Duka Palestina di Hari Raya

Oleh: Amirah Shalihah

Palestina, tidak asing nama negara ini di telinga kaum muslimin. Dimanapun berada pasti mengenal negara yang satu ini. Akhir- akhir ini Palestina kembali mencuat dikancah dunia. Lagi dan lagi, Palestina merintih kesedihan disaat kaum muslimin lainnya berbondong, menghiasi maupun berburu amalan di 10 hari terakhir di bulan suci Ramadhan. Bergembira menyambut hari Raya Idul Fitri 1442 H. Sedikitnya 178 warga Palestina mengalami luka-luka dalam bentrokan dengan polisi Israel di Masjid Al-Aqsa, Yerusalem (7/5).

Polisi Israel menggunakan peluru karet dan granat kejut terhadap warga Palestina yang melemparkan batu ke arah mereka. Kecaman dari berbagai pihak pun mencuat. Komisi VIII DPR mengecam tindak kekerasan yang dilakukan polisi Israel terhadap warga Palestina di kompleks Masjid Al-Aqsa, Yerusalem. Wakil Ketua Komisi VIII DPR Ace Hasan Syadzily mengatakan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) harus turun tangan (detik.com, 9/5/2021).

Kecaman tidak hanya dari dalam negeri saja. Koalisi Perempuan untuk Al Quds tidak tinggal diam atas kebrutalan aparat Israel yang mengintimidasi muslim Palestina. Israel diminta menghentikan aksi represifnya. Mereka ikut menyampaikan pandangannya dalam aksi damai secara virtual pada Ahad (9/5). KPIQP bersama sejumlah ormas perempuan lain di Tanah Air seperti PP Salimah, PP Muslimat Mathlaul Anwar, PP Muslimat Al Washliyah, hingga Muslimat DDII (viva.co.id, 9/5/2021).

Begitu pula kecaman terlontarkan oleh beberapa selebritis, pemain sepakbola, presiden turki erdogan dan lain sebagainya.

“Birruh, Biddam, Nabdikaya Aqsa!” keluhan tersebut makin sering kita dengar disela gemuruh tangis bibir kecil tanpa dosa di langit palestina. Jeritan memanggil kaum muslimin pun terdengar “aina ya muslimin? aina salahuddin?” Tiga kali panggilan itu terdengar di puncak al Aqsa.

Serangan Israel terhadap jamaah tarawih masjid Al Quds dan pengusiran terhadap warga syaikh jarrah tidak layak direspon sekedar dengan kecaman oleh OKI. Mustahil pula diselesaikan dengan resolusi baru oleh PBB. Sesungguhnya mereka (saudara) kita di Palestina membutuhkan kekuatan tentara kaum muslimin yang membela kehormatan agama dan nyawanya.

Mereka membutuhkan sosok layaknya Salahuddin. Layaknya khalifah mu’tasim yang saat salah seorang muslimah terhinahkan oleh yahudi, langsung di sambut dengan di kerahkannya pasukan untuk menyelamatkan muslimah tersebut. Yaitu setelah surat peringatan tidak di respon oleh pemimpin yahudi. Kami rindu sosok layaknya Umar bin Khattab, Nuruddin Zanki, Namzuddin Ayyub maupun Khalifah Abdul Hamid II yang mengarahkan tentara terakhir pelindung Al Aqsa. Tentara Khilafah Utsmany tahun 1917 untuk mempertahankan tempat suci ini dari serangan Inggris.

Dimanakah tentara kaum muslimin saat ini? Kelak di akhirat kita akan ditanyakan keberadaan kita disaat kaum muslimin yang lain tertindas, terdzolimi, diserang dari segala arah atas ketidakadilan dunia hari ini. Kondisi dimana jauh dari penerapan Islam. Jangan sampai kita memilih diam layaknya setan bisu hanya berharap pada kehidupan sekuler hari ini. Bahkan mencoba untuk menghalangi kebangkitan Islam sebagai rahmat bagi seluruh Alam. Na’udzubillahi min dzalik.

Tinggalkan Balasan