perayaan khas sesuai dengan syariat agamanya. Islam telah menjelaskan bahwa hari raya merupakan salah satu syariat Islam yang agung. Tujuan hari raya disyariatkan oleh Islam ini adalah untuk memenuhi dan menyempurnakan kebutuhan jiwa dan fisik umat Islam.

Allah Swt. berfirman,

قُلۡ بِفَضۡلِ اللّٰهِ وَبِرَحۡمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلۡيَـفۡرَحُوۡا ؕ هُوَ خَيۡرٌ مِّمَّا يَجۡمَعُوۡنَ

“Katakanlah (Muhammad), ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.’ ” (QS Yunus: 58)

Hari raya Idul Fitri adalah hari kemenangan bagi umat Islam setelah 1 bulan berpuasa. Hal ini memiliki makna bahwa hari raya Idul Fitri membawa kebahagiaan. Namun, tak berbeda dengan tahun sebelumnya, kaum muslimin masih berada dalam kegamangan. Terhitung sudah dua kali umat muslim di seluruh dunia merayakan hari raya Idul Fitri di tengah pandemi covid-19.

Meskipun demikian, kondisi ini tak lantas mengurangi kesyahduan umat Islam sedunia dalam merayakan hari besar mereka. Sebagian kaum muslimin merayakannya dengan cara beragam. Ada yang melaksanakan halal bi halal secara online. Ada pula yang mengadakannya secara offline, tentunya dengan syarat menjaga protokol kesehatan. Meskipun di beberapa tempat di Indonesia, kesedihan yang dirasakan di hari raya masih kerap menyapa.

Cobalah kita juga tengok di belahan negeri Islam lainnya. Perayaan Idul Fitri terasa sendu bagi penduduk Palestina. Mereka telah mengalami tekanan dan kekerasan senjata akibat agresi militer yang dilayangkan oleh Israel di Yerussalem dan menyebar hingga ke kota Gaza sejak pertengahan bulan Ramadan lalu. Bahkan untuk menunaikan sholat pun, mereka sangat kesulitan. Mereka ibarat tawanan yang ditawan oleh para tentara Zionis yang siap dengan senjata di dekapannya. Akibatnya, hanya tersisa sedikit kemeriahan dan kegembiraan Idul Fitri di negeri yang dijuluki negeri para Nabi itu.


Begitu pula di kota Kashmir, India. Kasus Covid-19 di India melonjak tinggi sehingga membuat negara dengan jumlah penduduk tertinggi kedua di dunia itu hancur. Masjid-masjid tetap ditutup. Hanya adzan yang berkumandang melalui corong-corong masjid. Sementara jamaah melakukan salat di rumahnya masing-masing. Bukan hanya itu. Muslim Kashmir masih dibayang-bayangi rasa takut atas tindakan brutal militer India yang diduga melakukan tindak kekerasan dan penyiksaan pada muslim di Kashmir, bahkan berujung pada pembunuhan, pemerkosaan dan pembantaian.

Kondisi kaum muslimin di Palestina dan Kashmir tidak jauh berbeda dengan kondisi kaum muslimin Uighur di China. Setelah meruaknya kabar penyiksaan muslim Uighur oleh China, pada hari raya kemarin media China memberitakan bahwa muslim Uighur telah melaksanakan salat Id dan perayaan hari raya Idul Fitri. Mereka tidak tanggung-tanggung menampakkan video muslim Uighur yang sedang melaksanakan salat Id dengan tenang.

Namun hal itu disanggah oleh presiden asosiasi Australia Turkistan Timur. Dia mengatakan bahwa video itu adalah sandiwara dan propaganda yang dibuat oleh pemerintah China. Menurutnya, pemandangan ritual semacam itu tidak lagi terlihat sejak tahun 2016. Kini apa yang sedang terjadi pada muslim Uighur di hari bahagianya juga tidak diketahui.

Sebenarnya apa yang menyebabkan umat Islam menjadi lemah dan tak berdaya di hadapan para petinggi negerinya sehingga keadaan kaum muslimin di hampir seluruh dunia menjadi terpuruk?

Jika kita mampu mengkritisi dan menganalisa lebih dalam lagi, pangkal penyebab utama semua itu adalah ketiadaan institusi Islam yakni Khilafah Islamiyah.


Tanpa adanya khilafah di tengah umat, tidak ada yang bisa melindungi akidah kaum muslimin dari serangan musuh-musuh Islam, tidak ada yang melindungi kehormatan agama Islam dan umatnya.


Yang ada, umat Islam akan hidup menderita tanpa pemimpin yang adil. Hal ini terjadi berulangkali hingga detik ini. Mirisnya, diskriminasi terhadap khilafah tengah dilayangkan oleh pihak-pihak yang memusuhi Islam.

Padahal, khilafah adalah ajaran Islam dan kewajiban yang harus ditunaikan oleh umat Islam. Eksistensi khilafah adalah kewajiban yang harus ada di tengah-tengah umat. Tanpa khilafah, umat Islam tidak akan memiliki pelindung.


Salah satu fungsi khilafah adalah untuk melindungi umat. Hal ini telah dijelaskan di dalam sabda Rasulullah saw., “Imam adalah perisai. Di belakangnya umat berperang, dan kepadanya umat berlindung.” (HR. Muslim) .

Maka, selama khilafah belum tegak berdiri sebagai “junah” (perisai) bagi umat, sudah menjadi kewajiban bagi kita semua, kaum muslimin untuk terus memperjuangkan keberadaannya.

Wallahu a’lam bishawwab.

Tinggalkan Balasan